Tags

,

Malingping mah jauh, masih 30 kilo lagi. Naek ojek aja teh, sewa setengah hari,” saran ibu penjual warung tatkala kutanya angkutan yang menuju Malingping.

Aku sedang terdampar di Bayah siang itu. Kelelahan, kelaparan, dan mengantuk, paska perjalanan panjang dari Bogor jelang subuh. Aku hendak menuju Malingping, mengeksplorasi keindahan alam salah satu kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten ini.

Malingping sudah membuatku jatuh hati sejak seorang kawan, fotografer BW kawakan, kerap memajang keindahan Malingping dalam foto-foto karyanya. Kawanku itu begitu terpesona akan pantai dan laut di Malingping. Jadi kuputuskan untuk mengunjungi Malingping dalam perjalananku ke barat kali ini.

Kupandang ibu itu. Kurasa sarannya benar. Jadi kuanggukkan kepala tatkala dia menghubungi ojek kenalannya. ‘Siapa tahu dapat harga murah,’ begitu pikirku.

Delapan puluh rebu Teh, nggak bisa kurang. Teteh bisa pake saya sampai jam lima. Pulang dari  Malingping nanti saya antar ke Sarwana,” rayu tukang ojek. Tak bisa ditawar, apalagi dibantah.

Mahal amat!’ pikirku. Bahkan di Ternate, Halmahera dan Morotai yang jauh di timur saja, sewa tukang ojek lebih murah. Lima puluh ribu untuk setengah hari. Padahal bensin di sana dua kali lipat harga di Jawa.

Setengah hati kuterima tawarannya. Kami lalu melaju menuju Malingping. Beberapa kali aku minta berhenti di sepanjang jalan untuk memotret. Sayang cuaca tidak mendukung. Mendung selalu. Padahal, terlepas dari ongkos ojek yang mencekik leher, pemandangan sepanjang Bayah-Malingping sangat indah. Beberapa kali kami melewati tambang dan pengepul batubara. Gundukan batubara muda beberapa kali tampak di sisi pantai. Beberapa truk pengangkut batubara siap membawanya menuju Bandung dan Jakarta.

Jika di sisi kiri jalan adalah pantai dan tempat mengumpulkan batubara, sisi kanan membentang sawah menghijau, kontras dengan bukit gundul bekas tambang batubara. Wilayah Lebak memang kaya akan tambang batubara dan emas, selain padi. Namun pembangunan di kawasan Jawa bagian selatan ini nyaris jalan di tempat. Masyarakatnya pun sangat sederhana.

Sempat kulalui sebuah jembatan yang membelah sungai. Jembatan lama tampaknya, sisa peninggalan jaman Belanda. Juga kulalui lumbung-lumbung padi kuno, bangunan Belanda juga. Sebagai bagian Kabupaten Lebak, Malingping dulu menyuplai padi buat ketahanan pangan kumpeni di Batavia. Saat itu, kumpeni menerapkan pajak berkali lipat yang ditegakkan dengan sangat kejam. Ingat Lebak, jadi ingat kisah Saijah dan Adinda. Ingat juga penulisnya, Multatuli.

Baru satu jam berjalan, hujan mengguyur. Kami pun menepi di sebuah saung, menuju hujan mereda. Lalu kami melaju melalui Cibodas, Pulau Manuk, dan tempat pelelangan ikan di Muara Binuangen. Di sini aku banyak ngobrol dengan nelayan dan penjual ikan.

“Minggu kemarin baru saja digelar upacara di sini, Teh. Teteh terlambat,” kata seorang lelaki yang menjadi ketua perhimpunan nelayan.

Menurutnya, hasil ikan di Muara Binuangen ini dijual ke daerah Jawa Barat, bahkan juga Jakarta. Kusempat memasuki pasar ikan. Aneka udang, bandeng, lobster, dipajang begitu saja di lantai. Karena jelang sore, tempat pelelangan ini pun sepi. Sayang kutak sempat membeli, karena masih harus mengunjungi beberapa tempat lagi.

Jika kau sempat menyusur pantai selatan Jawa bagian barat, jangan hanya singgah ke Sarwana atau Bayah. Kunjungi juga Malingping. Kujamin, kau akan temukan sensasi lain. Pantai, kesenyapan, dan nuansa yang lekat dengan era kolonial dulu. Sunyi yang indah walau dibalut miskinnya fasilitas. (bekas postingan di negeri tetangga)

Advertisements