Tags

, , ,

“Di tempatku, lebih banyak orang yang sakit infeksi saluran pernafasan atas ketimbang tumbang akibat ganasnya digigit aedes aegepti,” keluh lelaki itu. Kami sedang berbincang seru di bandara, menunggu pesawat yang menerbangkanku ke sebuah pulau tempat Alfred Russel Wallace enam tahun menyepi.

Lelaki itu hendak pulang ke kampungnya di Halmahera Timur. Dia baru mengantarkan istrinya melanjutkan studi paska sarjana pada sebuah universitas di Solo. Tempatnya bekerja, sebuah puskesmas kecamatan di kaki gunung. Buli nama ibukota tempatnya tinggal.

“Indahkah tempatmu tinggal?” tanyaku, coba abaikan hubungan antara malaria dengan bengek. Kubayangkan, tinggal di pegunungan yang sejuk tentulah nyaman. Apalagi dikelilingi hamparan hutan lebat. Hutan kenari, hutan pala, dan lada. Amboiii seksinya.. serasa termimpi menjadi Lawao kembali.

“Tentu indah. Kalau melihat ke bawah, kampungku sungguh permai. Di mana-mana padang hijau menghampar. Kecipak air sungai besar berarus deras memecah keheningan. Namun jika memandang ke atas, selalu berkabut akibat debu yang diterbangkan tempat penambangan emas.”

“Tambang emas di puncak gunung?” Wow..! Aku jadi teringat Jaya Wijaya.”

Perhatianku lalu tersita ke berita-berita tentang penambangan emas milik Freeport dan konflik dengan warga sekitar. Seorang kawanku bekerja di Freeport, sedang  kawan yang lain bekerja sebagai fasilitator masyarakat sekitar Freeport. Keduanya saling mengenal baik, walau pekerjaan mereka bertentangan.

Aku berkisah tentang kedua kawanku itu kepada lelaki tadi. Kemudian aku sarankan dia dan penduduk kampungnya memakai semacam masker jika keluar atau bekerja di rumah. Lalu kuberikan sedikit resep ramuan tradisional yang ‘mungkin’ berguna bagi penduduk sekitar, agar ISPA tak secepatnya menggerogoti sepasang paru mereka. Lelaki itu terkesan.

“Kau harus ke tempatku, harus. Kau harus melihat semua itu. Harus,” dia memaksaku, meyakinkan bahwa kisahnya bukan semata bualan kosong, bahwa banyak yang bisa kulakukan jika datang langsung ke tempatnya tinggal. Permintaannya tentu tak mungkin kutolak. Aku kan bisa numpang tidur di rumahnya jika mau, atau ke pemuka kampung di sana.

Kelak aku lebih teringat Teluk Kao kalau mengingat percakapan kami waktu itu. Suatu ketika, aku pernah singgah di sana dalam perjalanan pulang dari Tobelo tuju Jailolo. Teluk Kao dulunya kampung para pembuat kapal terkenal yang disebut Dowingo-Jo. YB Mangunwijaya merasa perlu mengabadikannya dalam sebuah novel bertitel ‘Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa’.

Di masa pendudukan Jepang, Teluk Kao jadi pangkalan artileri pasukan Jepang. Hingga kini masih banyak tank dan kapal Jepang jaman Perang Dunia kedua terkubur di dalam lautnya. Entah dimana emas-emas itu tersembunyi sebelum ditemukan, hingga tempat di perbatasan Kao dan Malifut ini jadi rebutan. Kasus perebutan tambang yang bernilai ‘memakmurkan’ pemerintah setempat ini pernah dituding menjadi salah satu faktor yang memicu kerusuhan atas nama agama di Maluku Utara tahun 2001-2002 lalu. Tapi tambang emas di Buli?

“Oke, aku akan datang. Tunggu saja,” kataku dengan nada bias. Aku tak begitu yakin bisa sampai ke sana. Trasportasi masalahnya. Beberapa hari paska mendarat di tanah Khairun, transportasi darat ke Buli ditutup gara-gara banjir dan cuaca buruk.

Mau lewat udara? Aduuh.. entah kapan ada pesawat mau terbang. Mesti menunggu penumpang penuh dulu. Entah berapa juga ongkos yang mesti kukeluarkan. Kuingat isi dompetku semakin menipis. Lalu Ternate dilanda hujan abu akibat kemarahan Gunung Gamalama. Sambil terbatuk-batuk menuju Benteng Gamolamo siang itu, kubayangkan orang-orang di Buli. Sebatuk akukah.. atau lebih parah?

Advertisements