Tags

, , , , , , , , ,

Setumpuk buku pesanan datang padaku. Dua di antaranya baru selesai kubaca semalam dan kuanggap cukup bergizi. Satu buku bertitel, ‘Frank Sinatra Kena Selesma’. Cerita ketiga pada buku terjemahan yang diterbitkan Banana ini membuatku ngilu. Kisah tentang petinju Muhammad Ali paska terkena Parkinson, semacam penyakit saraf yang melumpuhkan kendali gerakan dan otot tubuh.

Bagaimana tidak ngilu, Ali yang dikisahkan oleh Cal Fussman  di Majalah Esquire ini sungguh di luar bayanganku tentang penderita Parkinson. Memanglah Ali mulai sulit mengontrol gerakannya, terbata-bata dan lambat dalam berucap, sehingga  kerap dia mengutarakan kehendaknya dengan bahasa simbol. Semisal dia menggambar segitiga sebagai ganti sepotong pai, dua lingkaran di udara sebagai dua tangkup es krim vanila, dan bunyi ‘guuk! guk!’ agar pai berselimut dua tangkup es krim vanila tadi dimasukkan ke dalam doggie bag, kantung sisa makanan.

Namun Ali yang lamban dan sulit bergerak itu memaksakan diri bangkit dari kursinya, untuk menyambut Cyril Ramaphosa, arsitek kebanggaan Nelson Mandela, ketika dia menjadi tamu presiden Afrika Selatan itu. Ali yang cacat itu malah sempat menghibur kawan-kawannya dengan trik permainan sulapnya, atau menyempatkan waktu menyalami seorang anak yang lumpuh, yang ingin bertemu dengannya. Ali tak pernah mengecewakan penggemarnya. Ali selalu ingin melayani orang.

Ada saat-saat Cal menjumpai Ali mampu bergerak gesit, berlari, atau menari ketika mereka latihan tinju bersama. Seolah sekejap Parkinson diangkat dari tubuh Ali. Sebuah kontradiksi. Namun bukankah Tuhan kerap memberikan keajaiban-keajaiban kecil bagi makhluk yang disayangi-Nya? Tentang penyakitnya ini, Ali cuma berucap, “Semua orang besar diuji Tuhan… aku sedang diuji… untuk melihat apakah aku tetap berdoa… apakah aku tetap beriman. Aku sedang diuji.’

Yang paling kusuka adalah penutup artikel ini. ‘Tetapi itu tak masalah. Tindakan selalu bicara lebih lantang ketimbang kata-kata. Dan jika kau perlu kata-kata, hikmah yang ia ambil dari hidup bisa direduksi menjadi satu. Memberilah.’

Kurasa hakikat hidup adalah memberi. Dan kini, jika kau tertarik membaca dalam bahasa aslinya, kuberi tautannya di sini. Jika tidak, baca saja bukunya. Tiga kisah di dalamnya kurasa pantas kau simak. Memperkaya!

Buku ini adalah terjemahan ‘Dare to Dream’ karya Sandra Mcleod Humphrey, berkisah tentang 25 orang hebat Amerika yang menginspirasi dunia. Beberapa tokoh di buku ini telah kubaca ketika masih kecil. Di antaranya Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Helen Keller, atau Abraham Lincoln. Sedang tokoh seperti Bill Cosby, Michael Jordan, atau Glorian Estefan baru kutahu kiprahnya kala dewasa.

Tetap saja biografi pendek para tokoh ini membuatku kerap ‘gumun’, karena ada bagian kisah hidup mereka yang baru kudengar. Semisal aku baru tahu kalau Thomas Alva Edison pernah membuat gerbong bagasi sebuah kereta terbakar, karena eksperimennya sambil berjualan di stasiun kereta. Atau Hellen Keller sempat mematahkan dua gigi gurunya, Anne Sulivan, sebelum akhirnya tunduk kepada pengajaran gurunya itu.

Siapa sangka kalau Martin Luther King Jr, pejuang anti rasial yang mempraktekan ajaran Mahatma Gandhi adalah pegulat tangguh. Sedang Wilma Rudolph, pelari tercepat olimpiade tahun 1960-an ternyata pernah terserang polio dan kakinya lumpuh. Film biografi Wilma Rudolph pernah kusaksikan di teve ketika aku masih sekolah dasar. Memberi kesan mendalam, sehingga adik bungsuku nyaris dinamai Rudolph.

Ada kesamaan dalam semua tokoh yang ditulis Sandra Mcleod dalam bukunya ini. Mereka harus berjuang keras untuk mencapai kesuksesan. Begitu banyak hambatan yang menghadang, mulai kondisi buruknya ekonomi keluarga, diskriminasi rasial, cacat fisik, hingga pandangan lingkungan yang merendahkan. Kurasa buku ini tak hanya layak dibaca anak-anak dan remaja untuk memotivasi mereka, tapi juga orang tua yang mulai kelelahan dan kehilangan semangat menjalani hidup. Menurutku, yang membuat ke-25 tokoh (sayangnya tanpa Muhammad Ali) ini begitu menginspirasi tak hanya perjuangan panjang mereka menjadi sosok yang dikagumi, tapi juga sumbangan mereka bagi kehidupan dan kemanusiaan. Ah, selalu semua bermuara ke satu hal ini. Hidup baru bermakna jika kita berguna bagi sesama. Jadi bukan soal harta dan nama besar keluarga semata.

Advertisements