Tags

, , , ,


Nama Philip Pullman mungkin kalah beken dibanding JK Rowling dengan Harry Potter-nya atau JRR Tolkien dengan Lord of The Ring di tanah air. Padahal, Pullman mengawali karirnya sebagai pengarang buku cerita anak jauh lebih awal. Karyanya pun bejibun, dan sangat memikat. Baru belakangan ini Gramedia getol menerjemahkan karya-karyanya, seperti ‘Dulu Aku Tikus’, ‘Jack Si Penakluk’, atau ‘Putri Si Pembuat Kembang Api’.

Karya fenomenalnya, trilogi ‘His Darkness Materials’ tak kalah seru dengan Harry Potter atau Lord of The Ring. Buku pertama trilogi ini saya temukan di C2O Library (thank’s atas pinjamannya), dengan judul asli Northern Lights. Di Amerika, buku ini diterbitkan dengan judul The Golden Compass dan diterjemahkan Gramedia menjadi ‘Kompas Emas’.

Northern Lights berkisah Lyra Belacqua, gadis umur 11 tahun, yang memulai petualangannya ke kutub utara, untuk menemukan karibnya yang hilang, Roger Paslow, dan hendak membebaskan Lord Asriel, yang ditawan para beruang beramour pimpinan Iofur Raknison.

Mulanya Lyra dibesarkan di Jordan College, sebagai titipan Lord Asriel, pamannya. Ketika pamannya pergi ke kutub utara, Lyra kemudian diambil dan diasuh Mrs Coulter, dan tinggal di London. Sebelum meninggalkan Jordan College, secara rahasia Lyra diberi Master Jordan College sebuah alethiometer, benda mirip kompas yang bisa memberitahukannya apa yang sedang terjadi dengan cara pembacaan yang khusus..

Di London, tahulah Lyra bahwa Mrs Coulter terlibat dengan organisasi penculikan anak, yang disebut Globber. Globber ini pula yang menculik Roger, sahabatnya. Merasa ketakutan, Lyra lalu melarikan diri ditemani daemonnya bernama Pantalaemon. Dalam sebuah pengejaran, Lyra ditolong anak gipsi. Dari orang gipsi, dia tahu kalau Lord Asriel adalah ayah kandungnya dan Mrs Coulter, ibunya. Kelak bersama rombongan gipsi ini, Lyra bertolak menuju kutub utara guna menemukan anak-anak gipsi yang diculik.

Sejak awal hingga akhir, buku ini menarik untuk dibaca. Saya tak bisa menduga apa yang terjadi pada bab berikutnya, atau apa yang bakal diketengahkan pengarang berikutnya. Konsep cerita, termasuk dunia fantasi yang ditawarkan Philip Pullman jauh berbeda dengan Lord of The Ring atau Harry Potter. Ini yang membuat buku terasa baru, dan tak membebek buku-buku kisah fantasi yang sudah mengorbit duluan.

Jika di  Harry Potter kita bertemu sekolah sihir Hogwarth yang menakjubkan dengan para mugle, setengah mugle, atau penyihir murni; sedang di  Lord of Ring kita mengikuti kisah para hobbit dan kesatria; maka pada Northern Lights kita harus mengikuti konsep apa itu daemon –wujud fisik jiwa manusia dalam bentuk binatang-, lalu para beruang kutub dengan armour-nya (mirip manusia dengan daemon), atau juga para penyihir. Makhluk-makhluk fantasi inilah yang menghidupkan cerita sejak awal.

Satu poin penting, pembaca digiring memasuki dunia fantasi tanpa perlu membandingkan dunia manusia yang nyata dan dunia fantasi. Banyak buku fantasi anak yang ‘jatuh’ karena membandingkan dunia ini. Tapi tidak Pullman. Semua kehidupan, baik manusia, daemon, atau makhluk-makhluk imajinasi mirip kejadian alami, tanpa perlu kita mempertanyakannya. Ini karena pengarang dengan detil menggambarkan setiap tokoh rekaannya, dengan alasan yang masuk akal.

Jelang bagian akhir, baru pembaca dihadapkan pada teka-teki utama buku ini, yang akan menggiring ke buku-buku selanjutnya, yaitu misteri Dust –semacam partikel luar biasa- yang mampu menggerakkan alethiometer dan memberi jawaban terhadap segala masalah. Dust pula yang ditakuti gereja, dan dianggap penyebab dosa. Dust yang membuat Mrs Coulter melakukan eksperimen memisahkan anak-anak dengan daemonnya.

Tentu, ada tokoh-tokoh pendamping Lyra yang membuat isi buku semakin hidup. Misalnya Iorek Byrnison, si beruang kutub yang disingkirkan kkelompoknya, atau Serafina Pekkala si ratu penyihir, dan Lee Scoresby si pengemudi balon udara. Keragaman kisah yang dirangkai mirip cerita petualangan ini, membuat buku ini diganjar Carnegie Medal untuk buku fiksi anak di Inggris tahun 1995 dan kisahnya diangkat ke layar lebar dengan judul Golden Compass. Sayangnya, saya belum menonton filmnya. Hiks !