Tags

,

Ternate sungguh kaya akan hotel dan penginapan, dibadingkan dengan daerah lain di Maluku Utara seperti Tidore, Halmahera, Bacan, atau Morotai. Pulau ini juga paling ramai, gempita penduduknya, dan mungkin juga paling modern. Wisatawan dengan mudah menemukan hotel di dekat kota yang menghadap langsung ke pantai seperti banyak hotel di daerah Bastiong, diantaranya Hotel Bukit pelangi dan Hotel Archie. Sedang yang suasana tenang bisa tinggal di Hotel Pantai Indah dekat Pantai Sulamadaha.

Ada satu tempat menginap paling eksotis pemandangannya di punggung Gunung Gamalama, yaitu Villa  Aer Tege-tege. Dari sini kita bisa memandang keindahan Ternate nun di bawah sana. Villa milik Pak Nurdin ini berupa bangunan dua lantai, berada di tepi jalan kecil yang diapit kebun cengkeh dan pala. Villa ini selalu full booked, nyaris susah mendapatinya kosong tamu.

Sudah eksotis alamnya, eksotis pula cita rasa makanan di Ternate. Nyaris tak ada hidangan yang lepas dari kenari dan rempah-rempah. Apapun masakannya, usahakan selalu ada kenari, pala, fulli, dan cengkeh. Begitu motto orang asli Ternate. Kenari digunakan sebagai pengganti kemiri. Kadar minyaknya yang tinggi dianggap mampu mencerdaskan otak kita. Tak percaya?

“Kau tahu Ary, Orang Makian itu cerdas-cerdas karena setiap hari makan kenari. Pulau mereka ditumbuhi kenari dimana-mana,” kata Ci Melly. Suku Makian memang tergolong menonjol di berbagai bidang. Paska pembumihangusan pala di masa lalu oleh Belanda, penduduk Pulau Makian lalu beralih dengan menanam kenari. Dalam kondisi normal, pohon kenari berfungsi sebagai peneduh pohon pala. Orang Ternate suka memasak ikan dengan pala dan fuli, karena kedua bahan tersebut dapat menghilangkan bau amis.

Hampir semua makanan khas Ternate berbahan utama ikan. Ini karena ikan laut segar sangat mudah didapat dan murah. Ikan segar seukuran paha dihargai hanya Rp 10.000. Saya sempat mencicipi berbagai masakan olahan ikan, mulai dari Ikan kuah soru, ikan kuah kabur, hingga ikan kuah asam di restoran yang ada di Hotel Bella. Ikan bakar di rumah makan Pondok Ratu dan Teratai juga sangat sedap. Sementara rumah makan Florida dikenal dengan masakan ikan garu rica, ikan maskiring kayu, ikan pampis, ikan kui, atau ikan cabu tulang.

Kalau sempat coba juga gohu ikan, yaitu ikan mentah yang dihancurkan, lalu diaduk-aduk pakai bumbu sebelum disantap. Mirip makanan Jepang. Satu hal yang khas dari ikan di sini adalah dagingnya gurih, kenyal, dan agak manis. Mungkin karena ikan di Laut Ternate belum tercemar bahan kimia.

Ada juga sayur selain ikan, seperti sayor tujak kusi dari jantung pisang dan sayor lilin santan. Namun sayuran ini tak sesedap sayuran di Jawa menurut saya. Mungkin karena saya kelahiran Jawa yang biasa dimanja sayur dengan aneka bumbu dan empon-empon khas Jawa.

Sayur ikan enak disantap dengan pupeda (Malut dan Papua) atau papeda (Ambon), sagu yang dibuat mirip bubur panas-panas. Sore hari, lepas hujan, coba nikmati aer guraka, yaitu wedang jahe dengan  gula aren warna hitam. Bandrek Maluku ini dihidangkan dengan taburan kenari tumbuk. Minum aer guraka membuat badan menjadi bugar dan tidak gampang lelah.

Ketika berjalan kaki keliling Ternate, Tidore, atau kepulauan Maluku Utara lainnya, saya kerap minum es kacang di siang yang menyengat. Es kacang memang minuman khas Maluku Utara. Kita bisa pilih minum es kacang brenebon susu atau durian. Karena saat itu belum musim durian, saya hanya memesan es kacang brenebon susu.

Sebetulnya banyak tempat kongkow yang enak dan menyajikan makanan khas Ternate. Sebut saja Platinum Resto and Karaoke, yang lokasinya tepat di depan mall baru. Restoran ini menghidangkan aneka makanan seperti popeda, kasbi/ubi rebus pedas, aneka masakan cakalang, aer guraka, juga es kacang. Bagi yang ingin menu nusantara ada gado-gado, ayam bakar, dan lainnya. Tarif sekali makan sekitar Rp 25.000 – Rp 40.000 tergantung menu yang kita pesan.

Sambil menikmati matahari terbenam, kita bisa duduk-duduk di warung tenda sepanjang pantai Jalan A. Yani. Di sini kita bisa memesan es kelapa, es kacang, soto bersaudara atau penganan ringan lainnya. Makan disuguhi pemandangan laut, kapal dan perahu yang hilir mudik, pemandangan Pulau Maitara, Tidore, dan Halmahera, sungguh memabukkan.

Sementara yang suka jajanan ringan bisa jajan di sekitar swering. Sejak petang hingga menjelang subuh, banyak pedagang membuka lapaknya. Mulai martabak padang, pecel ayam, soto lamongan, sop saudara. Juga aneka gorengan dan minuman. Umumnya pedagang di sini adalah para pendatang yang mengadu nasib di Ternate. Dijamin pulang dari berjalan-jalan di Ternate, badan bakal lebih melar namun bugar. Kebanyakan makan ikan dan kenari sih! (pernah dimuat di majalah pesona/bersambung)

Advertisements