Tags

,

pengarang : Yusi Avianto Pareanom
Tebal : 172 halaman
Penerbit : Banana

Ketika seorang teman merekomendasikan buku ini, saya cuma mengernyitkan dahi. ‘Kopi lagi? Lagi-lagi kopi. Begitu hebatkah minuman satu ini sehingga kerap menginspirasi para pengarang lalu dijadikan tajuk buku akhir-akhir ini?’ Hei, jangan salahkan saya. Bukannya saya apatis, saya juga pencinta kopi walau tak sampai kopaholik. Dua cangkir kopi sehari cukuplah. Lebih dari itu, tremor melanda tubuh. Soal buku bertajuk kopi, sudah ada empat judul setidaknya yang saya tahu. ‘Filosofi Kopi’-nya si Dee,  ‘Copachino’ entah, ‘Perempuan Kopi’, dan ditambah judul ini.

Pandangan saya mulai berubah saat melahap buku ini di awal cerita. Ngakak tak bersudahan. Seperti kata pengarang sebelumnya via pesan pendek, ‘semoga terhibur’, buku ini sungguh menghibur pembacanya, dalam hal ini saya. Dengan tawa, senyum-senyum simpul, dan kadang garuk-garuk lubang telinga yang tiba-tiba gatal.

Ada delapan belas cerpen dalam buku ini, sebagian besar pernah dimuat di media. Cerpen-cerpen yang menurut saya tak biasa, dirangkai dalam kisah yang cerdas, jenaka, dan ide yang ‘kerap’ tak terpikirkan. Kalau umumnya cerpenis masih berada dalam tataran ‘menggarap realita sosial’, atau terkungkung dalam ‘imajinasi asosial’, atau yang menggabungkan keduanya, Yusi saya pikir sudah berada di luar konteks itu. Cerpen di tangannya semata-mata kisah yang bisa dia bentuk sesuka hati, tak harus mengemban tujuan tertentu, tak selalu menyiratkan makna dan pesan, namun semata ‘seni’ yang bisa menghibur pembaca.

Jangan harap menemukan bahasa liris atau puitis dalam cerpennya. Mengutip kata kawan yang saya todong membaca bukunya  karena ingin mencari yang beda,  ‘Penulis tidak merasa perlu menggunakan kalimat-kalimat yang mengesankan seolah-olah indah, puitis, karena ide ceritanya sendiri sudah sangat kuat. Jadi kalimat yang digunakannya sudah fungsional, bukan sekedar asesoris tanpa makna.’ Hah, itu pendapat kawan, lho, bukan saya. Hehe..

Saya tak gampang terpukau dengan bahasa. Semakin sederhana bahasa yang digunakan dalam cerpen atau tulisan, menurut saya semakin baik, karena mampu membuat orang yang malas berpikir seperti saya mampu menyimak. Saya terpukau justru pada ‘ending’ cerita yang kerap bikin ‘cegek’. Pada kisah ‘Cara-cara Mati yang Kurang Aduhai’ misalnya, siapa sangka kalau yang mati bukan tokoh yang sejak semula sudah divonis terkena kanker pankreas itu. Atau pada ‘Sengatan Gwen’ siapa sangka kalau yang naksir dan dekat dengan si cantik itu ternyata… (ah, Anda sebaiknya baca sendiri. Bukan kejutan jika endingnya saya buka di sini. Maaf!)

Walau menghibur, bukan berarti kisah-kisah di ‘Rumah Kopi’ ditulis dalam selera humor kebanyakan. Bukan. Justru saya melihat si pengarang mesti punya latar pengetahuan yang dalam. Pada ‘Sebelum Peluncuran’ misalnya, si pengarang pastinya mencari referensi tentang hormon steroid. Atau pada ‘Durna Sambat’, setidaknya Yusi punya pengetahuan tentang kisah pewayangan. Saya jadi ingat sebuah nasihat kuno di jaman bahela, ‘yang membuat cerita tidak kering adalah pengetahuan yang mengisi sebuah cerita‘. Benar juga. Tapi berapa gelintir pengarang, khususnya pengarang fiksi muda yang mau bersusah-payah membuka-buka literatur? Mereka selalu berpikir cerita itu cukup dari pengalaman sendiri dibumbui imajinasi. Yang penting bahasanya ‘nyastra, puitis dan liris’. hehe..

Ada lagi kesan yang saya dapatkan. Bahasa pengarang sangat maskulin, miskin iba. Kisah sedih seperti seorang perempuan yang kehilangan suaminya karena diciduk tentara kala ramai-ramainya GAM di Aceh, dikisahkan datar saja. Atau gadis cilik yang menjadi korban keganasan seksual ayahnya digambarkan tampak dingin dan menyikapi hidupnya mirip tanpa trauma. Emosi, kalau bisa diredam. Yang tampak justru mirip ‘tanpa hati, miskin iba, dan empati’. Mungkin hidup memang harus disikapi demikian untuk melanjutkan langkah berikutnya. Mungkin. Saya kurang paham.

Apapun itu, buku ini sangat layak dibaca. Buku yang memberikan perspektif berbeda tentang nilai sebuah cerpen. Hiburan, juga penciptaan sebuah hiburan.

Selamat membaca,

Advertisements