Tags

, ,


Oooh.. jambulang

Wangimu hantarkan aku pada yang mati

 Nyaris tengah hari saat itu. Terik menyengat kepalaku. Jalanan di luar kota Ternate sepi. Motor yang kutumpangi masih melaju putari pulau. Sesaat kemudian mendaki, menyerbu sejuk yang menggigit kiri tubuhku. Sementara panas membakar kananku. Tak salah. Kanan adalah laut, dan kiri menjulang pebukitan memusat tuju puncak Gunung Gamalama.

“Kita masuk sini kan, Kak?” tanya tukang ojek itu, si lelaki muda yang nampak kepayahan. Melihat bentuk tubuhnya yang kecil kurus, dan tindaknya yang lamban, kupikir dia jenis pemalas. Tak terbersit riang dalam ucapnya. Tak nampak gembira. Seolah hidup adalah beban

“Oke..,” jawabku bergegas. Sebuah papan nama menerobos mataku. ‘Selamat Datang Di Objek Wisata Danau Tolire’.

Motor kami mulai mendaki, menerobos jalan berumput. Lalu si pemuda menghentikan motornya, tepat di bawah pohon yang berdaun lebat, bercabang gerumbul, dengan bunga-bunga putihnya jatuh memburai di tanah. Semerbak baunya.

Kami lalu melangkah, meniti undak-undakan batu. Sunyi tempat itu. Nyaris tak ada manusia kecuali langkah kami berdua. Kubaui udara. Aroma segar, lembut, dan harum bercampur menjadi satu. Magis ditimpa udara dingin.

“Di sini angker, Kak. Kita harus menjaga sikap,” nasihat si pemuda sungguh-sungguh. Roman mukanya begitu serius, campuran beku dan ngeri. Matanya tajam menusuk mukaku. Seolah ucapnya adalah sabda. Aku tertawa kecil.

Aku suka padang ini. Pebukitan rimbun penuh pohon nyaris semacam. Sunyi bernyanyi. “Pohon apa ini? harum sekali!”

Si pemuda menyebutkan sebuah nama. Jambulang. Kupikir itu semacam jambu air. Setidaknya bunganya mengingatkanku akan bentuk bunga jambu air. Tapi buahnya kecil-kecil dan sama sekali tak mirip jambu-jambuan. Dan wangi bunganya itu, mengingatkanku akan para arwah yang sedang menari.

“Tempat ini erat berkait dengan kematian. Kakak tahukan riwayat Danau Tolire besar dan kecil?” tanya si pemuda lagi. Aku mengangguk. Sempat kudengar kisahnya dari mulut Ci Melly kawanku. Tentang bapak yang menodai anak kandungnya, lalu turunlah kutuk itu. Desa mereka terbenam, menjelma menjadi dua danau, Tolire besar untuk si bapak dan Tolire kecil buat si anak.

Incest. Sejak dulu selalu terlarang di dunia manusia. Karena manusia bukan binatang. Namun banyak incest tercatat dalam sejarah. Banyak aib yang disembunyikan atau terbongkar kemudian. Aku mengulum tawa berbaur sinis. Kuparuti tepi danau. Berputar-putar di pinggirnya. Rumput liar tumbuh menyubur di situ. Juga ilalang. Seolah halang manusia agar tak laju, jatuh ke danau.

Sempat kami lalui Danau Tolire kecil sebelum menuju kemari. Bentuknya mirip muara yang dikungkung air laut. Letaknya memang di dekat laut, di pantai sekitar 200 meter dari tempat ini. Sungguh tak mengesankan dibanding danau bapaknya ini. Danau si anak kecil, nyaris tak beda dengan laut. Mereka dipisahkan oleh bakau pendek satu dua sela menyela. Panas pula udaranya. Heran aku bagaimana si anak mampu memukau si bapak, lalu incest.

Kuselami hijau danau nun di bawah sana. “Kalau Kakak jatuhkan batu ke bawah, batu itu tak pernah sampai di permukaan air.” Gumam si tukang ojek mengejutkanku.

“Oya?” aku melangkah mundur, agak kaget. Walau sebetulnya kisah itu pernah juga kudengar.

“Coba saja,” katanya, sambil menjulurkan beberapa batu kecil ke tanganku. Dia sendiri melempar batu ke bawah. Benar, tak kulihat air memercik. Ajaib juga. Jadi kemana larinya batu itu? Tak mungkin mengambang di udara. Tapi kemana? Tak kudengar suara kecipak air. Kucoba lempar beberapa batu. Hal yang sama terjadi. Kupaksa ambil batu besar, masih hal sama. Tak ada kecipak air. Si pemuda tersenyum puas memandangku.

Masih gumun, kukeluarkan kamera, siap mengokang sekitar. Tak banyak waktuku di sini. Aku mulai berjalan, nyaris ke puncak tepi.

“Kak, jangan terlalu menepi. Nanti jatuh. Tanah di pinggir kerap jatuh tiba-tiba.” Lagi-lagi dia memperingatkanku sambil menarik tasku. Aku tertawa.

Kenapa anak ini selalu cemas di sekitar sini, pikirku. Mulai laparkah dia? Atau mengantuk? Mungkin juga jemu! Tak banyak lapangan kerja menjanjikan di pulau ini. Para sarjana berebut menjadi pegawai negeri, lulusan sekolah menengahnya lari menjadi tukang ojek. Matapencarian lain? Pedagang, namun nyaris semua pedagang adalah pendatang.

Kembali kupandang danau di bawahku. Bentuknya mirip ceruk atau kuali. Di ujung jauh berpagar pebukitan, karang yang dihiasi hutan lebat, lalu merambat naik ke arah puncak Gamalama. Di sisi kiri dan kanan menghampar kebun kelapa, sedang di bagianku berhias jambulang dan jati emas. Sayang, kameraku tak bagus. Di lensa, danau itu mirip datar saja, flat, mungkin datar. Padahal aku harus menajamkan mata menatap warnanya jauh di bawah.

“Kak, itu lihat riak di bawah. Itu!” si pemuda berteriak, sambil menunjuk arah dengan ujung telunjuk kanannya.

Aku mengikut, namun nyaris tak tangkap apapun.

“Itu Kak, masak nggak bisa lihat sih!” Dia nampak kesal.

“Oke,” kataku pura-pura melihat. “Memang itu apaan?”

“Itu buaya Kak, lihat. Ada dua riak, berarti ada dua buaya.” Nada suaranya penuh gairah, antara gembira sekaligus ngeri.

“Danau itu ada buayanya?”

“Ada, Kak. Kata orang begitu.”

“Ooo.. kok bisa ya?”

“Buaya itu yang jaga danau, Kak. Putih warnanya. Banyak lagi. Ada puluhan,bahkan ratusan. ”

“Oya, kamu pernah melihatnya?” tanyaku penasaran sekaligus tak percaya. Kurasa dia membual. Membesarkan omongan, agar aku takut.

“Belooom. Tapi yang pernah lihat cerita begitu.”

“Bisa nggak kita turun ke danau,” kataku memancing, karena sebetulnya tak ada niatku turun ke bawah. Badanku sudah kehabisan tenaga karena ron gunung sedari pagi tadi.

“Nggak tahu, Kak. Saya belum pernah. Hii.. takut,” jawabnya.

Buaya putih amat jarang di dunia, pikirku. Jenis albino itu sempat ditemukan di Amerika dan Australia. Tapi di Tolire? Sungguh mengada-ngada tahi kuda. Apalagi sampai ratusan jumlahnya. Ah, orang kok diperbodoh legenda hanya untuk menjelaskan fenomena alam, pikirku.

Masih kumainkan kameraku, tuk pandang sekitar. Ada jalan menurun di kiri jalan. Kutoleh tukang ojek itu. Ingin kuteriakkan penemuanku. Namun kuragu karena akan membuatnya semakin takut. Tak kulihat bekas tapak di jalan menurun itu. Mungkin ini jalan yang pernah dikisahkan kawanku itu

Kawanku, atlit pemanjat asal Solo. Dia pernah beberapa tahun tinggal di Ternate. Sempat dia naik Gunung Gamalama juga turun ke Dana Tolire.

“Hampir saja aku dibacok penunggu danau itu. Rupanya dia marah melihatku nekad turun tanpa ijin dulu kepadanya,” bualnya sambil tertawa. Untung dia sempat menyelamatkan diri, bergegas lari. Nekad juga dia.

Kutukar lensa kameraku, ganti yang panjang. Siapa tahu dengan tele 250mm ini bisa kulihat dasar danau yang jernih. Benar. Air kehijauan dengan bayang indah pepohonan membayang. Di tengah danau masih kulihat tipis percik air yang ditunjuk si tukang ojek itu. Membentuk garis tipis memanjang. Tapak buaya yang berenangkah? Entahlah. Mungkin juga jejak dedaunan yang jatuh, atau kumpulan ikan yang berenang kegirangan. Toh aku bergidik. Angin dingin menampar pipiku.

“Kakak sudah selesai foto? Turun yuk,” ajak pemuda itu. Aku mengikutinya dari belakang. Cukup lama juga tadi kutegak di sini. Dengan berat kutinggalkan wangi jambulang yang penuhi udara. Perlahan kuucapkan salam kepada papan penanda nama yang doyong di sela rerimbun pokok jatimas dan jambulang. Ketika motor kami melaju, sekilas kutoleh ke belakang, ada seorang lelaki muncul dari jalan yang menurun ke arah danau. Rambutnya berkibar sebahu. Gimbal. Satu tangannya memegang parang hingga sentuh mata kaki. Matanya memandangku. Lekat. Tanpa sadar kucengkram bahu motor. (dimuat juga di blog adira foi dengan tajuk ‘Sejenak di Tolire’)