Perempuan itu menyimpan seluruh hidupnya dalam sepasang bola matanya yang kelam.  Kesedihannya, sukacitanya, silamnya yang hitam, pengalaman mengerikan, kekecewaannya, dan semua perasaannya.

Pernah perempuan itu dibuat kesal hati. Sekali, dia hanya terdiam. Kedua kali, tetaplah dia bungkam. Ketiga kali, masih tak bersuara. Pikirnya, biarlah kutahan sendiri semuanya. Marahku, kesalku, piluku. Apa pedulinya orang lain tahu, hanya akan membuat mereka semakin menggebu.

sumber gambar : karya august rush from http://www.jocr8.com

Namun hatinya bukanlah sungai yang mampu bermuara ke laut. Ketika semua menjadi tak tertahankan, jiwanya pepat, maka muntahlah kawah angkaranya. Dia berteriak, menjerit, memaki, mengumpat,  mengutuk, menghardik. Tapi tak satu suara pun keluar. Mulutnya hanya komat-kamit, urat-urat di lehernya biru menengang, wajahnya sebentar merah, ungu, bahkan menghitam. Nafasnya memburu. Matanya nyalang. Namun tak terdengar apapun dari mulutnya. Hanya desis, desis ‘ssssssss…’

Semakin dicobanya berteriak, semakin angin yang keluar. Udara kosong. Hingga tahulah dia suara telah menghianatinya. Maka pecahlah tangisnya. Tangis yang mengalir macam bah. Tangis yang menghentak bagai gemuruh ombak. Tangis yang meluruhkan semuanya. Tangis panjang dan menyiksa. Menggantikan keringat dan air seni. Tangis yang menguras tenaga, membuat matanya bengkak sekepalan tangan. Meninggalkan noda hitam keunguan hingga berminggu-minggu. Tangis yang hanya mampu disamarkan dengan kacamata hitam besar. Tangis itu nyaris membutakan matanya.

Kelak, ketika bengkak matanya telah menghilang, lebam ungu di pelupuk matanya memudar, perempuan itu mengalami kesadaran baru. Tangis bisa membunuh. Maka ketika menonton berita buruk di teve, dia hanya berucap, ‘Semoga yang ditimpa kemalangan, diberi kesabaran dan kelapangan hati.’ Ketika ada anggota keluarga yang dikasihinya meninggal, dia pun berdoa, ‘Semoga Tuhan menerima amal kebaikannya dan memasukkannya ke suarga.’

Tatkala mendengar orang yang dicintainya menikah dengan karibnya, dia pun mendoakan kebahagiaan mereka berdua. Di saat dia difitnah dan dikabarkan buruk, hanya helaan nafasnya yang terdengar. Karena dia tahu yang melakukan hal itu mungkin sangat berbahagia atas tindakannya. Mungkin malah itu satu-satunya cara untuk meraih kebahagian. Jadi apa salahnya membuat orang yang memusuhinya berbahagia?

Ketika ada anak remaja diperkosa dan dibunuh, dia  pun berdoa, ‘semoga kehidupanmu di sana lebih ramah dan membahagiakan daripada di bumi.’ Lalu airmatanya jatuh menitik. Hanya setetes. Setetes yang membuat embun malu memandangnya.