Tags

, ,

Bagaimana Menyelaraskan Energi Tubuh dengan Energi Semesta?

Suatu hari saya punya janji bertemu dengan seorang kawan. Belum pernah bertatap muka, hanya bertegur sapa di dunia maya. Ditambah janji-janji lain dengan kawan-kawan lain, maka mendaratlah saya di Denpasar jelang senja. Taman di Renon jadi tujuan pertama, paska perjalanan panjang dari atas Danau Tamblingan yang sebagian saya dan seorang kawan tempuh dengan berjalan kaki.

Ayu Laksmi yang Penuh Percikan Energi

Kenapa taman di Renon? Entah mengapa saya perlu memulihkan energi saat itu. Paska berjalan kaki sejauh 7 km, paska dua kali kehujanan yang membuat baju dan tubuh kuyup. Di taman menghijau saya temukan energi yang saya butuhkan. Saya memulihkan diri dari kepenatan. Dan saya siap bertemu seorang kawan.

Usai sejenak duduk-duduk di taman, saya menuju gedung DPRD yang berjarak beberapa puluh meter dari situ. Sebuah acara tengah digelar. Banyak pakar spiritual datang memberi pelatihan dan pengobatan. Bahkan ada pertunjukan dari seniman Ayu Laksmi dan Putu Ana.

Saya yang awam ini merasakan percikan energi dari segala arah. Andai tak sejenak rehat di taman tadi, mungkin saya terlempar. Tubuh saya terlalu peka menangkap getaran. Sejenak saya limbung, mirip sakit kepala. Dan saya coba bertahan ‘stay cool’ agar tak melakukan perbuatan yang memalukan dan menarik perhatian. Tergulung-gulung mirip ombak, misalnya. Atau menari tanpa kendali.

Acara berlangsung hingga tengah malam. Saya nyaris kehilangan tenaga. Hujan di luar menyelamatkan saya. Hujan, airnya, adalah salah satu energi alam yang murni karunia Sang Pencipta. Sejenak dengannya saya pulihkan energi tubuh yang terkoyak dan terkuras.

Kebun Raya Bedugul yang Menenangkan

Esoknya saya tuju Bedugul. Dalam gerimis ramai. Seolah ada yang memanggil, dan tahu dalam hujan tak banyak yang bisa dilihat, saya dan teman putuskan bermalam di sana. Sejenak diam, hening, akan menetralkan letupan emosi, entah marah, euphoria, sedih, dan kecewa. Sejenak diam juga membuat pikiran stabil, energi dalam tubuh diselaraskan dengan energi semesta. Jadi saya mesti diam. Sejenak. Bermalam.

Keesokan paginya saya habiskan dengan mengunjungi Pura Luhur Pucak Sari Taman Tada. Hanya sejenak, karena dalem pura terkunci. Kemudian saya berjalan menuju Kebun Raya Bedugul. Cita-cita saya tercapai hari itu, menjadi pengunjung pertama.

Kebun Raya selalu menjadi tempat yang baik untuk memulihkan energi tubuh yang terkuras, menyelaraskan energi tubuh dengan semesta, lalu meningkatkan energi tubuh dengan memanfaatkan energi semesta.

Suasana Kebun Raya yang hening, dengan pemandangan pepohonan, bebungaan aneka warna, serta tumbuhan hijau lainnya selalu menenangkan. Efeknya mirip opium. Membersihkan pikiran dari segala masalah, menyisakan kegembiraan dan semangat hidup. Kalau semalam dalam acara di Denpasar saya menolak meditasi, kali ini sengaja saya luangkan waktu, duduk di sudut bangku bawah pepohonan, untuk sejenak meditasi. Hanya beberapa menit, membuat tubuh bugar dan penuh semangat.

Perjalanan hari itu cukup panjang. Dari Bedugul, berjalan kaki tuju Beratan, lalu membelok ke Singaraja, Seririt, sedikit berjalan kaki lagi tuju Munduk. Syukurlah di tengah jalan saya dan teman mendapat tumpangan hingga ke Munduk.

Limpahan energi Air Terjun Munduk

Entah karena efek meditasi di Kebun Raya, atau yang lain, keesokan harinya saya mampu bergerak, menemui banyak orang, dalam waktu berturutan selama lebih tujuh jam.

Ada satu tempat di Munduk yang membuat energi saya melonjak tajam, yaitu air terjun di atas Puri Lumbung. Entah mengapa air terjun, hujan, pelangi, dan sumber-sumber air kerap dipenuhi energi semesta. Begitu juga tempat-tempat tinggi mirip puncak gunung. Mungkin itu yang membuat seorang pendaki selalu kembali merambah puncak, tak peduli betapa melelahkannya perjalanan mereka.

Malamnya kami bertolak menuju Gilimanuk, menyebrang ke Ketapang, dan berakhir dengan menginap di Stasiun Banyuwangi Baru. Saya merasa dilimpahi energi baru. Tak putus melakukan kontak dengan orang lain, dan segera membuang sebal jika melihat ada energi negatif menyergap.

Meditasi. Sejenak dalam keheningan. Selalu membantu memulihkan tenaga, membersihkan pikiran dari hal negatif. Dan bagi orang seperti saya, mengembalikan ritme hidup, kadang malah mengasah kepekaan.

Salam damai,

Advertisements