Tags

, ,

Kubayangkan Iwan Sunter yang kelelahan, badan kuyup kena hujan. Tapi itu tak membuatnya berhenti mengayuh sepedanya, melewati kota kecil Bangkinang di Riau menuju Tanjung Pauh, Sumatra Barat. Iwan terpukau memandang keindahan di depan matanya. Begini tulisnya, ‘Sahabat, pemandangan yang kusaksikan selama dalam perjalanan dari kota  Bangkinang menuju Tanjung Pauh, subhanallah, sangat luar biasa. Sungguh menakjubkan! Selama melakukan ekspedisi kali ini, baru saat ini aku menyaksikan suatu pemandangan alami yang begitu menakjubkan. Sungguh sulit kulukiskan, sahabatku.”

Rasa cinta Iwan terhadap negerinya pun bertambah berkali lipat. Iwan, satu di antara banyak pejalan di negeri ini. Menjelajah nusantara berbekal sepeda dan sangu yang minim. Dalam perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan, kerap dia tidur di masjid, numpang di warung orang, markas mapala universitas setempat, atau pos polisi. Manis getir perjalanan berulang dikecapnya. Semisal kala dia mau menumpang di pos polisi Aek Kotabatu, dia diperlakukan bak residivis dan diambil gambarnya. Atau ketika seorang pejabat setempat memberinya empat butir permen sebagai sangu untuk melecehkan perjalanannya.

Pernah juga Iwan terserang penyakit cacar air di awal perjalanannya dari Jakarta menuju Pulau Weh. Namun cobaan yang terberat saat ayahnya meninggal dunia tepat ketika dia menjejak Larantuka. Namun semua ditelannya dengan lapang hati. Rasa getir sepadan dengan manisnya pertemanan, persahabatan, dan indahnya pemandangan yang dicecapnya dalam perjalanan panjang dari Jakarta ke Pulau Weh misalnya, atau Jakarta ke Larantuka, bahkan Manado-Jakarta.

Kisah Iwan bisa dinikmati di blognya, http://iwansunter.blogspot.com/, lewat catatan harian yang ditulisnya, atau ditulis kawannya, Kuat Slamet. Kadang catatan mirip diary itu berisi singkat saja, jarak dan tempat yang ditempuhnya pada waktu itu, atau bermalam dimana. Kadang begitu panjang lebar, mengisahkan orang-orang yang ditemuinya, atau perjuangan berat yang dilakukannya sambil diiringi humor yang menggelikan hati. Misalnya ketika naik Gunung Rinjani menggunakan sepeda melalui jalur Sembalun, ada saat dia naik 100 m membawa sepedanya dulu, lalu turun 100 m, naik lagi sambil membopong ransel. Begitu seterusnya. Whalaah… kalau aku, sudah kubuang sepedaku di bawah pohon. Tapi Iwan tidak. Tak ada kamus putus asa dalam sikapnya.

Siapa Iwan Sunter? Selintas kubaca dia dulu pendaki gunung. Sudah lebih 110 kali dia naik gunung-gunung di Jawa, Sumatra, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi sejak 1990. Bosan hanya mendaki, dia lalu menjajal berkeliling nusantara naik sepeda sejak 2005. Kau tahu, sepeda sungguh amat menyenangkan, menantang, dan sangat mengirit bea perjalanan. Buat petualang bermodal materi pas-pasan macam Iwan (dan juga Gola Gong di masa lalu), sungguh surga berkeliling nusantara bahkan dunia naik sepeda.

Kudengar Iwan sempat bersepeda menuju Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam. Hal yang sama dilakukan pendulunya, Gola Gong, di awal 1990-an dan dituangkan dalam bukunya, Perjalanan Asia.

00000

Sebuah buku tergeletak di depanku. Meraba Indonesia, judulnya. Ditulis oleh Ahmad Yunus, bertutur tentang perjalanannya dan Farid Gaban, keduanya jurnalis, keliling Indonesia selama setahun menyelesaikan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Meski sudah terbit tahun 2011, aku baru membacanya sekarang. Menarik? Tentu. Karena tak banyak orang Indonesia yang menyempatkan waktu lama untuk mau mengelilingi negerinya.

Dalam bukunya Yunus bercerita betapa menegangkan dan heroiknya mereka menjelajah Sumatra, Kalimantan, dan beberapa pulau, di atas motor butut 100cc. Mereka mengunjungi pulau-pulau terluar Indonesia, merasakan sendiri betapa buruknya pelayanan kapal-kapal Pelni, betapa minimnya fasilitas yang dinikmati penduduk pulau perbatasan, betapa terbiar dan terabaikannya keberadaan dan kepentingan mereka, serta betapa nggragasnya petugas negara yang seharusnya mengayomi rakyat tapi justru jadi perompak.

Semua kisah dirangkai Yunus lewat sudut pandangnya saat bersinggungan langsung dengan obyek di sekitarnya. Buku ini mengandung unsur heroisme, petualangan, kenekadan, ‘kata sebagian orang’ kegilaan, pandangan yang tajam akan kondisi sekitar, dan lain-lain pujian.

Aku tak hendak membandingkan, karena jelas tak terbandingkan. Iwan menjelajah Indonesia dengan keterbatasan sebagai warga negara biasa. Tak ada kartu pers, tak ada jaminan kawan atau kenalan dimana dia bisa bermalam di jalan, uang sering mepet, tak pula kemungkinan bahwa kisahnya bakal dikenal atau didokumentasikan orang. Semata niatnya didorong oleh keinginan bertualang, mengenal negerinya, ya keindahannya ya kebobrokannya. Satu-satunya jejak yang ditinggalkannya hanya diary ala kadarnya. Mungkin juga andai sempat berjumpa dengannya, dia akan menuturkan pengalamannya yang luar biasa secara lisan. Kurasakan itu.

Yunus, seperti anak muda Indonesia lainnya, merasa terkaget-kaget merasakan betapa buruknya pelayanan transportasi antar pulau di Indonesia. Persinggungannya dengan permasalahan orang kecil kepulauan, menimbulkan sikap kritis dan dituangkannya dalam laporan. Kemudaannya membuat laporannya ala ‘Meraba Indonesia’ masih kental dengan keakuan, betapa hebat pengalaman yang ‘kualami’, atau betapa gila ‘kami’ berkendara keliling Indonesia, dan sebagainya.

Buku ini bagus. Seperti kata kawan yang mantan jurnalis, mampu membuka mata khalayak, pembaca, akan kondisi kepulauan Indonesia yang sebenarnya. Siapa tahu malah bisa mempengaruhi kebijakan negara atas warganya. Siapa tahu!

Tapi buat orang yang kapasitasnya seperti Yunus, aku berharap lebih. Tak sekedar laporan pandangan mata dibumbui sejarah atau empati dengan nasib orang yang ditemuinya, aku berharap Yunus mau berkisah lewat kesaksian orang-orang yang ditemuinya sepanjang jalan. Laporan ala saya kadang kurang mengena dibanding obyek-obyek yang berbicara sendiri, orang-orang yang ditemuinya. Kurasa ‘Meraba Indonesia’ mirip permukaan, sekedar pembuka akan negeri ribuan pulau yang terbiar ini. Masih banyak kisah Yunus yang tak diceritakan. Mungkin kisah itu akan terangkai pada buku-buku yang ditulis Farid Gaban berikutnya. Kuharap begitu.

00000

Dua kisah di atas membuatku tersadar (sejak dulu sebetulnya) tak perlu menjadi kaya agar dapat menjelajah nusantara. Yang penting tekad, kemauan yang kuat. Pasal ongkos bisa disiasati. Kalau tak punya cukup uang buat transpot, ya naik sepeda atau berjalan kaki. Kadang fisik pun tak berpengaruh banyak. Ingat Gola Gong yang mampu berkeliling Asia mengendarai sepeda dengan satu tangan. Cukuplah tekad, sekedar uang, dan bekal mental tentunya.

Tentu ada yang harus dikorbankan untuk melihat Indonesia lebih dekat. Namanya ‘waktu’. Waktu bisa berarti kerelaan cuti panjang dari pekerjaan, atau bahkan keluar dari pekerjaan atau rutinitas. Waktu juga bermakna kerelaan berpayah-payah, berlambat-lambat sepanjang jalan kala mengarungi lautan dan daratan nusantara. Waktu bahkan berarti kesadaran menambah bekal seperti belajar sejarah dan adat tempat yang bakal dilewati, meningkatkan ketrampilan yang berguna semisal mengajar, pertanian, pengobatan dan lainnya agar bisa membaur dan menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar.

Komunitas kawan-kawan muda di Surabaya, yang menyebut dirinya ‘hifatlobrain travel institut’ memulai kecintaan akan Indonesia ini tak hanya lewat perjalanan, tapi juga mendokumentasikan perjalanan. Tak melulu melaporkan dan menuliskan mana tempat yang indah, mana hotel termurah, mana warung makan terenak, tapi menggali kisah di balik makanan, budaya masyarakat, dan kearifan lokal. Seorang pejalan, penjelajah, tak hanya berjalan, memandang, mengangguk-angguk terkagum-kagum, mengabadikannya dalam foto (kalau perlu, semua ada foto diri sebagai bukti dia berada di sana). Tapi adalah orang yang bisa belajar di setiap perjalanan. Menjadi dewasa di jalan, bijak di jalan, dan yang penting, menjadi manusia di jalan. Bukan semata turis atau mereka yang merasa berkunjung ke planet lain. Aha!

Advertisements