Tags

,

Saya selalu mencari kerajinan yang khas di setiap daerah yang saya kunjungi. Di Maluku Utara saya hendak mencari kain tenun ikat yang disebut rapidino. Konon, orang Butonlah yang memperkenalkan kerajinan tenun ini kepada kerabat kedaton Ternate. Rapidino mulanya dibuat dari serat nanas dan dikerjakan dengan alat gedhogan secara tradisional dan turun temurun. Tenun yang dihasilkan lebarnya sekitar 60 cm, sehingga hanya cukup buat sarung dengan sambungan di tengah. Sayangnya, kini sulit sekali menemukan pengrajin rapidino, nyaris punah! Kalau toh ada, belum tentu berproduksi.

Untungnya dii Ternate, ada sebuah galeri yang menyediakan kain tenun sekaligus batik dengan motif khas Ternate. Arleon Craft nama galeri itu. Pemiliknya, Suhartono, lelaki asal Jawa Tengah yang beristrikan perempuan setempat. Galeri itu berada di Jalan Tobenga, Kastuarian. Jalan menuju ke sana harus mendaki pegunungan dan agak terpencil.

Di galeri ini kita bisa menemukan tenun ikat bermotif tradisional seperti burung bidadari, anggrek wayabula Morotai, cengkeh dan pala, mayang kelapa, dan lainnya. Juga dijual batik dengan motif khas Ternate. Harga kain tenun sepanjang 3 meter ini bervariasi, mulai dari Rp 900.000-Rp.1.000.000 hingga Rp 3.000.000 buat tenun bermotif benang emas dan perak. Sedang batik tulis Ternate dijual antara Rp 750.000 hingga Rp. 1.000.000. Pembeli umumnya wisatawan asing dan tamu kesultanan.

Bagi yang ingin membeli suvenir kecil yang ringan dan gampang dibawa, bisa belanja kerajinan besi putih. Aneka bentuk cincin, gelang, kalung, medali, salib yang dibuat dari bahan khusus, rongsokan pesawat, kapal, tank, bahkan meriam hasil perang dunia kedua yang tenggelam di laut sekitar Pulau Morotai. Tak percaya?

Setelah berjalan menembus Jalan Busoiri, sampailah saya di depan  minimarket Gloria. Di situ berjajar kios yang menjual aneka perhiasan dari besi putih ini. Seorang lelaki tinggi besar gempal gendut berkulit gelap muncul dari belakang, mengejutkan saya. Dialah Ihsan Sangaji, si penjual.

“Benar ini dari besi putih di Morotai? Tanya saya ingin tahu.

“Benarlah. Sebagian besar perhiasan ini saya ambil langsung dari Morotai. Di sana banyak pengrajinnya,” katanya ramah. Namun jangan salah pilih, ada juga perhiasan made in Surabaya. Besi putihnya memang dari kapal karam di Morotai, tapi pengerjaannya di Surabaya.

Dari semua perhiasan, medali-medali peninggalan pasukan perang dunia kedua yang menarik saya. “Sebagian medali ini ditemukan di dasar laut, di dalam kapal selam, ada juga yang teronggok di dalam tanah, bersama tulang belulang pemiliknya,” jelas Ihsan panjang lebar, membuat bulu di tangan saya meremang.

Karena bernilai sejarah, medali asli ini bernilai jutaan rupiah. Sebuah medali yang diukir dengan sebuah nama, mirip nama orang negro, menarik perhatian saya. Itu medali peninggalan anggota pasukan Infantri 31, yaitu pasukan sekutu pertama  yang dipimpin Mayor Jendral John Person. “Semakin banyak deretan nama, makin mahal harganya,” jelas Ihsan.

Menurut Ihsan ada orang yang khusus mengoleksi medali perang dunia seperti ini. Medali ini kemudian dijual ke luar negeri. Medali yang kosong dijualnya seharga Rp 400.000. Sedang cincin aneka bentuk itu dijual mulai harga Rp.30.000. Sedang gelang keroncong satu lusin dijual sekitar Rp. 25.000, kalung besar dengan mata rantai ala bajak laut Rp. 130.000. Sedang bandul kalung bergambar salib yang saya taksir hanya Rp.10.000.

Ada beberapa cincin bermata mutiara yang menarik. Kata Ipal –panggilan akrab Ihsan- mutaranya diambil dari kerajinan mutiara Langere-ngere, masih sekitar Morotai.

Setelah memborong gelang, salib, dan sebuah cincin, saya pun pamit. Kini saya berjalan kaki menuju Jalan Nukila dan Gamalama. Di sepanjang tepi jalan berjajar toko yang menjual aneka kue kering khas Maluku Utara. Mulai biskuit dan bagel kenari merk Noni Agil, bagel gula rempah kacang, kue bertabur kenari, garangpati alias abon ikan, sagu aneka rasa –mulai rasa strawberi, coklat, hingga rasa sagu asli- hingga kenari goreng. Juga sirup pala merk Ake Gura yang sedap itu. Bahkan saya temukan minyak kayu putih yang diangkut dari Pulau Buru dan Madu Xanana.

Mulanya Mbak si penjaga toko tak mengijinkan saya memotret barang dagangannya. Namun setelah saya membeli banyak kue, dibiarkannya saya jepret sana jepret sini. Sebetulnya sagu aneka rasa ini tak lebih lezat ketimbang sagu aneka bentuk yang saya beli di pasar tradisional. Selain sagu, ada juga gula merah yang dibungkus daun woka maupun trasi yang dibungkus daun yang sama. Sayang gula merah dan trasi hanya bisa kita dapatkan di pasar. Rasa trasinya.. wow, sangat beda dengan trasi asal Kampung Air Bontang atau trasi asli Sidoarjo. Mungkin karena bungkus daunnya itu.

Menurut si penjual, penganan kue khas di tokonya adalah hasil buatan ibu-ibu yang tinggal di Kampung Felajawa. Mayoritas penghuni kampung ini orang keturunan Arab, padahal dulu ini merupakan sentra hunian orang Jawa yang pertama. Entah kemana orang Jawa tergusur. Mungkin mereka terpusat menjadi pedagang makanan sekitar Swering. Apapun itu, keliling Ternate bikin puas jiwa raga juga kenyang perut. Tak terasa dompet pun todek tompes (kempes, kata orang Madura). (pernah dimuat di majalah Pesona edisi November 2011 dengan sedikit editing)

Advertisements