Tags

, , , ,

karya Hanna Rambe, diterbitkan Sinar Harapan 1983

Waimital, nama desa itu. Di pelosok Seram Barat, tempatnya. Masih terisolasi, dihuni para transmigran pertama asal Jawa yang didatangkan sejak 1957. Hidup para transmigran mirip kerakal tumbuh di batu, hidup segan mati pun malu. Selalu saja banyak gangguan menimpa di samping tanah yang gersang dan jauh dari sumber air. Serbuan gerombolan pemberontak Permesta misalnya, atau keroyokan masyarakat lokal di desa tetangga yang menganggap para transmigran datang hendak menjajah Nusa Ina. Lalu, penyakit judi yang mirip kanker, menggerogoti harapan dan kehidupan mereka.

Lalu datanglah tiga mahasiswa IPB, Kassim Arifin dan dua temannya tahun 1964. Mereka mengemban tugas, membina demas (cikal bakal bimas) demi proyek swa sembada bahan makanan yang digulirkan pemerintah. Saat itu masih banyak rakyat yang kekurangan pangan, dampak baru merdeka dan terus-terusan digoyang pemberontakan. Kassim bersama kawannya ditugaskan selama 8 bulan membina petani transmigran meningkatkan produksi padi lewat panca usaha tani. Revolusi hijau memang marak dikembangkan saat itu (kondisinya beda dengan sekarang, dampak revolusi hijau justru dianggap merusak lingkungan dan memiskinkan petani).

Kedatangan Kassim ternyata salah mangsa. Musim bertanam padi baru 3 bulan ke depan. Dia pun bermain akrobat. Tanam jagung. Bibit jagung dia datangkan dari Buru. Modal bertanam dia pinjam dari bank. Dia tak mau perjalanannya sia-sia. Tiga bulan kemudian, ketika kawannya pulang mengurus kuliah, Kassim tetap tinggal. Tak hanya hingga 5 bulan, tapi 15 tahun. Lelaki kelahirang Langsa 1938 ini merasa, tugasnya belum rampung. Pekerjaan yang dimulainya belum menunjukkan hasil. Jadilah dia petani, bertelanjang kaki ke sawah, ladang, dan hutan, memikul pacul dan berselibang parang. Petani ‘keras’, banyak membuang energi untuk mendapatkan panen, begitu petani modern bilang tentangnya.

Apa yang dilakukan Kassim selama 15 tahun? Tanpa gaji tetap, tanpa bantuan pemerintah sepeser pun, dia membuka 300 ha sawah. Bersama penduduk, mereka membangun sendiri saluran irigasi sepanjang 8 km. Dia membendung hilir Sungai Riuappa, untuk dialirkan ke sawah penduduk. Irigasi yang dibangun selama 5 tahun, secara mandiri. Irigasi yang diperhitungkannya secara matang, karena kasihan melihat petani harus menggarap sawah malam hari agar mendapat jatah air. Bantuan dan perhatian pemerintah baru turun sesudahnya, ketika usaha Kassim didengar almamaternya, dipuji petinggi akademisnya, dan dilaporkan ke pemerintah.

Banyak lagi usaha yang dilakukan Kassim. Semisal memperbaiki mental para transmigran untuk tekun berusaha, membantu pemerintah membuka daerah transmigran baru di beberapa tempat dengan survei yang sebenar-benar survei. Bukan asal saja, seperti yang banyak dilakukan petugas pemerintah. Akibatnya, lokasi transmigrasi kerap tak sesuai prediksi. Transmigran kelaparan. Ada lagi peran Kassim, menjadi penengah masyarakat yang berkonflik, dan sebagainya. Semua dilukiskan dengan apik oleh Hanna Rambe, dalam bukunya ‘Seorang Lelaki di Waimital’.

00000

Membaca buku ini saya harus mengambil jeda berkali-kali. Menahan nafas. Merenungkan dan mencoba memahami apa yang sudah dilakukan Kassim. Begitu hormatnya sang penulis pada sosok Kassim, hingga dia memenuhi permintaannya untuk tak membuat buku mirip biografi. ‘Karena Kassim paling tak suka orang memujinya, menceritakan kebaikan-kebaikannya. Kassim pun enggan membuka kehidupan pribadinya,’ begitu tulis Hanna.

Maka, buku pun lebih mirip perjalanan Hanna Rambe memburu Kassim, mewawancarai semua orang yang kenal Kassim, mulai petani dan penduduk di Waimital, teman-teman kuliah Kassim, hingga dosen dan keluarganya di Aceh. Penulis mirip menceritakan pengalamannya ketika mulai mengenal Kassim, lelaki yang tasnya dipenuhi aneka benih dan contoh hama. Sebuah biografi yang ‘tak kentara’, sarat informasi, dan kerap ‘berat’ di otak saya yang kapasitasnya tak seberapa ini.

Banyak hal yang saya dapatkan dari membaca ‘buku pinjaman’ ini. Kesatu, bahwa masih ada segelintir orang yang mengorbankan dirinya demi kepentingan umum, tanpa pamrih, bahkan tanpa memikirkan dirinya sendiri. Seperti kata Kassim, ‘Dalam setiap generasi harus tertinggal satu atau dua orang yang sudi hidup bersih, menjauhi kebusukan, supaya orang jangan terlalu putus asa, melihat masih ada orang yang mau hidup baik.’

Ucapan itu dilontarkannya pada tahun 1964, ketika ‘menurut saya’, masih lebih banyak orang baik di dunia lebih sunyi ketimbang sekarang. Saya jadi bertanya-tanya, apakah harapan itu masih tersisa di abad 21 ini?

Kedua, lewat buku ini saya bisa menelusuri ihwal sejarah revolusi hijau di Indonesia. Bagaimana dan mengapa program transmigrasi dicanangkan pemerintah waktu itu, tentang hambatan awal dan harapan panca usaha tani, dan seterusnya. Saya lalu membandingkannya dengan buku ‘Agricultural Involution’-nya Clifford Geeertz yang diterbitkan 20 tahun lebih awal (Lelaki di waimital diterbitkan Sinar Harapan pada 1983). Setidaknya ini membuka cakrawala ‘awam’ saya, tentang mula pelaksanaan revolusi hijau. Tak hanya dampak buruknya sekarang, yang saya dapatkan dari laporan teman-teman LSM.

Ketiga, ini mirip undian berhadiah. Saya nemu berbagai resep menarik. Semisal, jika kaki kita terluka lalu infeksi, nyaris atau sudah tetanus, obatnya abu gosok panas yang dilabur dengan minyak kelapa. Letakkan ramuan ini di kaki yang luka berkali-kali, hingga panas abu gosok hilang. Dijamin, si pesakitan akan kesakitan atau pingsan. Sebanding dengan luka yang menyembuh.

Itu baru satu resep. Ada lagi resep menebang pohon besar tanpa butuh banyak tenaga, resep mengawetkan ubi kayu atau jagung. Rebus dulu, tiriskan, lalu jemur hingga benar-benar kering. Setelah itu simpan di para-para. Walau menghitam, rasanya tetap lezat jika direbus kembali. Ah, masih banyak lagi resep makanan. Mulai sagu, pisang, dan lainnya. Tertarik? Bacalah!

00000

Kelak Kassim alias mantri beurit (mantri tikus, karena sempat meneliti perkembangan hama tikus di Kerawang) ini mendapat gelar insinyur pertaniannya tahun 1979, dalam upacara wisuda istimewa. Di tahun 1983 dia kembali ke Aceh, tanah kelahirannya, menjadi dosen di Universitas Syah Kuala, sambil memelihara kedua orangtuanya yang sudah sepuh. Dia juga pendiri Konservasi Ekosistem TN Gunung Lheuser. Tampaknya dia tak bisa hidup terpisah dari masyarakat, kaum tani. Walau, lahir dari keluarga bukan petani.

Paska membaca buku ini, Waimital atau Gamba menjadi salah satu agenda saya mengunjungi Seram. Banyak yang ingin saya telusur di desa dekat Kairatu ini. Bukan berniat menjadi petani seperti Kassim, atau pendamping petani, (karena saya lebih suka menjadi pengabar dan pemikir), namun ingin menunjukkan bahwa di dunia ini, di bumi nusantara yang mencuat ‘kebusukan dan apriori’ ini, masih tersisa harapan, masa depan yang lebih baik.

Benar kata taufiq Ismail,

Di Waimital Kassim mencetak harapan,  Di kota, kita mencetak keluhan

Advertisements