Tags

,

Seorang kawan mengirimiku buku bertajuk Premortem dengan sedikit pesan. ‘Buku ini bikin aku mumet. Aku nggak ngerti apa yang ingin disampaikan penulisnya.’ Tak hanya teman tadi, teman lain pun merasa bingung paska membaca novel mini karangan J Angin yang baru diterbitkan Gramedia tadi.

Iseng, buku ini kubuka-buka begitu sampai di rumah. Awal membaca aku memang mumet. Tapi aku tak membaca secara biasa, runtut dari awal hingga akhir. Kubolak-balik bagian buku secara acak. Toh hanya 130-an halaman. Kulihat plot di buku ini berbaur, maju mundur, suka-suka yang nulis. Tak ada judul di setiap bagian. Tiap bagian mengisahkan tokoh yang berbeda, namun secara umum menjurus ke dua tokoh utama, Bagus dan perempuan yang menikah dengan Abang.

Dalam kata pengantar di sampul belakang, dikatakan bahwa isi buku terserah pada tafsiran pembacanya. Jadi akan kugambarkan jalan cerita buku ini menurut tafsiranku. Beda pembaca bisa saja beda tafsiran. Jadi tak ada benar atau salah.

Dua tokoh utama dalam buku ini adalah Bagus dan Mbak, panggilan buat perempuan yang menikah dengan Abang. Bagus, digambarkan mengalami kelainan sejak kecil, tubuhnya ditumbuhi subur bulu dan mirip manusia kera. Dalam pembuka digambarkan Bagus dipecat oleh majikannya karena tak pernah tersenyum.

Paska dipecat, Bagus justru sukses berwiraswasta. Sempat dia membunuh perampok di sebuah toko emas yang hendak mengambil cincin peninggalan ayahnya.

Memang tak ada petunjuk jelas yang mengisahkan tokoh yang kugambarkan ini bernama Bagus. Namun bukti yang menunjukkan lelaki itu Bagus, bertebaran sepanjang cerita. Kait-mengait dari satu bagian ke bagian lain. Di sini pembaca harus jeli mengamati potongan informasi di tengah kebingungannya akan isi cerita berbau misteri ini.

Begitu juga pada bagian yang mengisahkan Mbak. Mbak yang menikah dengan Abang lewat sedikit perangkap nakal. Mbak yang kehilangan anak lelakinya, lalu Mbak yang ‘menghidupkan’ kembali Abang paska mengalami kecelakaan yang mengerikan.

Bagaimana Abang dihidupkan? lewat donor premortem ‘yang kurasa’ berasal dari tubuh anaknya. Kelak Mbak pun mengorbankan dirinya sebagai donor bagi keponakannya, Jenny, yang menderita kanker. Kepala peneliti dimana Mbak menyerahkan organnya untuk didonorkan, adalah Bagus. Jadi isi novel memang kait-mengait, mirip kepingan teka-teki yang sengaja diaduk, dibaurkan, dan disamarkan.

00000

Menurutku, membaca buku ini mirip membaca kisah Hercule Poirot, tokoh rekaan Agatha Christie dalam novel-novel detektifnya. Kalau Poirot bergumul dengan misteri pembunuhan, di sini pembaca dihadapkan pada pertanyaan ‘Siapa lelaki tanpa senyum yang ditampilkan di bagian awal buku?’ Atau, ‘Siapa perempuan di kebun mawar pada akhir buku (kusebut perempuan, karena ada dialog yang mengatakan perempuan lebih berani ketimbang lelaki), dan apa keterkaitannya dengan lelaki di awal buku?”

Mungkin, masih banyak lagi pertanyaan yang muncul. Mirip kawanku yang bertanya, ‘Jadi apa hubungan antara ustadz dan Romo Adil?’ Kujawab saja dengan ringan, ‘Ustadz Adil mengajarkan kepada bapak si Bagus bagaimana menaklukkan musuh yang besar. Lalu Bapak si Bagus membakar toko megah di depan tokonya. Kalau Romo, tempat si Mbak mengadukan masalahnya paska ‘menghidupkan’ suaminya dua tahun lalu, dan kini kala Mbak hendak menyelamatkan nyawa keponakannya.’

Apakah tafsiranku salah? Atau Anda, pembaca lain punya tafsiran yang berbeda? Silakan kemukakan. Yang jelas, bagiku membaca Premortem mirip bermain-main dengan teka-teki silang!

Oya, sedikit informasi tentang penulisnya, J Angin, selama ini lebih dikenal sebagai cerpenis. Cerpennya bertaburan di media nasional. Cerpennya bertajuk ‘Infini’ masuk menjadi ‘Kumpulan Cerpen Kompas Pilihan 2009’.

Kalau ada yang bertanya, apa pesan yang disampaikan novel ini? Jujur, aku tak mendapat pesan apapun, selain keasyikan bermain dengan teka-teki. Walau judulnya ‘Premortem’, yang bisa mengarah ke donor organ ketika seseorang jelang ajal, namun pesan ini tak kuat dilindas pengarangnya dalam buku ini. Jangan-jangan buku yang diterbitkan bersamaan dengan tragedi Sukhoi ini numpang sama nama. Premortem di Sukhoi berarti sakratul maut.

Apapun itu, selamat membaca,

Advertisements