Tags


semanggi surabaya

Apa benar sih orang Surabaya suka yang ‘sale-sale’, promo, dan berbau murah? Saya sendiri tak begitu paham. Soal belanja ke mall-mall, kalau ‘sale’ pastilah ramai peminatnya. Apapun mereka buru, walau kerap tertipu. Ditulis ‘50% off’ padahal harganya juga sudah dinaikkan 50%.

Nah, soal makan rupanya nggak jauh berbeda. Setidaknya itu yang dibilang Pak Abbas, chef dan pengelola ‘Spencer’s, restoran langganan para ekspatriat di belahan barat Surabaya ini.

“Kalau yang datang orang lokal, pertama yang ditanya pasti ada promo apa,’ kata lelaki bertubuh besar ini sambil tertawa. Tak peduli yang datang bermobil, pengusaha, dan berdompet tebal. Mengapa begitu?

Saya sendiri tak tahu, hanya mengira-ngira. Mungkin karena Surabaya lebih dikenal sebagai pelabuhan dagang, kampung-kampung pedagang dulunya, sehingga mental orangnya pun mental dagang. Membeli semurah mungkin untuk mendapatkan sebesar mungkin. Murah harga makanannya, besar porsinya, dan enak pula.

Itu sebabnya kalau berbisnis makanan di Surabaya, lokasi tak begitu jadi masalah. Saya ingat sewaktu masih di sekolah menengah, es jus dan roti bakar di Jalan Perwira, sekitar kompleks SD-SMU Putrawijaya sangat terkenal. Padahal letaknya menjorok, masuk di dalam gang. Puluhan tahun kemudian, di saat sekarang, es jus dan roti bakar itu masih ada. Masih hidup. Walau, tak seramai dulu. Rasanya pun masih seenak dulu. Entah generasi ke berapa yang jualan di situ.

Lain lagi dengan nasi kucing yang jualan di emperan jembatan Kalimir, arah ke Terminal Joyoboyo. Sempat saya memergokinya sekali, sepulang dari Malang via kereta api jam sebelas malam. Saya berjalan dari Stasiun Wonokromo menuju rumah di Hayamwuruk. Oalaaah.. meluber penjual yang antri di situ. Ya motor ya mobil berderet. Untung jelang tengah malam, jadi tak menimbulkan kemacetan.

Logika bisnis ala Surabaya memang berbeda jauh dengan Jakarta. Kalau cari makanan murah di Jakarta, ya pergilah ke warteg pinggir jalan. Soal harga, dijamin miring. Soal rasa, entahlah. Tapi di Surabaya? Mau cari makanan enak ya pasang kuping lebar-lebar. Tak harus di resto atau bistro, bisa di pinggir jalan yang murah meriah dan pelayannya super judes. Dan, tempatnya bisa mojok di kampung tengil atau mesti blusukan gang.

Sedikit saya tahu tentang makanan enak, murah, meriah karena porsinya bisa bikin semaput. Di antaranya adalah di Ketabang Kali. Di pinggir kali belakang Gedung Grahadi ini, jadi tempat nongkrong paling sempurna bagi saya yang ‘kere sumege’ ini. Sambil lesehan di atas tikar di tepi sungai pada malam hari, kita bisa pesan kopi seharga Rp3000. Cuma segelas kecil. Rasa kopinya ‘tahes’ banget, karena sepertiga gelas adalah bubuk kopi jagung. Habis ngopi, dijamin ‘melek’ sampai tengah hari. Hehehe..

Sambil ngopi, bisa pesan aneka makanan jalanan di situ. Maklum, ketabang kali dikelilingi rombong makanan. Mulai nasi goreng, mi godog, pecel ayam lele, tempe tahu telur penyet, dan lainnya. Harga seporsinya nggak sampai Rp10.000. Kadang seporsi bisa buat dua orang, kalau selera makannya seperti saya.

Tempat lain yang saya anggap murah meriah adalah pasar malam di lapangan Kodam V Brawijaya. Lokasinya yang dekat rumah membuat saya tahu betul isinya. Segala makanan khas Surabaya ada di sini, bahkan juga yang nggak khas. Mulai tahu campur, tahu tek-tek, bebek goreng, ayam, ikan, kikil, siomay, dan sebagainya. Melimpah dengan aneka pilihan. Lagi-lagi harganya di bawah Rp10.000. Rata-rata malah Rp6.000 kecuali bebek dan ayam penyet. Porsinya, meluber.

Sebagai orang Surabaya, tampaknya saya mesti mengamini pendapat Pak Abbas soal selerah ‘mumer’ perut orang Surabaya. Walau saya percaya, ada juga orang Surabaya yang tak begitu. Mengamini dan tidak malu. Memang begitulah adanya. Kalau ada yang murah, kenapa cari yang mahal? Hehehe..