Tags

,


Saya sudah jatuh cinta kepada kepulauan tempat Wallace lama berdiam beberapa saat sebelum pesawat Batavia Air yang saya tumpangi mendarat di Kota Ternate. Betapa tidak, dari atas pesawat, saya memandang tiga gunung mengerucut terhampar indah di laut. Mulai-mula Gunung Maitara dan Kiematubu di Tidore, lalu Gunung Gamalama di Ternate. Di kaki gunung yang merupakan keliling luar pulau bermunculan rumah-rumah yang semarak. Penuh mengelilingi garis pantai. Di Tidore, deretan perumahan hanya satu dua lapis. Di Ternate bisa berlapis-lapis, membentuk cincin yang melingkar-lingkar hingga ke atas, menunjukkan betapa padatnya penduduk pulau satu ini.

“Saya harus mengunjungi ketiganya, entah bagaimana caranya,” tekad saya dalam hati. Saya berharap waktu yang singkat tak menghalangi niat saya menyambangi ketiga pulau itu.

Begitu pesawat mendarat, saya segera meluncur ke Kampung Makasar, menuju kediaman keluarga M. Adnan Amal. Kebetulan salah satu putri mantan kepala Jaksa Tinggi di Ambon ini kawan saya. M Adnan Amal dikenal dengan buku-buku Maluku yang ditulisnya. Diantaranya Kepulauan Rempah-Rempah, dan Ternate-Tidore. Sementara tiga dari tujuh anaknya juga penulis. Yang paling terkenal si Nukila Amal dengan novelnya Cala Ibi.

Saya beruntung bertemu putri Adnan Amal,  Amelia Amal. Perempuan ini  menghabiskan belasan tahun waktunya tinggal di Ternate. Dia paham betul kondisi Ternate. “Kau bisa menghabiskan Ternate hanya dalam satu hari,” katanya bersemangat.

“Satu hari? Benarkah Ci?” tanya saya. Ci adalah panggilan hormat terhadap perempuan di bumi Maluku utara.

“Tentu saja cukup satu hari. Kau akan ron gunung Ternate.” Lagi-lagi saya terkesima dengan penjelasannya. Ron gunung adalah bahasa pasar yang digunakan untuk menjelaskan perjalanan mengelilingi pulau.

Jangan bayangkan ron gunung dengan mobil atau taksi. Taksi hanya sedikit di Ternate. Kalau ada pun enggan mereka mengangkut kita ron gunung. Perjalanan mengelilingi pulau bisa mendaki menurun. Kadang mendekati arah gunung, kadang menyusuri pantai. Kadang jalanan melebar, kadang menyempit. Pilihan terbaik tentu saja naik ojek. Ojek di Ternate amat banyak sehingga kota ini dikenal dengan sebutan kota ojek. Cukup menyewa ojek seharian kita bisa mengelilingi pulau dan berhenti di tempat-tempat wisata menarik. Ongkosnya sekitar Rp 80.000.

Ron Gunung

Menurut Ci Melly –panggilan akrab Amelia Amal- Ternate berasal dari kata tara no ate, yang berarti hinggap atau menghampiri. Sepintas pandang, pulau ini mirip  gunung yang hinggap di lautan. Ternate merupakan satu dari empat kerajaan masa lalu yang masuk Moluku Kie Raha. Yang lain adalah Tidore, Jailolo, dan Bacan.

Ternate tidaklah luas. Dengan diameter sekitar 40 km, butuh sekitar dua jam mengelilingi pulau ini naik motor tanpa henti. Namun jika sekejap-sekejap singgah di kawasan wisata, paling tidak butuh seharian untuk memutari pulau ini.

Pagi itu, jelang matahari terbit, Hamsir, si tukang ojek pesanan sudah datang menjemput saya. Kami membicarakan tempat mana saja yang harus saya kunjungi sepanjang rute ron gunung sambil sarapan nasi plus lauk ikan kuah kabur hasil masakan Ci Melly. Paska perut kenyang, kami pun segera berkendara, keliling pulau melawan arah jarum jam.

Tempat pertama yang kami singgahi adalah Benteng Tolukko. Di antara banyak benteng peninggalan Portugis dan Belanda di Ternate, Tolukko paling terawat. Taman hijau asri menghampar sekitar benteng. Setelah mendaki anak tangga, kita akan dituntun menuju puncak benteng. Dari sini  kita bebas memandang  laut lepas, tempat Pulau Maitara dan Tidore berada, sekaligus Gunung Gamalama berdiri dengan kokoh dari arah berlawanan.

Tolukko dibangun oleh Francisco Serao, panglima Portugis tahun 1540, untuk menghadapi gempuran pasukan dari Kerajaan Tidore yang didukung Spanyol. Dalam sejarah disebutkan, persaingan sengit terjadi antara Ternate dan Tidore. Persaingan yang berkaitan dengan perdagangan rempah-rempah. Ternate didukung oleh pasukan Portugis, sedang Tidore oleh Spanyol. Ketika Portugis kalah oleh Belanda, Benteng pun dikuasai Belanda dan diperbaiki pada 1610.

Dulu, di bawah benteng ada terowongan bawah tanah yang menghubungkan  langsung ke laut lepas. Lewat terowongan ini kapal-kapal Ternate menyelamatkan diri dari pengejaran armada laut Spanyol, termasuk pengejaran dan gempuran Pangeran Nuku dari Tidore selama berbulan-bulan. Sayangnya, terowongan bawah tanah ini tak bisa lagi saya nikmati karena sejak renovasi tahun 1996 bangunan ditutup.

Puas mengambil gambar benteng, saya melanjutkan perjalanan. Perhentian saya berikutnya Batu Angus. Saya tak begitu tertarik dengan hamparan bekas lava gunung berapi yang membatu dan menghitam selama ratusan tahun di sini. Selain terbiar, banyak ditumbuhi alang-alang yang tak sedap dipandang. Mata saya justru terpikat oleh sebuah rumah makan, Bacalepo namanya. Rumah makan berarsitektur Bali namun menyediakan makanan khas Ternate sekaligus makanan internasional. Sayang, rumah makan ini baru buka pukul sepuluh pagi. Lain waktu pasti saya mampir, janji saya.

Dari Batu Angus saya menuju Pantai Sulamadaha. Sunyi pantai pagi itu, hanya tiga bocah bermain di situ. Tak jauh dari pantai berpasir hitam ada Pulau Hiri. Buat yang suka snorkeling bisa menyewa perahu menuju Hiri. Pemandangan laut di sana lumayan juga katanya. Pulau Hiri merupakan tempat menyepi keluarga Sultan Ternate. Istilah Jawanya tetirah. Namun pulau ini terbuka bagi masyarakat umum.

Lepas dari Sulamadaha, motor melaju menyusuri desa-desa, melewati masjid antik di tepi jalan, juga deretan cengkeh dan pala yang dijemur sepanjang jalan desa. Saya beruntung berada di pulau ini ketika musim panen cengkeh dan pala, sehingga menyaksikan bermeter-meter jemuran cengkeh, pala, dan fuli di jalan.

Penduduk Ternate memanen sendiri pala dan cengkeh, memrosesnya dan menjemurnya sendiri, sebelum mereka kumpulkan di koperasi, menunggu datangnya juragan dari Jawa. Sungguh berbeda dengan kebiasaan di Jawa dan Bali yang petani cengkehnya lebih suka mengupah buruh pemetik. Saya berhenti, mengabadikan aktivitas mereka. Mereka begitu ramah menyambut saya, namun teramat pemalu untuk bergaya di depan lensa kamera. Saya mesti membujuknya dulu sambil berbual ngalor-ngidul.

Sempat saya melalui hamparan kebun kelapa yang menghijau. Seorang bapak sedang mengumpulkan kelapa di sudut, sedang di sisi lain para sapi mengunyah rumput segar. Lalu saya masuki kawasan Danau Tolire kecil berbatasan dengan pantai. Karena bentuknya yang tak menarik, saya tinggalkan saja, menuju emaknya, si Danau Tolire Besar.

Motor harus mendaki nuju Tolire Besar, menikung jalan setapak yang sempit. Wangi pohon Jambulang menyambut saya, disertai derai udara yang mendingin. Saya sedang berada di punggungan Gunung Gamalama.

Ada legenda di balik terciptanya Danau Tolire Besar dan Kecil, tentang bapak yang menyetubuhi anaknya. Keduanya lalu diusir penduduk kampung. Si bapak menjadi Danau Tolire Besar, si anak Tolire Kecil. Ada lagi kisah dari mulut ke mulut yang mengatakan sepasang buaya putih tinggal di Danau Tolire Besar. Penduduk pun mengeramatkan danau ini. Pernah seorang turis nekad membawa sampan tuk arungi danau. Turis itu lenyap. Namun kawan saya, seorang pendaki, pernah turun menuju anak danau. “Aku disambut penjaganya dengan parang, mau dibunuh,” kisahnya beberapa waktu lalu.

Saya pandang dasar danau dari ketinggian. Airnya menghijau, pantulkan pepohonan lebat sekitar. Nampak garis gemercik air membias panjang. “Itu buayanya Kak, sedang berenang,” kata tukang ojek. Jarinya menunjuk garis panjang di permukaan air. Via lensa tele, saya ikuti kemana buaya berenang. Iseng si tukang ojek melemparkan sebuah batu ke arah danau. “Lihat, batu tak sampai ke bawah!” serunya. Benar juga. Batu itu membentuk setengah lingkaran, seolah ada gaya tolak dari bawah sana.

Lepas dari sensasi magis Danau Tolire, kami menuju Rumah Makan Florida. Bukan hanya karena lapar, tapi juga ingin mengabadikan pemandangan Pulau Maitara dan Tidore seperti yang tergambar di uang kertas seribuan. Wah, ternyata lokasi ini amat terkenal. Hampir semua wisatawan nusantara menuju tempat ini hanya sekedar berfoto meniru pemandangan di uang seribu versi terbaliknya. Sambil motret, saya pesan ca kangkung dan ikan asam pedas. Tak lupa, es teh lemon. Mau pesan aer guraka, kok aneh rasanya. Karena udara mulai panas. Jangan-jangan air jahe bercampur gula merah yang ditaburi biji halus kenari itu malah membuat badan tersengat.

“Kak, setelah ini kita akan menyusuri deretan benteng kuno,” Hamsir  memperingatkan saya. Matahari sudah tinggi, bukan waktu yang ideal untuk memotret. Tapi saya tergelitik menyelesaikan perjalanan.

Maluku Utara kaya akan benteng. Di Ternate sendiri ada tujuh benteng. Bukan hal aneh mengingat di sinilah dulu pusat imperialisme berawal. Baik Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris merasa perlu memperebutkan daerah penghasil rempah-rempah ini.

Kami lalu melewati Benteng Kastela, Benteng Kota Janji, Benteng Kalamata, dan berakhir di Benteng Oranje di pusat kota. Setiap benteng memuat kisah dan sejarahnya sendiri. Di Benteng Kastela alias Gamlamo misalnya, dikenal sebagai tempat pembunuhan Sulta Khairun oleh Portugis. Sultan anti monopoli cengkeh ini diperdaya, diundang jamuan makan oleh Antonio Pimental, lalu dibunuh dengan kejih saat lengah. Mayatnya diikat batu, lalu dibuang ke laut. Kelak benteng ini dikepung rakyat Ternate selama lima tahun, membuat armada Portugis kelaparan dan akhirnya terbirit-birit lari dari bumi Ternate.

Kawan saya kepala Balai Arkeologi di Maluku Utara, Laode Aksa, berkisah bahwa sebagian besar benteng di sini berhantu. Selain letaknya yang terpencil, jauh dari keramaian, juga benteng-benteng ini menyimpan sejarah panjang kekejaman di masa lalu. Pembunuhan penduduk lokal dan rajanya, penyiksaan penduduk yang melawan, semua dilakukan di benteng.

Saya suka Benteng Kalamata. Luas, langsung menghadap ke laut lepas. Melihat bentuknya yang mengarah ke Maitara dan Tidore, seharusnya banyak meriam di setiap sudutnya. Sayang tak satu pun saya temukan meriam di sini. Meriam justru nampak utuh dan banyak di Benteng Oranje yang berada di tengah kota. Sayangnya, kawasan sejarah ini jadi markas hunian keluarga tentara. Kondisinya pun tak terawat, kotor, dan kumuh.

Saya akhiri perjalanan dengan singgah sejenak di Masjid Sultan dan Kedaton Sultan Ternate. Sekedar mengambil gambar. Lalu menghabiskan waktu menunggu petang di Swering, pantai di depan Kampung Makassar, sambil menikmati pisang bakar bertabur kenari. (sempat dimuat di majalah pesona/bersambung)