Tags

,

Tak banyak orang yang mau menerbitkan buku dalam bahasa daerah. Sedikit di antara mereka adalah Soeparto Brata, penulis novel  yang banyak berkisah tentang roman berbau sejarah Jawa itu. Ketika seorang kawan, yang mulanya saya kenal ketika ngeblog di Kompasiana sebelum kenal secara pribadi, menerbitkan buku dalam bahasa ‘Jawa Timuran’, saya tertarik membacanya. Tak banyak yang punya keberanian seperti dia, sekaligus ‘kekenthiran’ seperti yang dimilikinya.

Kisah-kisah dalam bukunya ini, ‘Ndemin Selawase’, adalah kumpulan artikelnya di blog Kompasiana. Bertutur tentang sepasang suami istri, Paijo dan Narti, sejak awal menjadi pengantin baru sampai memiliki tiga orang anak  yang semua diberi nama Ndemin. ‘Ndemin Selawse’ menyajikan romansa hubungan suami istri yang hidup sebagai kaum urban pinggiran, orang di pinggiran kota yang dikungkung kemiskinan, sehingga untuk makan sedikit ‘enak’ pun jadi mirip impian. Kenapa saya sebut pinggiran? Karena mereka masih punya sawah, ada lahan kosong bisa digarap di belakang rumah.

Fenomena sosial masyarakat pinggiran Surabaya ini dikemas dengan jenaka dan kadang ‘kenthir’ gaya ludrukan oleh si penulis. Paijo dan Narti dilukiskan hidup sederhana, mirip miskin. Paijo hanya sales pabrik sepatu, dilahirkan dari keluarga pas-pasan. Sedang Narti sebelumnya hidup bercukupan dengan keluarga yang dipanggilnya ‘mamah-papah‘, dan menjadi anak manja.

Bagaimana dua anak manusia ini menikah, menyatukan pandangan hidup, kebiasaan, agar perkawinannya langgeng, inilah yang diolah Rina Tri Lestari, si penulis. Rina banyak menyajikan dialog ‘kenthir’ namun mengena antara Paijo dan istrinya. Dialog yang bikin ngakak sekaligus manggut-manggut.

Misal pada bab ‘Manten Anyar’ (pengantin baru, pen), saat Narti minta Paijo membelikannya pizza, sedang Paijo yang tak punya uang itu mengalihkannya dengan membeli ote-ote. Bayangkan pizza seharga minimal dua puluh ribu lebih itu dibandingkan ote-ote – penganan tradisional dari tepung, kacang kedelai dll yang digoreng – seharga paling mahal Rp 1000 per biji. Logis nggak? Yang jelas bikin tertawa, apalagi diakhiri dengan kata-kata Narti, ‘Pingin opo-opo kok mesti olehe kelon ae’ (setiap kali menginginkan makan sesuatu, hanya dapat ‘ditiduri’ hehehe…).

Atau saat Narti merajuk minta dibelikan nasi padang, tapi suaminya menolak karena tak punya uang, Narti pun enggan dikeloni. Katanya, ‘Malese! Kon nukokno sego padang ae gak gelem kok njaluk kelon! Turu karo wedhus kono!’ (males ah! Minta nasi padang aja nggak dibelikan kok minta kelon! Tidur bareng kambing sana!) . Sungguh khas dialog pengantin baru. Apalagi dalam setiap dialog diikuti pula keterangan adegan seperti Narti yang berlinang airmata, Paijo yang mendekap istrinya, atau Narti yang cemberut. Ini membuat pembaca bisa membayangkan apa yang sedang terjadi.

Begitu juga kisah pada ‘Lairan’ atau kelahiran anak. Narti yang memilih melahirkan di rumah dengan bantuan dukun beranak –karena beanya murah- menjadikan suaminya, Paijo, sebagai sansak kemarahan sekaligus kesakitan. Dia menjambak, menggigit, bahkan memukul kepala suaminya gelas sampai pingsan. Di akhir adegan, si bapak mertua pun berkomentar, ‘Pas nggawe ae meneng, lek wes ngene bengak-bengok’. (waktu bikin anak diam saja, ketika saat melahirkan berteriak-teriak).

Masih banyak lagi dialog yang menggelikan hati dan membuat tertawa yang dikemas dalam 16 kisah setebal 115 halaman ini. Dialog yang tercipta pada pasangan suami istri dalam menyikapi romantika berumah tangga ini.  Dialog yang terpancar dari gesekan kehidupan yang berbeda, bagaimana mengatasi masalah hidup kaum pinggiran dengan canda yang ‘kadang’ di luar imajinasi. hehe.. . Saya akui, pengamatan dan pengolahan kalimat oleh Rina sangat detil soal ini. Ah, jangan-jangan ini pengalaman pribadi.  Atau.. Rina jeli mengamati mak-bapaknya duku. Hehehe.. 😛

Tak seperti buku berbahasa Indonesia, buku berbahasa daerah terbatas marjinnya. Hanya mereka yang bisa berbahasa Jawa –dalam kaitan dengan buku ini- yang bisa ngakak, menikmati. Itupun pada slank-slank tertentu mereka yang bisa berbahasa jawa dialek Jawa Timuran yang paham. Saya tak bilang ini bahasa Suroboyoan, karena banyak kata di dalamnya bukan khas Surabaya. Malah di beberapa bagian, penulis menggunakan bahasa Indonesia. Mungkin karena tidak menemukan padanan kata yang tepat, atau di luar pengetahuan dan kebiasaan penulis, misalnya pada kalimat ‘Narti lagi turu-turu nang lantai’. Kalau menggunakan bahasa Suroboyoan, akan ditulis ‘Narti lagek klesetan nang jobin.’ Jadi, istilah bahasa daerah di sini menurut saya adalah bahasa sehari-hari yang dikenal penulis.

Karena bahasa daerah menurut pengetahuan dan kebiasaan penulis, berdasar yang diucapkannya dan didengarnya dalam pergaulan sehari-hari, maka penulisan bahasa pun sesuai yang didengarnya. Tak ada kamus yang baku untuk menuliskan kebenaran kata. Bisa ‘lagi’, atau ‘lagek’ untuk kata ‘areke lagi turu’. ‘Masiyo’ ditulis ‘masio’, koyo ditulis ‘koyok’, ‘mandeg’ ditulis ‘mandek’, ‘nggawe’ ditulis ‘gawe’ atau ‘nggae’. Tak ada aturan yang baku bagaimana menuliskan kata-kata tersebut. Ada baiknya, andai ada kamus bahasa daerah, kamus itu digunakan. Hehehe.

Kalau alasannya tak ada editor, saya pikir penulis yang menerbitkan bukunya ala self publishing harus dan wajib menjadi editor bagi tulisannya. Menulis tak sekedar mengutarakan pemikiran dan perasaan, tapi juga teliti mengemukakan buah pikiran sesuai aturan bahasa atau kata yang disepakati. Menulis itu juga belajar, belajar mengemukakan pikiran dan menuliskannya dengan benar.

Apapun kekurangan di atas, dari konteks isi, Ndemin Selawase patut diacungi jempol. Ketika banyak penulis muda yang lebih suka menggunakan konteks bahasa asing, Rina justru keluar pakem, menulis dalam bahasa ibunya. Akhirnya, ‘teklek kecemplung kalen, timbang golek aluwung ojo keluwen’. Mboh, opo artine hehehe.. selamat membaca !

Advertisements