Tags

,

Mungkin kau pernah berjalan ke daerah terpencil, jauh dari peradaban modern, demi menikmati senyap. Mungkin kau hendak bernyaman-nyaman dengan alamnya, berdamai dengan kesederhanaan hidup penduduknya. Mungkin juga kau sedang berlibur atau melarikan diri dari kejaran dedlen dan pikuknya modernitas yang menyesakkan dada. Saat itu kau benar-benar butuh menyepi, menyegarkan pikiran dan hati, demi pulihnya semangat hidup.

Di tempat itu kemudian kau sadari betapa murahnya semua kenikmatan ‘mahal’ yang harus kau bayar. Penginapan semalam plus tiga kali makan hanya berharga Rp 50.000. Sekali minum di warung sederhana ditarik ongkos Rp 2.000. Kau akan berpikir, ‘Betapa murahnya kehidupan di sini? Lalu bagaimana orang-orang ini terus menjalani kehidupan, lepas dari himpitan materi?’

Tanya tinggallah tanya hingga suatu hari kau sempatkan melongok sebuah sekolah di desa itu. Tak semua anak yang bersekolah mengenakan seragam. Ada juga yang berpakaian seadanya. Beberapa anak bersepatu, beberapa mengenakan sandal. Bahkan mungkin akan kau temukan satu dua anak bertelanjang kaki.

Ketika melongok ke sekolah, kau lihat perpustakaan sekolah hanya berisi buku-buku cerita dasar. Begitu minim jumlahnya, sehingga kau bayangkan betapa murid-murid ini haus akan bacaan. Lalu tergelitiklah hatimu untuk menyumbang beberapa buku dan peralatan belajar bagi anak-anak di sekolah ini. Kau hendak membuka cakrawala dunia bagi mereka. Dalam bayanganmu, dengan mencerdaskan anak-anak ini maka nasib desa itu akan berubah. Tak lagi terbelakang, namun bisa semaju dan semodern kota tempatmu tinggal. Taraf hidup penduduknya pun akan meningkat searah kemajuan yang desa itu capai. Benarkah demikian?

00000

Mungkin itu pula yang dirasakan oleh John Wood, manajer pemasaran Microsoft wilayah Cina saat itu. Dia sedang menyusuri Nepal, dalam liburan dua minggunya. Hatinya terketuk saat melihat perpustakaan sebuah sekolah yang berisi buku bacaan bekas tinggalan para turis. Maka terbentiklah di benaknya untuk kembali lagi nanti, sambil membawa bantuan buku buat sekolah itu.

Kelak, John Wood tak hanya kembali membawa buku-buku. Namun dia juga membangun perpustakaan di seantero Nepal, lalu Bangladesh, Vietnam, Kamboja, bahkan Afrika. Setidaknya ada 7000 perpustakaan yang dibangunnya di seluruh dunia lewat lembaga yang didirikannya, Room to Read. Demi panggilan hatinya ini, dia melepas karir 9 tahunnya yang cemerlang di Microsoft, dan bergiat membangun yayasan sosialnya ini. Yayasan yang bergerak dalam pengadaan perpustakaan, pemberian beasiswa bagi murid perempuan. Intinya, John berharap pendidikan anak-anak di negara ‘dunia ketiga’ bisa lebih baik.

Itu intisari yang kubaca dari buku ‘Room to Read’ yang terjemahannya diterbitkan oleh Bentang. Kesuksesan John Wood membangun Room to Read tak lepas dari ketekunannya, dedikasinya, jaringannya yang luas di penjuru dunia, dan kemampuannya bernegosiasi, yang didapatnya dari pengalaman bekerja di Microsoft.

Aku tak akan berpanjang lebar membahas isi buku ini. Apalagi terjemahannya, menurutku, sangat datar dan nyaris membosankan. Padahal topik yang diangkat sangat besar. Andai si penerbit atau si editor mau berpayah-payah menata kalimat di buku ini, ‘Room to Read’ akan jadi menarik dan menginspirasi lebih banyak orang.

00000

Di Indonesia, gerakan mirip Room to Read pun mulai merebak. Ingat kiprah Bloger Sejuta Buku yang menggandeng Indonesia Mengajar. Mereka menghimpun bantuan sejuta buku untuk disebarkan di sekolah-sekolah di Pulau Seram. Adalagi gerakan Pintu Belajar Tambora, yang menyediakan buku-buku pelajaran bagi sebuah sekolah di Desa Tambora, Sumbawa. Masih banyak lagi kegiatan serupa.

Menyumbang buku adalah gerakan paling dasar dan paling mudah yang bisa dilakukan buat daerah di pelosok. Namun cukupkan hanya itu? Setelah anak disiram beragam buku, diajar membaca menulis, lalu apa? Apa tujuan berikutnya?

Paska anak menyelesaikan sekolah dasar, tentu dia ingin bersekolah ke tingkat lanjut, terus begitu. Ketika orangtuanya punya cukup bea, cita-citanya terus menjejak pendidikan tinggi, kemungkinan besar tercapai. Tapi kalau keluarganya miskin, mungkin dia harus puas dengan sekedar kemampuan membaca, berhitung, dan mimpi-mimpi tentang ‘dunia modern ala kota’ seperti yang dibacanya pada sebagian buku-buku. Atau orang-orang hebat yang ditemuinya di buku-buku. Padahal, hidup tak selalu mirip kisah dalam buku.

Masih ingatkah kau kala masih kecil, betapa jawaban menjadi dokter begitu populer kala kita ditanya tentang cita-cita. Kini, kenyataannya hanya orang kaya saja yang bisa menjadi dokter. Baru masuk kuliah kedokteran, sumbangannya sudah beratus-ratus juta. Jika kau berotak bagus, berkemampuan ekonomi pas, pilihan kuliah di teknik atau ekonomi lebih ‘masuk akal’. Jika otakmu ‘luar biasa’, keluargamu miskin, namun semangatmu ‘baja’, mungkin kau bisa kuliah di ke dokteran. Pendidikan di abad ke-21 ini luar biasa mahalnya. Nyaris tak terjangkau oleh keluarga kelas ekonomi pas-pasan.

Jika kondisi pendidikan di daerah yang dianggap tidak terbelakang saja demikian, bagaimana dengan pelosok? Memberi lautan buku tak selalu menjadi solusi. Adalagi pendidikan utama selain buku yang justru amat penting, belajar mengenal dan memahami potensi daerah sendiri. Dengan mengenal dimana seorang anak tinggal, kelebihan dan kekurangan daerahnya, seorang anak lalu diajar untuk mengoptimalkan kelebihan tempatnya tinggal, dan menambal segala kekurangannya.

Sebagai contoh, anak yang lahir di sebuah pulau, secara alami diajar untuk menangkap ikan, berenang, tak takut ombak, dan lainnya. Buku akan membantunya mengenal jenis ikan apa yang ada di pulaunya, bagaimana mengolah ikan tersebut agar bernilai jual tinggi, atau hal yang berkaitan dengan perahu dan kapal nelayan. Tentu dia boleh menjadi dokter atau guru. Tapi mengenal diri sendiri sebelum menjadi, itulah pendidikan terpenting.

Begitu juga dengan anak pegunungan, anak yang hidup di belantara, dan sebagainya. Ajarilah anak dengan mimpi, dengan buku, tapi jangan lupakan tanah tempat dia berpijak. Karena, dari tanah itulah dia bisa hidup, berkembang biak, dan menyejahterakan hidupnya.

Jangan ajari anak tentang mimpi atau berani bermimpi, tapi ajari juga dia tentang cara mencapai mimpi. Jangan ajari bintang di langit sebelum mengajar dia bumi tempat dia hidup. Ah.. jadi teringat Thoureau!

Advertisements