Tahukah kau ada sebuah dunia yang keberadaannya mirip oase. Kepadanya bisa kau letakkan kepalamu sejenak, dari beban hidup yang membuatmu kerap pepat. Dunia yang begitu paralel, sehingga untuk menjangkaunya, kerap  manusia melakukan hal yang mustahal. Bisa bertapa, puasa makan minum, atau justru memabuk dan mencandukan diri untuk mencapai kondisi ‘on’ itu, saat jiwa berasimilasi dengan suwarga, saat kesadaran akan ‘harga’ terkoyak pada semesta.

Di dunia ini kesadaranmu dipulihkan dengan menyiram air ketidaksadaran. Bukanah Freud, Jung, atau Sidney Hook pernah bilang, hanya 10 persen saja alam manusia itu sadar. Sisanya terbenam dalam ketidaksadaran? Para filsuf, seniman, seumur hidup bergelut menimba ketidaksadaran mereka. Hingga lahirlah karya-karya cemerlang, pemikiran yang menyentak. Jika kau ilmuwan, lalu menggabungkan dunia logika dengan ketaksadaranmu, pencapaianmu adalah satu hal baru. Ah.. aku mulai melantur. Maaf..!

Aku hanya ingin berkisah, dunia paralel satu ini, tempat gelisah dan kesah diredam, mirip sejangkauan tanganku. Dia berbincang denganku setiap waktu. Dia menampungku setiap saat. Kala kurebahkan tubuh lelahku, dan menyerahkannya kepada semesta. Kala ku masih hidup dan mengambil apa yang benar-benar kubutuhkan, bukan apa yang kuinginkan. Kurasa.. dalam hal ini aku beruntung. Sangat beruntung.

Dialog-dialog kami kerap berbentuk mimpi. Bukan mimpi basah, atau sekedar kebanyakan tidur. Bukan. Ini mimpi yang penuh arti. Yang begitu terbangun, kau sejenak merenungkannya. Mimpi yang menampung hasrat terdalam manusia untuk melakukan interaksi, the true interaction, bukan sekedar cakap angin atau berbaik-baik.

Ada sebuah dunia, mirip oase kita. Untuk menjangkaunya, kau hanya perlu membuka jendela. Bukan menerbangkan dirimu ke sana lewat perantara alkohol atau psikotropika. Bukan. Kau hanya membuka jendelanya, atau pintunya, dan melangkah perlahan, merebahkan kepala. Sejenak. Sejenak saja. Karena dunia itu hanya datang saat kau lelah, atau nyaris binasa.

Hei, jika kau sudah sampai ke sana, kabari aku. Siapa tahu kita bisa terhubung di dunia paralel itu, lewat sebuah pintu yang kita sebut kalbu.

Ada sebuah dunia, yang menelurkan mimpi-mimpi menjadi masa depan. Mimpi yang menuntunmu ke anak kehidupan. Utuh kau dibuatnya. Utuh kau menjadi, atau tak menjadi. Ah, aku mulai melantur lagi. Semoga bukan karena celoteh usang Haruki Murakami, atau terlalu banyak mentelengi primbon Jawa.

Advertisements