Tags

, ,

Malam itu bersama seorang kawan, aku terpaksa bermalam di Stasiun Banyuwangi Baru. Kereta tuju Jogjakarta kelas ekonomi baru ada pukul enam esok pagi. Aku dan kawanku pasrah duduk di ruang tunggu di dalam stasiun, bersiap diusir kala kereta terakhir lewat. Jika itu terjadi, terpaksa kami bermalam di pelataran luar stasiun. Dalam bimbang yang pasrah, kujumpa dia.

ini sih foto pemeriksaan ktp haha

ini sih foto pemeriksaan ktp haha

“Mau kemana?” Seorang lelaki berpakaian sederhana menanyaiku. Kujawab asal. Jogja, tentunya

“Keretanya besok ya? Sudah dapat karcis?” Lagi-lagi aku mengangguk. Malas melayani basa-basi yang nampak basi itu.

 “Mau tidur di atas? Daripada tidur di sini nanti dikunci sendirian. Kalau sampeyan kebelet kencing, susah! Atau kalau sampeyan tidur di luar bahaya! Banyak copet. Bayar limaribu saja satu orang.” Aku terlonjak, setengah tak percaya.

 “Aman tidak?” kali ini aku yang berbasa-basi.

 “Pasti aman. Aku yang jamin. Tapi aku cari lampu dulu, ya. Di atas gelap. Lampunya mati.” Belum sempat kujawab, lelaki itu sudah ngeloyor pergi.

 Kutoleh kawanku. Kami berembug sejenak. Kutahu pasti stasiun ini tidak aman. Berkali kusempat bermalam di sini, berkali kusaksikan orang dicopet atau dijahati. Namun aku selalu lolos dari petaka itu karena beramai-ramai. Setidaknya ada beberapa kawan lelakiku. Malam ini, hanya kami berdua, perempuan semua. Mangsa yang empuk bagi pencopet maupun lelaki iseng. Apalagi kawanku berwajah lumayan manis dan putih. Jadi..

 “Ayo ikut saya. Di atas sudah ada rombongan dari Solo, kok. Kamarnya disekat. Sampeyan tidur di pokok kanan, mereka di kiri.” Lelaki itu kembali mendatangiku. Tanpa membuang waktu segera kuangkat ranselku, mengikuti kemana kakinya mengarah. Temanku bergegas membebekku.

Kami lalu masuk ke bagian dalam stasiun. Kulihat lelaki itu berkelakar dengan satpam yang bertugas jaga. Dia lalu menuntun kami menaiki tangga kecil di dekat toilet. Temaram suasana. Aku terus berjalan, hingga akhirnya berhenti di ruang yang disekat semacam tripleks.

Di dalam tripleks itu terhampar karpet hijau yang tak baru lagi. Di pojok kanan, dua lelaki muda duduk menghadap dua ransel besar. Mirip pendaki gunung. Di tengahnya, berdiri peti kayu sebagai sekat. Lalu calon tempat tidur kami yang luasnya dua kali lipat luas karpet dua pemuda. Di pojok kiri ada kasur busa tipis warna hijau mangkak dan sebuah bantal bersarung merah. Ada sarung di atasnya. Kurebahkan tubuh, duduk di karpet. Juga temanku.

“Baru turun dari gunung ya?” tanyaku membuka percakapan dengan dua pemuda itu.

“Iya.. kami dari Tambora, lalu Rinjani,” jawab seorang pemuda berambut agak panjang. Kelak kutahu namanya Ojan. Sedang temannya yang wajahnya lebih bagus dan putih kulitnya bernama Fadli. Keduanya, wong kito galo.

 “Kami mau ke Jogja sebentar, lalu balik ke Palembang,” lagi-lagi manis mereka bertutur. Tak nampak garang, apalagi pongah.

 Sepertiku, mereka menunggu kereta api Sri Tanjung jurusan Banyuwangi-Jogjakarta esok pagi. Sepertiku, mereka butuh tempat buat mengusir penat. Tempat yang nyaman walau sederhana. Tempat yang aman di tengah bingarnya penipu dan pencopet. Sepertiku pun, losmen atau hotel jauh dari jangkauan kocek. Maka kami bersyukur menemukan ‘hotel’ lima ribuan ini. Hotel yang hanya beberapa meter dari toilet stasiun dan beberapa belas meter dari musholla di ujung gedung. Hotel yang ditawarkan lelaki bernama Ari, tukang sapu stasiun Banyuwangi Baru.

“Biasanya yang tidur di sini satpam, masinis yang tugas besok, juga pegawai restorasi dan tukang bersih-bersih stasiun. Tapi sekarang mereka sudah banyak yang kos,” jelas Ari, yang segera kutimpali dalam hati, ‘lalu kau jadikan kos harian buat pejalan seperti kami.’ Hahaha…

Aku tertawa. Memandang Ari, bisa kubayangkan gajinya setiap bulan. Tak lebih dari lima ratus ribu rupiah. Mungkin malah kurang. Dengan menawarkan tempat untuk tidur kepada pejalan seperti kami, setidaknya dia mendapat sekitar dua puluh ribu rupiah sehari. Itupun harus dibaginya dengan teman-temannya. Aku tak menganggapnya memanfaatkan kesempatan. Sama sekali tidak. Justru aku bersyukur ada yang mau menolongku dalam kesempitan. Seorang tukang sapu pula.

Di ruang sederhana, keakraban pun tercipta antara sesama pejalan. Kami bertukar cerita tentang dunia sekitar.  Dua pendaki muda itu nampak penuh semangat menceritakan petualangannya mendaki gunung. Membuatku seolah ditarik pada kenangan mendaki gunung-gunung di masa bahela. Rinjani, Agung, Semeru, dan masih banyak lagi. Sesekali obrolan terhenti dengan kesibukan men-charge hp pada stop kontak di atas peti. Ari pun tak menutup diri. Dia mengisahkan hidupnya yang ‘hitam’. Tentang istrinya yang lari dengan lelaki lain, tentang anaknya yang mati, dan tentang-tentang lainnya.

Setiap orang punya luka. Setiap jiwa punya sisi kelam. Namun yang terpenting, bagaimana membangkitkan cahaya pada sisi yang lain untuk menerangi bagian yang kelam. Setiap peristiwa ada makna. Malam itu, kurebahkan tubuhku di atas kasur lapuk. Pashmina merahku kututupkan pada bantal, membuang bau lembab. Kurasa aku tidur lelap malam itu. Nyaris tanpa mimpi. Kecuali singgah di suarga yang menyempil di hati kaum papa. Suarga yang damai dan penuh kepasrahan.

Andai kau kemalaman di stasiun Banyuwangi Baru, carilah Ari. Mintakan hotel lima ribu kepadanya. Niscaya akan kau temukan kehangatan dan kebaikan hati. Kujamin itu.

Advertisements