Dulu, saya kerap terbengong-bengong setiap kali melihat kawan yang plesir ke luar negeri. Pasti dia orang kaya, hidupnya makmur, duitnya berlebih, dan simpanan dolarnya bertumpuk. Itu pikiran saya saat itu. Tidak seperti saya yang hanya sanggup keliling Indonesia, dicicil dari satu pulau ke pulau lain. Mulanya Bali, merembet ke Lombok, numpang truk ke Sumbawa dan  Flores, lalu Timor saat tugas ke Timor Leste. Kemudian menjangkau Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, dan Maluku. Dicicil bertahun-tahun, sebagian karena berbarengan dengan pekerjaan, tapi lebih sering merogoh kocek sendiri.

Karena berat di ongkos, khususnya pada bea transpot, saya lalu berprinsip ‘jalan-jalan itu harus berisi’. Tak semata melihat pemandangan alam, kebudayaan yang berbeda, atau yang indah-indah, tapi harus saling berkontribusi. Ada yang saya pelajari di setiap perjalanan, ada yang saya dapatkan, namun juga ada yang bisa saya sumbangkan. Walau, sumbangan itu sekedar berbagi informasi. Walau, kadang bisa berbentuk mengajar bahasa Inggris anak-anak SD seperti di Flores. Kadang malah cuma berbagi resep obat tradisional dan buku. Itu sebabnya, setiap kali memulai perjalanan, ransel lebih banyak terisi buku dan kain khas Jawa ketimbang bekal makanan. Tujuannya, buat barter, berbagi. Semampunya saja, tidak memaksa. Karena saya tahu, sangu saya mepet.

Belakangan saya mulai sadar, ongkos transportasi keliling Indonesia ternyata jauh lebih mahal ketimbang pergi ke manca negara. Sebagai contoh, untuk terbang dari Surabaya ke Ambon, setidaknya saya harus mengeluarkan ongkos Rp800.000 sekali jalan. Itu jika memesan tiket jauh-jauh hari. Promo maskapai penerbangan jurusan ini nyaris sulit ditemukan. Sedang jika hendak terbang ke Singapura atau Penang, beanya bisa sepertiganya, kadang malah gratis. Banyak maskapai penerbangan memberikan promo ke jurusan ini.  Hadeuh… pantas orang lebih suka jalan-jalan ke luar negeri ketimbang mengenal negeri sendiri. Jauh lebih murah.

Tak hanya transportasi, soal penginapan pun bak langit dan bumi. Di seputar Angkor Wat misalnya, masih ditemukan penginapan senilai 3 USD. Juga di Melaka, bahkan juga Penang, Malaysia. Tentu bentuk yang ditawarkan semacam dormitory, tempat tidur ramai-ramai ala asrama. Toh hal ini dilengkapi dengan fasilitas mirip dapur, tersedianya kamar mandi, kipas angin atau AC, juga fasilitas laundry dan free wifi.

Saya bandingkan dengan di Indonesia. Waktu jalan ke Morotai, losmen termurah seharga Rp100.000 per malam. Cuma kamar tanpa kipas angin atau AC, tak ada handuk, sabun, apalagi minuman gratis. Ngenes! Losmen di Bali masih mendingan. Di Bedugul misalnya, masih saya temukan losmen seharga Rp 75.000 walau tanpa fan atau AC dan minuman gratis. Di Jogja, masih bertebaran losmen seharga Rp 50.000. Tapi ya cuma kamar dan kamar mandi di luar. Sabun atau handuk gratis, cuma di kelas hotel berbintang dua. Free wifi? Hanya mimpi!

Melihat fasilitas tempat wisata di Indonesia yang memrihatinkan, tak heran kawan bule saya berujar, ” Your country is expensive and unaccessable!” Dibanding negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, Kamboja, jelas ongkos berlibur ke Indonesia relatif lebih mahal. Belum lagi transportasinya yang susah dan tak bisa diduga. Jika hendak ke Sumatra, Jawa, Bali, hingga Lombok mungkin masih ada penerbangan lokal. Di luar itu, mesti menunggu dan jadwal kerap penuh. Andai mau dadakan, mahalnya bikin empot-empotan.

Bisa juga sih keliling Indonesia murah meriah. Mau ke Maluku atau Papua misalnya, naiklah kapal laut. Tapi butuh waktu berhari-hari dan kesabaran ekstra. Stamina fisik dan mental harus siap terkuras. Padahal wisatawan ‘mampu’ biasanya punya waktu yang terbatas, mereka kan punya pekerjaan juga.  Akibatnya, mereka hanya bisa menikmati Indonesia dengan cara mahal.

Merenungkan hal ini, saya cuma bisa berandai. Andai noda transportasi di Indonesia ini banyak dan lancar. Selalu ada kapal yang menghubungkan ke 13.600 pulau ini dengan jadwal yang tepat. Selalu ada promo untuk menjangkau tempat tertentu, baik dari angkutan, biro wisata, hotel, dan lainnya. Dengan begitu orang Indonesia akan lebih melirik tempat-tempat wisata di Indonesia. Kalau tidak, mencintai Indonesia akan selalu mahal!