Tags

,


Kalau Anda pernah membaca buku kumpulan cerpen erotik ‘Little Bird’ karya Anais Nin seperti pernah saya ulas di sini, maka Anda akan paham bagaimana isi ‘Delta of Venus’. Saya tak ingin berkisah luas tentang isi ‘Delta of Venus’, tapi lebih menyoroti kata pengantar buku ini yang diambil dari petilan diari Nin.

Pengantar ini berkisah tentang latar belakang bagaimana karya-karya erotik Nin dan kawan-kawannya dihasilkan. Juga bagaimana cerita erotik mulai berkembang di Amerika saat itu hingga diterima menjadi karya sastra seperti sekarang.

A book collector offered Henry Miller a houndred dollars a month to write erotic stories. It seemed like a Dantesque punishment to condemn Henry to write erotica at a dollar a page…  (April 1940)

Nampak bahwa di masa itu cerpen-cerpen erotik masih dianggap tabu dipublikasikan untuk umum. Mereka yang menyukai cerpen bergenre ini harus memesannya langsung kepada si penulis. Lalu siapa pelanggan dan pembaca cerita erotik itu?

Henry told me about the collector. They sometimes had lunch together. He bought a manuscript from Henry and then suggested that he write something for one of his old and wealthy clients. He could not tell much about his client except that he was interested in erotica. (December 1940)

Merasa membayar cukup mahal, penikmat kisah erotik pun merasa berhak menentukan gaya penulisan seperti apa yang dia mau, sesuai seleranya.

When Henry asked what the patron’s reaction to his writing was, the collector said, ‘Oh, he likes everything. It is all wonderfull. But he likes it better when it is a narrative, just storytelling, no analysis, no philosophy.’ (December 1940)

Maka gaya tulisan Henry Miller yang kaya analisa dan nilai filosofi harus ditanggalkan ketika dia menulis cerita-cerita erotik. Ini yang membuat Henry merasa tidak nyaman, menjadi bukan dirinya sendiri. Kelak Nin terlibat dengan proyek penulisan kisah-kisah erotis ini, atas saran Henry Miller, dan dia menerima ‘paksaan’ yang sama tuk menulis sesuai selera pembaca kisah erotik, sebagaimana dituliskannya dalam diari:

When Henry needed money for his travel expenses he suggested that I  do some writing in the interim. I felt I did not want to give anything genuine, and decided to create a mixture of stories I had heard and inventions, pretending they were from the diary of a woman. I never met the collector. He was to read my pages and to let me know what he thought. Today I received a telephone call. A voice said, ‘It is fine. But leave out the poetry and descriptions of anything but sex. Concentrate on sex.’ (December 1840)

Anais Nin dan penulis lainnya seperti George Barker, Caresse Crosby, Robert Duncan, dan Harvey Breit Virginia Admiral menerima tawaran menulis erotis demi uang. Namun di dalam hati, mereka tak setuju dengan aturan menulis ‘semata-mata deskripsi seks’ sebagaimana dituliskan Nin dalam diarinya,

I was sure the old man knew nothing about the beautitudes, ecstasies, dazzling reverberations of sexual encounters. Cut out the poetry was his message. Clinical sex, deprived of all the warmth of love – the orchestration of all the senses, touch, hearing, sight, palate; all the euphoric accompaniments, background music, moods, athmosphere, variations – forced him to resort to literary aphrodisiacs. (December 1840)

Nin menyadari kekuatan cerita erotik yang belum digali dan dikembangkan masa itu. Cerita erotik yang nyastra, sebagaimana diakuinya dalam diarinya,

I had a feeling that Pandora’s box contained the mysteries of woman’s sensuality, so different from man’s and for which man’s language was inadequate. The language of sex had yet to be invented. The language of the senses was yet to be explored. DH Lawrence began to give instinct a language, he tried to escape the clinical, the scientific, which only captures what the body feels. (February, 1941)

Bersama kawan-kawan penulisnya Nin menjelajah bidang-bidang sensualitas yang belum tergarap dalam sastra erotik. Seorang homoseksual menulis andai dia perempuan, seorang pemalu menuliskan pesta orgi, dan sebagainya. Nin melukiskan George Barker, seorang master penulis puisi Inggris, yang mau menulis kisah erotik agar bisa mabuk. Kemiskinan, dan perut laparlah kata ‘madame of snobbish literary house of prostitution’ ini yang membuat penulis berbakat mau menulis kisah erotik. Imajinasi menjadi liar saat lapar, jadi bukan karena hasrat melampiaskan kebutuhan seksual.

Nin pun menyadari bahwa selama ini hanya ada satu gaya penulisan sastra erotik, yaitu dari pandangan lelaki. Ada perbedaan makna bagaimana lelaki dan perempuan memaknai hubungan seksual. ‘Woman, I thought, were more apt to fuse sex with emotion, with love, and to single out one man rather than promiscuous.” Itu sebabnya, kelak Nin merasa wajib menerbitkan kisah-kisah erotiknya sendiri agar diketahui umum. Agar khalayak tahu perempuan memiliki bahasa sendiri untuk melukiskan pengalaman seksual lewat pandangannya.

Sedikit Isi Buku

Ada 15 cerpen bertema erotik dalam buku ini. Hampir semua berkisah tentang pengalaman erotik sang tokoh. Kisah yang dihasilkan dari fantasi penulisnya.

Pada ‘The Hungarian Adventurer’ digambarkan seorang lelaki tampan bangsawan abad pertengahan, yang menghabiskan hidupnya bertualang cinta dengan para perempuan pemujanya. Tak merasa cukup liar, lelaki ini mengakhiri masa tuanya dengan berpetualang cinta bersama dua putri kandungnya. Lukisan adegan dalam kisah ini yang nampak ‘beda’, misal pada adegan permainan ‘jari’ di dalam selimut.

Sedang ‘Mathilde’ mengisahkan seorang perempuan muda Prancis yang memulai petualangan cintanya. Melepas pekerjaannya sebagai pembuat topi, Mathilde berlayar menuju Lima. Di kota Amerika Latin itu dia memuaskan diri dalam rumah bordil sekaligus rumah candu. Dia terlibat affair dengan banyak lelaki, dan berakhir di tangan seorang pecandu yang memasukkan pisaunya ke lubang vagina gadis itu.

Dalam ‘The Boarding School’ Nin menggambarkan asrama Jesuit abad pertengahan. Ketika membayangkan seorang gadis adalah dosa, maka lelaki muda yang penuh gairah ini memuaskan nafsunya pada kawan mereka dengan ciri-ciri fisik lebih feminin, mirip perempuan.

Pada ‘The Ring’ kembali Nin mengawali imajinasinya di antara lelaki Indian di Peru yang jatuh cinta kepada perempuan berdarah Spanyol. Cinta mereka terlarang karena orangtua si gadis tak bakalan menyetujuinya. Namun, pasangan muda ini ingin mengabadikan cintanya lewat sebuah cincin sebagai lambang kesetiaan. Cincin ini tak dikenakan si lelaki berdarah Indian di tangannya, tapi di bagian tubuhnya yang tersembunyi. Bagaimana kisah ini mengalir? Silakan baca bukunya sendiri.

Dalam ‘Mallorca’, sebuah kota tempat George Sand dan Chopin pernah tinggal, Nin berkisah tentang asmara yang dimulai pada sebuah gua tersembunyi di suatu malam. Bagaimana gadis-gadis tempat itu yang puritan akhirnya mengenal sentuhan lelaki dan bercinta di kegelapan malam, dalam gua-gua tertutup, di antara kecipak air tempat mereka berenang. Membaca kisah ini, sejenak saya teringat fantasi tempat yang dituturkan Marguerita Yourcenar dalam bukunya ‘Cerita dari Timur’.

Masih banyak lagi kisah erotik menarik dalam buku ini. Kisah yang berawal dari penuturan ala fantasi, bukan semata vulgar untuk menjelaskan bagaimana hubungan badan berlangsung. Jadi membaca kisah Nin tak akan menghasilkan sensasi mirip membaca novel-novel petualangan panas Nick Carter, tapi menimbulkan gairan akan imajinasi yang lain. Bisa sangat liar bisa menusuk halus. Seuah fantasi seksual yang kadang tak pernah kita pikirkan. Selamat membaca Delta of Venus!