‘Dia membenciku, Bu’

Benci toh tak membunuhmu, Nduk.

‘Tapi dia memakiku, mengata-ngataiku, memfitnahku’

Semua itu tak menghancurkan tubuhmu kan, nduk. Hanya kata-kata, takkan berpengaruh pada kemampuan fisikmu.’

‘Tapi merusak jiwaku, Bu.’

Kalau kau tak tahan, pergilah. Cari kehidupan yang baru, di tempat lain. Lihatlah bagian lain dunia yang indah, tuk sembuhkan jiwamu.

Maka gadis itu memulai petualangannya. Mencari tempat-tempat yang indah, tuk sembuhkan luka hatinya. Dia pun menjajal gunung, mendaki hingga ke puncak tertinggi. Dari puncak gunung, pada ketinggian, dia melihat betapa kecilnya makhluk di bawahnya. Betapa eloknya kota dan desa di tempat jauh. Betapa hijaunya hutan dan pepohonan. Dan betapa awan-gumawan melingkar-lingkar, sejangkauan tangannya. Seolah dia berada di negeri nan jauh.

Gadis itu tak ingin pulang. Tinggal selamanya di puncak gunung sungguh menyenangkan. Namun .alam melarangnya. Diturunkannya hujan yang deras, petir, dan gemigil udara agar gadis itu turun.

Turun, lari ketakutan gadis itu. Kembali ke dataran, lembah berjuta lumut dan jamur, dalam hamparan karpet kehijauan. ‘Aku mau tinggal di sini saja. Segala yang hijau dan lembut, menghangatkan jiwaku,’ kata si gadis.

Namun alam tak memperkenankannya tinggal. Jelang pagi embun turun. Membuat segala yang hijau basah. Lumut menjadi licin tuk dipijak, rerumputan dan semak mengeluarkan durinya. Kaki telanjang gadis itu pun terluka. Dia tergelincir kala bergerak. Akhirnya, si gadis kembali berjalan. Tinggalkan padang lelumutan.

Gadis sampai di tepi laut. Aneka warna ikan dan terumbu karang menyemanak matanya. Gadis pun turun ke samudra, berenang dan menyelam hingga ke tempat paling dasar. Dia bercengkerama dengan ikan-ikan, bersalaman dengan koral dan karang. ‘Kalau begitu, aku di sini saja. Mereka ramah kepadaku,’ pikirnya.

Lagi alam tak merestu. Paru-paru si gadis tak tahan terus-menerus direndam air. Dia mulai kehabisan nafas. Gadis pun muncul ke permukaan. Lalu meninggalkan laut yang penuh keindahan dan kebaikan.

Sedih gadis itu berjalan. Beragam keindahan sudah dilihatnya, dirasakannya, dinikmatinya. Namun tak satupun mampu jadi rumahnya. Dia terus berjalan, hingga bersua seorang penggembala. Masih bocah. Sedang duduk di bawah pohon kelapa. Menunggu sapi-sapinya yang merumput di depannya.

Bocah itu sedang membaca. Sebuah buku tergolek di pangkuan. Suaranya lantang  menerjemahkan huruf dan kata dari bukunya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya si gadis.

“Seperti kau lihat, aku sedang mencintai pekerjaanku,” jawab si bocah singkat, lalu melanjutkan bacaannya.

Karena dilihatnya si gadis tak beranjak dari tempatnya, si bocah pun menambahkan. “Aku membaca buku kala sapi-sapiku merumput.”

“Kau tak bosan?”

“Kenapa bosan? Aku membaca buku yang berbeda setiap hari. Dan aku akan membawa sapi-sapiku ke padang rumput yang berbeda jika rumput segar di padang ini habis.”

“Kau tak pernah memikirkan pekerjaan lain?”

Bocah itu nampak berpikir. Agak lama. Lalu menjawab, “Mungkin aku akan menjadi petani seperti ayahku kelak. Tapi petani tak bisa membaca buku setiap saat.”

Gadis itu teringat ibunya. Terkenang saat-saat indah mereka berdua. Memasak kue dan penganan. Lalu dia akan menjinjingnya, menjualnya berkeliling kampung. Hingga maki itu datang, benci mereka menumpah, dan dia merasa mau muntah.

Tiba-tiba dia rindu ibunya. Rindu yang melebihi ketakutannya akan dibenci, dimaki-maki, atau difitnah. Semua tuduhan kini baginya tak berarti lagi. Dia telah melihat banyak, merasakan banyak, dan banyak belajar.

 ‘Aku harus pulang. Sudah saatnya,’ pikirnya sambil bergegas meninggalkan padang.

*sumber gambar diambil di sini