‘Datanglah, aku ingin ketemu.’

Ini undangan kelima belas kali lelaki itu. Undangan yang belum juga dijawabnya. Terlalu pilu untuk berkata-kata. Hatinya terlanjur patah. Dulu. Dan masih kini.

‘Aku rindu kamu. Seperti dulu itu. Datang ya, kujemput nanti.’

sumber gb: newsimg.bbc.co.uk

Undangan kedelapan belas. Tak membuatnya luruh. Walau matanya sempat basah. Sudah lama berlalu. Kemana rindu itu mendulu? Kalah dengan amuk dan amarahnya kah? Benarkah dia masih marah kepadanya? Lelaki yang telah membuangnya, menistanya, bertahun lalu? Bagaimana pula aku masih marah, sedang memikirkannya pun sudah tak punya tenaga. Lelaki itu, mirip sangit di pantat panci.

‘Aku pernah salah, meninggalkanmu. Maafkan aku. Kini baru kusadar, arti dirimu bagiku. Datanglah, aku mau ketemu.’

Hatinya hampa. Semua rasa meluap sudah. Tak ada yang tersisa. Ampas benci. Ampas cinta. Juga ampas maaf. Perempuan itu hanya menatap kosong surat yang diterimanya. Terus menatap hingga huruf-hurufnya kabur dari pandangan.

‘Datanglah. Aku sakit. Kuingat janjimu dulu, kau mau merawatku bila kusakit. ‘

Perempuan itu menghela nafas. Maukah dia menemuinya. Dia memang pernah berjanji dulu, dulu sekali, saat mereka bersama. Tapi apa arti sebuah janji sekarang. Ribuan janji lelaki itu kepadanya, ternyata menguap ditelan udara. Layakkah dia masih menagih janjinya?

‘Aku sakit. Kumohon temui aku.’

Perempuan itu mengasah pisau. Setajam-tajamnya. Sekilat-kilatnya. Besok dia akan menemui lelaki itu. Tiga malam perjalanan. Jauh dan melelahkan.

‘Kau tak membunuh mantan lelakimu dengan pisaumu, kan?’ tanya sahabatnya.

Perempuan itu mengerling. ‘Kau pikir aku mau menyia-nyiakan sisa hidupku di dalam penjara?’

Lima hari berlalu. Seminggu. Dua puluh hari. Perempuan itu menghilang ditelan bumi. Hingga sebuah berita di koran ‘merah’ memuat gambarnya, dengan tajuk huruf merah besar. ‘Seorang Perempuan Menikam Jatungnya Hingga Mati.’ Di sampingnya, bersimpuh seorang lelaki yang melolong. Menjerit. Meraung. Menyesali perbuatannya yang terakhir kali. Menyakiti perempuan itu sekali lagi. Hanya, kali ini tanpa ampun.

Sahabatnya terbelalak. Tak percaya. Lalu mendesah. ‘Kau memang takkan menghabiskan hidupmu di penjara.’

*sumber rinspirasi:  berita koran  ‘memorandum’ tahun 1996, tentang perempuan yang menancapkan pisau ke jantungnya sendiri, setelah ditinggal suaminya kawin lagi. RIP

Advertisements