Tags

, , , ,

Rek ayo rek mlaku-mlaku nang Tunjungan

Rek ayo rek rame-rame bebarengan

Lagu yang begitu terkenal ini, menjadikan Surabaya identik dengan Jalan Tunjungan. Padahal menurut saya, itu lagu kuno. Surabaya tak sekedar Tunjungan, Tugu Pahlawan, atau Jembatan Merah. Masih banyak tempat menarik lainnya di kota buaya ini, lepas dari masker kota besar, kota dagang, yang dijamuri mall.

Di sudut-sudut Surabaya, tersembunyi banyak keindahan, kisah, dan cerita. Orang Surabaya sendiri, mungkin belum mengenalnya. Di antaranya adalah :

Tambak Garam Benowo

Di ujung barat Surabaya, berbatasan dengan Kabupaten Gresik, tersisa sedikit tambak garam. Hanya sekitar 40 ha, di Kecamatan Benowo. Tambak garam yang indah digambar, dikunjungi, jelang matahari terbit dan senja.

Sekali saya ke sana. Berangkat dari rumah di Surabaya Selatan jelang pukul lima pagi. Berkendara mengejar matahari terbit. Ketika memasuki kawasan Benowo, di jalan samping tol Surabaya-Gresik, saya terpesona pada kilau emas memantul dari air sekitar tambak. Puluhan kincir angin berjajar menggerus udara pagi. Dan kanal-kanal tempat mengalirkan air dari laut tuju tambak menganga di kedua sisi jalan.

Berjalan di tengah tambak garam, mirip melangkah di negeri dongeng. Sepintas, ingatkan akan kincir angin negeri Nederland. Sekejap, berdiri di depan gardu-gardu listrik raksasa, seolah dikelilingi Menara Eiffel. Tentu ini hanya fantasi. Namun sudut Benowo mampu menghadirkan imaji itu.

Di musim kemarau, tambak penuh dialiri air laut. Pekerja ada di mana-mana, menggerakkan rol penghalus tanah dan siwur, penciduk air laut dari kayu. Di siang hari, kincir berputar searah angin. Kalau mentari terlalu terik, para pekerja akan berteduh di gubuk-gubuk yang muncul pada satu dua areal tambak garam.

Mengunjungi tambak garam, bercengkerama dengan para pekerjanya, sungguh menambah pengetahuan dan penghargaan akan garam kehidupan. Garam rakyat yang dihasilkan dengan susah payah.

Hutan Mangrove Wonorejo

Paska mengunjungi kawasan wisata hutan mangrove di Muara Angke dan hutan mangrove di Pantai Samas, Jogjakarta, barulah terbersit keinginan saya untuk sambang ke hutan mangrove kota sendiri.

Pagi itu, bersama dua kawan, saya berkendara menuju ke arah Stikom. Kami melalui gang kampus itu hingga melewati gedung IPH, markas taksi Orenz, lurus melaju di jalan beraspal. Lalu melalui jalan tanah offroad yang dimusim hujan akan digenangi air. Tak berapa lama plank bertuliskan ‘Ekowisata Mangrove’ membentang di depan mata, diikuti gubuk-gubuk pemacing dan warung sesekali nampang, hingga akhirnya mencapai ‘Dermaga Wisata’.

Hari itu akhir pekan. Banyak pengunjung hutan mangrove seperti kami, di antaranya para pencinta dan pengendara sepeda balap. Trek menuju hutan mangrove, menurut mereka lumayan menantang. Kadang kering, kadang berlumpur, tanahnya bergelombang naik turun.

Tak seperti hutang mangrove di Muara Angke yang berbayar mahal, di sini tak berbayar. Pengunjung hanya dikenai tarif parkir kendaraan. Murah meriah, bisa bebas memotret, termasuk motret pre-wedding, dan warung-warung makanan di kawasan ini pun terjangkau kantong.

Memasuki hutan, kami disambut tiga kera yang bergelantungan di pohon dekat dermaga. Awalnya kami ingin berjalan kaki, mengikuti trek dari kayu. Sambil melaju, terdengar kicau aneka burung dan beberapa kali kami berpapasan dengan hewan kecil mirip ikan kutuk, kadal, kepiting berkaki biru di sepanjang jalan.

Menurut pihak pengelola, setidaknya, ada 187 jenis burung menghuni kawasan ini. Selain itu mudah ditemui monyet jenis laut atau monyet berekor panjang yang jinak dan tidak suka mengganggu. Jika malas berjalan kaki, kita bisa menyewa perahu motor dengan tarif Rp 25.000 per orang. Tak harus menunggu penuh, perahu langsung melaju begitu ada 3-5 penumpang. Serasa naik perahu sendiri. Dengan perahu, kita bisa menyambangi ujung hutan mangrove yang berbatasan dengan laut lepas sambil menghirup udara segar.

Belakangan, ada atraksi menarik hutan mangrove di waktu malam. Yaitu, ribuan kunang-kunang yang keluar di sela hutan mangrove bagian tengah. Sayangnya, harus menyewa speedboat jika mau keliling mangrove di tengah malam. Pasal, harus melawan arus. Lumayang ongkosnya, berkisar Rp 200.000 per speed. Ternyata seribu kunang-kunang tak hanya ada di Manhattan (meminjam judul novel Umar Kayam), tapi juga di Wonorejo.

Kampung Semanggi

Tinggal di Surabaya, siapa yang tak kenal semanggi? Makanan khas arek Suroboyo ini sepopuler rujak cingur, lontong balap, atau tahu tek-tek. Tapi tahukan Anda kalau semua penjual semanggi di Surabaya, berasal dari kampung yang sama? Namanya Kampung Semanggi.

Kampung Semanggi berada di Desa Kendung, masih di kawasan Surabaya Barat juga. Bersama kawan, saya meluncur ke Jalan Moroseneng Raya, lalu berbelok ke kiri saat menemukan pertigaan di dekat pos polisi. Memasuki Jalan Kendung Raya, kami harus berhenti di depan sebuah rumah sakit, berjalan kaki memasuki gang menuju kawasan pekuburan untuk menemukan Kampung Semanggi.

Di Kampung Semanggi banyak hal tak terduga saya temukan. Di luar wajah Surabaya yang metropolis, ternyata masih tersisa sudut desa. Sepanjang jalan saya melalui sawah dan ladang kacang hijau. Di kanan kiri jalan berderet pohon mangga yang berbuah lebat. Buahnya bahkan sejangkauan tangan. Herannya, tak ada yang usil berniat mencuri atau memetiknya. Sambil memandang lebatnya buah mangga, saya pun manggut-manggut. ‘Pantas di sini, satu kilogram mangga seharga lima ribu saja.’

Saat memasuki kawasan rumah penduduk, lagi-lagi saya terpana. Memang rumah-rumah itu terbuat dari bata. Tapi halamannya luas dan dipenuhi dedaunan semanggi, ubi jalar, dan beberapa pohon pisang. Di halaman belakang rumah, terlihat tungku batu untuk memasak. Sesekali kami berhenti untuk mengamati tungku batu yang tersisa. Ubi jalar berwarna jingga merupakan salah satu bahan membuat bumbu semanggi.

Puas menjelajah kampung dan beramah-tamah dengan penduduk, kami pulang. Eeeh.. di tengah jalan kami bersimpangan dengan penjual jangkrik lengkap dengan kotak-kotak penyimpannya, dan bayam sebagai umpannya. Baru saya tahu kalau jangkrik itu sebangsa popeye, karena suka makan bayam. Hahaha..

Cangkruk ala Ketabang Kali

Memang banyak kafe dan rumah makan enak di Surabaya, termasuk tempat kongkow seperti di kali pinggir Keputran. Namun tempat ngopi dan makan murah meriah ala proletar yang paling asyik tetap di Ketabang Kali. Di sini kita bisa makan, cangkruk, sambil menikmati indahnya Kalimas di waktu malam. Kilau lampu-lampu sepanjang kali, termasuk dari belakang gedung gurbernuran Grahadi, bisa ditangkap di sungai sepanjang Ketabang Kali.

Kita bisa duduk lesehan di atas tikar, ngobrol ngalor-ngidul sambil memesan kopi seharga Rp 3000. Walau murah, kopi ini bikin begadang sampai subuh. Maklum saja, ampas kopinya sepertiga gelas sendiri. Hehe..

Di sepanjang Ketabang Kali, banyak penjual makanan jalanan. Mulai mie, soto, pecel, dan aneka makanan khas Surabaya. Harga per porsinya tak sampai Rp 10,000. Murah bukan? Dan yang penting, nyaris tak ada pengamen mengganggu. Bandingkan dengan Malioboro yang setiap lima menit selalu muncul pengamen baru di warung tempat kita makan.

Belanja Kerang dan Rambak di Kenjeran

Kalau Anda bingung cari oleh-oleh khas Surabaya, ada baiknya mengunjungi kawasan Kenjeran. Kawasan pantai ini tak hanya asyik buat nongkrong memandang laut, namun juga dipenuhi industri kerajinan rumahan, semisal kerajinan kerang dan krupuk ikan.

Paska bertandang ke Madura, suatu hari saya sempatkan lewat Nambangan, sebuah kampung di sekitar Kenjeran. Kampung yang dibelah jalan sempit, dipenuhi rumah petak sumpek. Di antara rumah-rumah itu menyembul gerai kerajinan kerang sederhana. Tak menyolok mata, kecuali beberapa kerajinan yang digantung di depan lapak.

Di gerai kerajinan ini bisa kita temukan aneka barang kerajinan seperti boneka, udang-udangan dan teripang yang tinggal kulitnya dan biasa dijadikan pajangan di meja mahal. Juga pigura foto berbentuk hati dan kotak, bulu babi dan kerang dara besar yang menimbulkan gaung khas jika didekatkan ke telinga, mirip nyanyian lumba-lumba. Harganya sungguh murah, berkisar antara Rp 7.000 – Rp 15.000. Ada juga perhiasan seperti gelang, bros kura-kura, jepit rambut, yang harganya Rp 10.000 per tiga biji.

Di antara kerajinan ini, ada kerai atau tirai dari kerang yang begitu eksotis dan tampak etnis. Bergemerincing jika tersentuh, terbuat dari aneka kerang kecil yang dijalin sepanjang dua meter. Harga per bundel –terdiri dari dua belas lajur- berkisar antara Rp25.000-30.000. Sangat murah.

Tak melulu kerajinan, ada juga penganan khas seperti krupuk ikan alias rambak, teripang, dan aneka krupuk lainnya. Harganya relatif terjangkau. Satu plastik besar hanya Rp15.000. Bandingkan jika sudah masuk swalayan, harganya bisa tiga kali lipat. Krupuk ikan ini kerap ditemukan di pasar pagi Tugu Pahlawan.

Kenyang bererang, bermain dengan air laut, tangan pun penuh menjinjing kerai kerang-kerangan dan krupuk ikan. Itu khas wisata Kenjeran. Akhirul kata, selamat jalan-jalan di Surabaya, sambil ingat parikan di bawag ini,

‘Tuku kerang nang kenjeran,

  Suroboyo iku gak muk Tunjungan, Rek’

Catatan:

baca juga : kampung semanggi di ‘Sebuah Desa di Sudut Kota’

                   tambak garam benowo di ‘Tambak Garam Rakyat.. Oo Nasibmu’

                   mangrove wonorejo di ‘Pagi di Mangroovabia’

                   kopi ketabang kali di ‘Selera Perut Orang Surabaya’

                   kenjeran di ‘Nyanyian Lumba-lumba di Kenjeran’

Advertisements