Tags


Dulu aku sebatang pohon. Trembesi namaku. Ujung jalan depan bangunan yang kini menjadi kantor DPRD rumahku. Suatu hari seorang lelaki kencing menyasar kulit-kulitku yang mengelupas, lapuk dan menua. Maninya memercik di sela air seninya yang kekuningan, mengisi pori-pori kulitku. Beberapa hari kemudian serombongan orang berpakaian biru-biru menebangku. Cabang-cabangku yang meninggi dianggap mengganggu kabel-kabel penyalur listrik. Maka tamatlah riwayatku.

Benar tamatkah?

Tidak! Gusti Sing Nduweni Jagat bermurah hati kepadaku. Pada kehidupan berikutnya aku menjelma menjadi seorang perempuan pejalan. Menapaki pulau demi pulau. Berlayar dari pulau asalku di selatan, hingga mencapai pulau ini. Orang menyebutnya Amatawe, atau bapak si Tawe. Ah.. apalah arti sebuah nama. Aku hinggap dimari untuk menemui takdirku. Takdir manusia pohon. Takdir penciptaan dan pemusnahan semesta. Takdir yang menuntunku kepadanya. Sikerey muda itu.

ooooo

Dulu aku seekor beruk. Beruk bertubuh besar, berbulu coklat kehitaman, yang kadang berjalan di hutan namun kerap bergelantungan di cabang pohon. Orang-orang asli pulau ini takut kepadaku, nyaris memujaku. Mereka membiarkan apapun polah gerakku. Hingga seorang pendatang pulau menembakku. Dua peluru tajamnya menyasar kepalaku. Aku mati. Nyaris tak merasakan apapun.

Benar anggapan orang-orang asli pulau ini. Aku memang makhluk terberkati. Kematian karena peluru tajam bukan mematikan sukmaku. Rohku melayang, lalu hinggap pada sepasang lelaki perempuan yang bersenggama di sebuah rusuk. Aku menghuni hangatnya rahim si perempuan muda, sebelum lahir dan memangsanya hingga mati. Lalu aku dipelihara keluarga sikebukat uma. Kesaktianku membuat mereka mendewakanku, dan mengangkatku menjadi sikerey muda suatu waktu. (bersambung)