Tags

,

Saya pandang lelaki di depan saya. Penuh semangat. Menghentak-hentak pemikirannya, disela gelak dan humornya yang tak pernah kering. Tak tampak kesombongan, rasa besar diri, atau apalah, mengingat prestasinya yang memang besar. Dengan beberapa kawan, kami ngobrol tentang makanan, musik, hingga situasi terakhir politik di Indonesia. Kebetulan saat itu kami sedang nongkrong di sebuah rumah makan di kawasan Surabaya Barat.

Sesekali obrolan ditingkapi bunyi musik dari tangan dan mulutnya, atau ucap inginnya untuk mengenalkan musik sejak dini kepada anak-anak, misalnya siswa SD. Musik itu sakral, bebunyian itu suci, begitu mungkin pemikirannya, sehingga setiap orang harus menghargai bunyi dan menempatkannya sesuai waktu dan ruangnya. Ah, memang sedikit pening bicara tentang musik dengan empu satu ini.

Kami memanggilnya Pak Sas, singkatan dari Slamet Abdul Sjukur. Dialah empu komponis dan bapak musik kontemporer Indonesia. Lahir di Surabaya, tepatnya di salah satu gang di Keputran 30 Juni 1935, Pak Sas menjadi pencinta musik sejak dihadiahi ayahnya sebuah piano. Bakat musiknya lalu terasah berkat bimbingan beragam guru, mulai dari Nio, D. Tupan, pianis asal Ambon, hingga guru-guru dari luar negeri mirip Paneda dari Filipina, Schaap dari Belanda, atau Josep Bodmer dari Swiss. Ilmunya semakin mumpuni kala mendapat beasiswa dan tinggal di Prancis pada 1962-1976.

Riwayat dan prestasi Pak Sas selengkapnya bisa dibaca di sini

Di depan saya berceloteh mantan dosen IKJ, ISI Surakarta, dan UPI Bandung. Tak ada nada menggurui dalam semua pembicaraannya. Bahkan, dia menempatkan dirinya sejajar dengan kami, para yunior yang hanya tahu mendentingkan alat musik. Dendang Michael Learns To Rock mengalun, mengharu-biru.

โ€œKenapa ya, di restoran-restoran seperti ini lagunya kalau nggak Titanic, ya slow mellow ala Bryan Adams dan Michael Learns To Rock?โ€ tanya Tinta. Yang lain hanya mengangguk-angguk.

Tandas makan, kami segera mengantar Pak Sas pulang. Ada muridnya yang mesti diajar kursus pukul tiga sore nanti. Mobil pun meluncur hingga Keputran. Kami turun. Turut melangkah di samping lelaki periang yang dibantu kruknya โ€“Pak Sas terserang polio sejak umur 6 bulan- memasuki gang-gang Pandegiling yang sempit, akhirnya kami berhenti di sebuah pintu kayu sederhana. Rumah-rumah di sana begitu rapat, khas kampung di tengah kota besar, di antara himpitan mall, pusat belanja, dan kantor bergedung menjulang langit.

Pintu terbuka. Kami masuk. Belok kiri sebuah almari yang dipenuhi buku tua. Belok kanan, kami masuki ruang kerjanya. Sebuah piano merk steinmeyer terpajang, sebuah meja yang dipenuhi buku. Lurus, sebuah taman di ruang sempit. Di samping ruang kerja dan tempatnya memberi les musik ada kamar tidur. Karena mau ke toilet, saya lewati kamar tidur itu. Sangat rapi buat lelaki yang tinggal sendiri di Surabaya ini.

Toiletnya? Apalagi! Walau ada satu dua piring dan gelas menghampar di ujung lantai, semua serba tertata rapi dan apik. Berani sumpah, Pak Sas sangat mencintai kerapian dan ketelitian. Mungkin juga kesempurnaan. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia harus menghabiskan lebih 6000 jam untuk menciptakan sebuah komposisi musik. Tentulah dia pemikir yang sangat mendetil.

Hingga muridnya tiba, kami masih bercanda di ruang kerjanya. Ngobrol ini itu, membahas banyak hal. Serba santai. Namun satu hal pasti yang saya rasakan, saya belum berhasil mencuri ilmunya, sedikit pun. Ah..!

Advertisements