Tags

Kadang bosan juga dia. Agamanya digugat sebagai pengajar kekerasan. Masalahnya sepele, mereka yang ‘katanya’ kuat memegang agamanya, kaum alim dan berpengetahuan agama tinggi, melakukan tindak kekerasan kepada kaum pemeluk agama lain. Jadi, ketika memasuki daerah ‘rawan’ yang penduduknya berbeda agama dengannya, dan pernah terlibat tindak kekerasan dengan kaum ‘alim’ yang seagama dengannya, dia pun bimbang. Apa yang akan dikatakannya nanti jika orang bertanya pasal agamanya? Ah.. masalah agama selalu membuatnya mirip pusing di tujuh kepala.

Di kampungnya sendiri, di mana beberapa sekolah agama tegak berdiri, dia pun diselubungi kabut ‘ketakutan’. Tampangnya yang tak mencerminkan agamanya –lebih suka kelayapan dengan jeans belel, kaos oblong, dengan muka dan rambut bebas terbuka lebar- kerap dituding tetangganya mengumbar aurat. Dia pun dicibir, mirip dianggap sebagai pendosa, dan dijauhi oleh sebagian mereka. Sebagian lagi getol merangkulnya, mengajaknya ke berbagai kegiatan agama, sambil menyodor-nyodorkan kain penutup muka dan pakaian berkabut yang membuatnya tenggelam mirip kapal selam. Ah.. dia jadi bingung, dan ingin lari meninggalkan rumah ibunya saja.

Kau tahu, hidup di abad gila begini segalanya tampak menggalaukan dan tak pasti. Manusia berselisih hal yang ‘dulunya’ dianggap kecil dan bukan masalah. Soal keyakinan misalnya, atau ayat-ayat Tuhan yang dipaksakan diamini dan diyakini oleh semua lapisan manusia, tak pandang dia suka atau tidak. Tuhan saja tak pernah memaksa dan memberi kebebasan manusia mau berbuat apa saja, dosa pahala, kebaikan keburukan, menyembahnya atau tidak, tapi yang mengaku pembawa ajaran Tuhan merasa perlu menegakkan kebenaran yang diyakininya dengan pedang, darah, dan kematian.

Pernah terlintas di pikirannya untuk mengosongkan kolom agama di ktp-nya. Namun jelas itu tak mungkin. Petugas di kecamatan akan memaksanya mengisi, kalau tidak, mereka akan berkata, ‘Kamu PKI ya? Tidak punya agama! Ini negara pancasila tahu, semua orang harus beragama!’

Andai dia hidup di belahan bumi lain, Di New Zealand misalnya, yang lebih 40 persen penduduknya atheis, sungguh menyenangkan. Atau di Cina misalnya, yang orang tak dibebani dengan kolom agama, karena negara memang tak peduli warganya beragama atau tidak. Namun ini di Indonesia, dan dia lahir di bumi malang berpemandangan indah ini, Indonesia.

Tiba-tiba lamunannya terhenti. Lebih tepat dihentikan mendadak oleh seseorang yang mendekatinya. Dia masih memegang kameranya, membidik ke berbagai sudut yang dianggapnya eksotis untuk mengabadikan benteng tua di tepi laut itu.

“Kamu suka benteng ya?” basa-basi si penanya. Dia mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Kalau gereja suka? Ada gereja tua di sana?” penanyanya, si lelaki tanggung berbadan tegap gelap mengarahkan telunjuknya ke puncak sebuah bukit. Dia hanya diam, tak tahu harus menjawab apa.

“Atau masjid tua? Ada juga masjid di sana?” lagi-lagi penanyanya menuding ke suatu tempat. Dia membasahi bibirnya dengan lidahnya.

“Atau… boleh tahu, agamamu apa sih?” Akhirnya, pertanyaan yang ditakutkannya melontar juga menembus jantungnya.

Dia termangu. Pikirannya buntu. Hingga tanpa disadarinya, suaranya lebih cepat bekerja ketimbang pikirannya. “Kemanusiaan.. agama saya kemanusiaan.”

Lelaki itu melongo. Sementara dia ngeloyor pergi, sambil menenteng kameranya penuh muak.

Advertisements