Tags

,

dusk in the morning by ary amhir
dusk in the morning, a photo by ary amhir on Flickr.

Aku tak hendak merendahkan etnis tertentu, atau berkesah tentang sesuatu yang tak ada. Ini kisah tentang wilayah yang terabai, yang minim fasilitas, pembangunan, dan perhatian pemerintah. Sehingga mereka perlu menghidupi dirinya sendiri dengan menjual sebagian wilayahnya.

Hari itu mirip keberuntungan. Ketika berteduh di pelataran Gedung Matatita dari gerimis, seorang lelaki turun dari motornya dan memasuki rumah tempat ku menumpang. Rupanya dia si pemilik rumah. Ishak lelaki itu, lalu mempersilakanku memasuki Matatita Hall, gedung kuno tempat Orang Belanda bersenang-senang di masa lalu. Semacam club, societet. Maka mataku pun merayapi setiap sudut bangunannya, jendela-jendela antiknya, bahkan juga tegelnya. Sementara ujung mataku mencari sudut cahaya yang menyembul dari celah jarang, tanganku tak henti mengokang kamera.

Ishak bertubuh tambun, setengah baya, dengan kepala nyaris gundul. Satu dua uban menghias bagian depan kepalanya. Matanya sipit. Dia sedikit dari peranakan Tionghoa yang tersisa di Banda. Sedikit yang berasimilasi dengan penduduk lokal, lalu memeluk agama Islam. Ishak amat ramah. Tak kusangka dia pemilik berikutnya Matatita, yang diwariskan oleh mamanya. Mulanya kupikir gedung itu tak berpenghuni, seperti puluhan bangunan tua yang memenuhi Neira.

Sambil mengokang, iseng kutanya apakah dia bermaksud menjual gedung miliknya. Beberapa waktu lalu aku sempat berjumpa perempuan keturunan Jawa yang menunggui istana tua warisan Des Alwi. Sayang istana itu telah berpindah tangan ke pengusaha asal Amerika. Ekonomi alasannya, bea pemeliharaan gedung tua memang mahal, dan keturunan Des Alwi –si penguasa Banda di masa lalu- tak punya cukup dana untuk memelihara warisan ayahnya. Perempuan itu mengaku hanya menjaga istana itu sampai dipugar kembali.

“Mbak mau beli villa dan tanah di Gunung Api? Saya ada…” Tiba-tiba lelaki itu mendekatiku, setengah berbisik mengutarakan maksudnya. Bukan menjawab pertanyaanku tentang Matatita Hall miliknya, malah menawarkan bangunan lain. Tawarannya sejenak membuyarkan konsentrasiku memotret.

Tanah? Di Gunung Api? Wow.., hanya itu yang melintas di otakku. Alangkah eksotisnya. Sekejap lamunanku berpendar ke Kinahrejo dengan Merapinya. “Berapa dijual Pak?” tiba-tiba saja meluncur tanya dari mulutku, tanpa kupikir dulu.

“Tidak mahal. Murah saja. Tanahnya luas dan ada tanaman pala, kayumanis, cengkeh juga. Tiga puluh juta,” katanya terbata-bata, nampak senang mukanya. “Kalau Mbak berminat, kita bisa melihat ke sana. Dulu banyak turis yang berminat, tapi sampai sekarang tak ada kabarnya.”

Wow.. sungguh kesempatan yang tak kuduga. Mengunjungi Gunung Api dengan seorang tuan tanah. Sudah berhari-hari kurencanakan mengunjungi pulau di depan Neira dan Lonthoir itu, namun ada saja halangan. Kali ini nampaknya aku tak bisa berkelit lagi. Tapi aku tak mungkin membeli villa di sini. Pikiranku lalu beralih ke beberapa kawan berkantong tebal nun jauh di Jawa sana. Mungkin ada yang tertarik berinvestasi ke tanah jao ini. “Baiklah, setelah motret tempat ini, kita ke Gunung Api,” kataku akhirnya.

Ishak nampak gembira. Tak berapa lama, kami berkendara dengan motornya menuju tita Neira. Lalu bergayut pada ketinting menuju Gunung Api, tanpa menawar dulu. Aku mulai menyumpah ketika Ishak yang bergaya tuan tanah itu menyuruhku membayar ketinting, padahal tadi dia yang sok bossy. “Tak apalah,” pikirku, “barangkali dia tak punya uang kecil.”

Begitu sampai Gunung Api, kami segera mendaki, mencari rumah si penjaga tanahnya. Kami menuju rumah kambero, atau biasa disebut kepala kampung. “Tapi panggil saja tete atau Laidi,” kata lelaki tua bermata tajam menusuk itu. Kami temui dia sedang mengupas kaspi di gubuk kecilnya.

Mulanya, Laidi nampak curiga dengan Ishak. Rupanya selama ini dia hanya mengenal kakak Ishak. Tanah itu milik kakak Ishak, bukan miliknya. Bahkan seumur hidup baru sekali itu Ishak ke Gunung Api. Aku geleng-geleng kepala, merasa takjub dengan ulah makelar tuan tanah itu. Namun aku menikmati keramahan Laidi dan keluarganya,termasuk istri, anak perempuan, serta cucunya yang masih bayi.

Usai berbincang kami menyusuri tanah milik kakak Ishak. Lagi-lagi aku tertegun. Villa yang diceritakannya tak ada, sudah musnah oleh letusan Gunung Api bertahun lalu. Hanya tersisa tanah berbatu yang tak rata. Ada yang menjorok di atas, ada yang miring ke bawah. Bagian datarnya hanya sedikit saja. Pohon pala dan aneka pepohonan yang dijanjikannya pun tak nampak batang rantingnya. Cuma belukar bambu. “Tapi nanti di sini Mbak bisa tanam pala, ya kan Pak?” Ishak mencari pembelaan ke arah Laidi.

“Seng ada pala dekat sini. Seng ada air. Pala tumbuh di sana,” tukas Laidi sambil menunjuk tanah di seberang. Ishak hanya tertawa tanpa merasa bersalah. Aku diam saja, tak mampu mengumpat.

Puas melihat lahannya, kami pun segera turun, menyusur jalan kampung, mencari ketinting yang membawa ke Neira. Namun di tengah jalan turun, Ishak tiba-tiba berbisik. “Mbak, bisa nggak kita bicara sebentar?”

“Ada apa Pak?” tanyaku, menghentikan laju kakiku. Perasaanku mulai tak enak.

“Saya kan baru enam bulan kredit motor buat ojek. Nah, bulan ini saya belum bayar angsuran. Saya minta tolong pinjam uang, Mbak. Satu juta saja. Kalau tak segera bayar angsuran, motor saya bakal diambil balik,” nadanya penuh harap, matanya berkejap-kejap.

Aku melongo, sedikit takjub. Baru beberapa menit kumengenalnya, dia sudah mau pinjam uang. Namun ku juga kasihan. Sudah lebih setengah abad umurnya, namun lelaki ini masih harus mencari uang sendiri dengan menjadi tukang ojek. Kemana anak-anaknya? Keluarganya? Seharusnya dia bisa menikmati masa tuanya dengan damai.

Kugelengkan kepala. Tak berdaya. Kubilang sanguku pun pas-pasan. Aku bukan saudagar, tapi sedang mengumpulkan data pala. Soal tanah Gunung Api, nanti kutawarkan ke temanku yang kaya. Itu janjiku.

Raut Ishak kecewa. “Kalau begitu limaratus ribu saja. Mbak pasti punya,” desaknya. Aku tersenyum. “Maaf, nanti saya makan apa, Pak? Sedang di sini tak ada bank selain BRI. Itu bukan saya punya rekening bank.”

Ishak tak lagi memaksa. Kami pulang dalam senyap. Bahkan saat di dalam ketinting. Begitu turun dari ketinting, aku tahu kewajibanku. Membayar ongkos kami berdua. Ishak sudah ngeloyor duluan tanpa mengucapkan terimakasih.

Kelak, kami masih sering bertemu, dan dia memaksaku membeli tanah itu. Aku mengelak. Mana ada yang mau tanah berbatu rawan bencana dan tak bisa ditanami tumbuhan produksi begitu? Pantas selama ini beberapa orang asing menolak tawarannya.

*tulisan ini dimuat juga di sebuah blog dengan judul berbeda.

Advertisements