Tags

,


Ketika bapakku meninggal dua puluh tahun lalu, keluargaku mengadakan semacam kenduri plus tahlilan selama waktu tertentu. Semula kenduri diadakan setiap malam sepanjang tujuh hari. Lalu pada hari ke-40, ke-100, tahun pertama (pendak), dan 1000 hari sebagai kenduri penutup. Ibuku memang orang Jawa yang muslim. Kenduri yang kami lakukan, adalah wujud akulturasi budaya Jawa dengan Islam yang sudah berlangsung  berabad-abad, sebagai bentuk penghormatan kepada bapak sekaligus menghantarkan ruhnya ke dunia lain.

Kepercayaan menghantar arwah orang yang meninggal ternyata tak semata milik orang Jawa, tapi juga milik semua suku di Indonesia. Sebut saja orang Kubu dengan adat melangun-nya, orang Toraja dengan Rambu Solo-nya, orang Batak dengan Sarimatua lewat pembuatan Tambak dan masih banyak lagi yang lain.

Semua tradisi ini berakar dari kepercayaan animisme di masa lalu, kosmologi hidup nenek moyang yang menganut keseimbangan antara dunia nyata dengan alam arwah. Apalagi arwah orang yang meninggal dalam kenyataannya tak langsung meninggalkan kita. Masih terasa dalam ingatanku, sepanjang 1000 hari kematian bapak, dia kerap datang menemui kami. Kadang dalam mimpi, kadang dalam kelebat ingatan, kadang malah bayang-bayang wajahnya melekat erat di mataku. Aku merasa, saat dia datang mirip hendak mengatakan sesuatu, atau mengingatkan akan hal yang terlupa. Tidak dengan kata, tentunya.

Kandangan, makam Sultan Iskandar Tsani dan permaisurinya di Aceh

Kandangan, makam Sultan Iskandar Tsani dan permaisurinya di Aceh

Arwah orang mati kerap meninggalkan rasa takut bagi yang ditinggalkan. Takut pengaruh buruk roh tersebut dalam kehidupan mereka. Inilah yang melahirkan tradisi melangun dalam masyarakat Kubu. Ketika ada sanak keluarganya yang meninggal, orang Kubu akan melangun, meninggalkan genah, gubuk yang ditinggali secara bersama-sama untuk mencari tempat tinggal baru.

Dalam perjalanan, para wanita dan anak-anak akan meratop, menangis keras-keras. Mereka hidup dengan merayow, mengumpulkan makanan di hutan selama berbulan-bulan hingga menemukan genah baru untuk ditinggali. Tradisi Kubu ini seolah menegaskan batas halom nio atau alam dunia dengan halom dewo atau alam kasat mata. Kedua alam tak boleh disatukan, walau saling mempengaruhi. Makna di balik tradisi ini adalah membiarkan tanah menemukan kesuburannya kembali setelah berbulan-bulan ditinggalkan. Tradisi yang berkaitan dengan kearifan lokal dalam bercocok tanam.

genah yang ditinggalkan orang Kubu untuk melangun

Di Pulau Siberut, kepercayaan yang mirip Kubu pun berlaku. Ketika ada orang yang meninggal di sebuah dusun, jasadnya harus segera dikuburkan paska ukuran tubuhnya dan telapak kakinya diukir pada pohon durian sebagai kirekat. Kirekat kemudian dianggap sakral dan tidak boleh ditebang, walau buahnya boleh dimakan.

Jasad lalu diusung menuju kuburan dengan menghindari jalan dusun. Bagi mereka, jalan dusun hanya untuk orang  hidup. Jasad lalu dikubur jauh dari lokasi pemukiman penduduk, agar tak memberi pengaruh buruk pada warga dusun.

Orang Mentawai percaya bahwa dunia roh berlawanan kondisinya dengan dunia nyata. Maka kerap mayat dikubur bersama dengan barang-barang yang sengaja rusak. Misalnya kalung yang diputus lebih dahulu, kain yang sudah disobek, lulak atau tempat makan yang dibelah, gelas yang dipecahkan.

Usai pemakaman baru diadakan punen atau upacara selama tiga hari. Sepanjang upacara, masyarakat dusun dilarang bekerja di ladang, memotong sagu, membuat api, atau mencari ikan dan keladi, bahkan membuat tato.

Seminggu paska penguburan, kepala muntoghat atau kepala klen akan menyelenggarakan  upacara masipaeru anggai. Tujuannya untuk menghindari perubahan sosial dan epidemi dalam anggotanya akibat ada yang mati tadi. Upacara diharapkan akan mengembalikan keseimbang dalam uma atau rumah komunal yang dirusak oleh kematian.

kuburan di Tanah Karo

Sementara di Rante Pao, Toraja, ritual kematian kerap amat mahal dan menghabiskan harta keluarga. ‘Orang Toraja hidup, bekerja, untuk menyongsong kematian,’ begitu kata kawanku Onald yang berdarah Toraja. Mungkin karena Onald berasal dari keluarga bangsawan yang dipandang tinggi tingkatannya. Di Toraja, kematian seorang bangsawan atau si empunya kekuasaan harus dipestakan semeriah mungkin. Ribuan orang hadir, puluhan bahkan ratusan kerbau dan babi dikorbankan, dan pesta berlangsung berhari-hari.

Begitu besar bea yang dikeluarkan sehingga pesta kematian baru berlangsung berbulan bahkan bertahun berikutnya, ketika dana buat pesta tercukupi. Orang Toraja percaya arwah si mati baru bisa menuju Puya atau alam arwah paska dipestakan. Kerbau yang dikorbankan akan menjadi kendara si mati menuju Puya. Begitu tingginya penghormatan akan dunia arwah ini, membuat banyak keluarga terpandang Toraja miskin demi mengadakan pesta kematian.

Kondisi di Toraja mengingatkanku akan Tambak-tambak yang menjulang sepanjang Tomok menuju Tuk-Tuk di Samosir. Sungguh kontras kemewahan menhir ala marmer ini  dibanding dengan rumah penduduk sekitar yang begitu sederhana, dikepung alam yang tandus. Di Toba, kata kawanku, yang mati akan menuju Tuhan, dabata mula jadi na bolon. Maka sudah selayaknya dipahatkan tugu kenangan semewah mungkin. Apalagi kini, masalah tambak juga terkait harga diri dan status ekonomi.

Tambak di samosir

Ah.. masih banyak lagi yang ingin kukisahkan tentang tradisi kematian suku-suku asli Indonesia ini. Begitu banyak nilai dan makna yang bisa kita pelajari darinya. Ada yang baik, mirip menjaga kelangsungan alam lingkungan, ada yang dampaknya justru memiskinkan hidup kita.

Sebelum kututup kisah ini, ada baiknya kau dengarkan tembang seorang kawan Rambang dari masa lalu tentang budaya kematian yang dituturkan secara turun temurun oleh neneknya, Ayuindap binti Rikum, sebagai dongeng pengantar tidur atau andai-andai  kala dirinya masih bocah.

Ade kakak langkedipe lalu?

Mati disait ulu lading

Ulu lading kemuning jawe

Ukiran semut gatal itam…

Kalau kuterjemahkan, akan bermakna :

Adakah kakak langkedipe lewat?

Mati tersayat ulu pisau

Ulu pisau kayu kemuning jawa

Terukir sehalus ukiran semut gatal hitam…

Dongeng ini mengisahkan ketika Langkedipe mati. Dia tersayat ulu pisau berbahan kayu kemuning Jawa, yang ukirannya sangat halus sehalus jejak semut. Istrinya, Putri Renik Kuning, tak tinggal diam. Dia mengejar ruh suaminya, bertanya kepada sesiapa yang ditemuinya. Misalnya, dia bertanya kepada sekumpulan penugal huma. Sayang, mereka menolak menjawab karena tampangnya yang lusuh, awut-awutan.

Ketika ditolak, dia pun sakit hati dan melaknat mereka, hingga akhirnya dia bersua Nineng Rande Kesian yang menjual rangkaian bunga untuk para penghuni surga. Surga ternyata tersembunyi di atas loteng rumah perempuan tua itu. Berkat rangkaian melati yang dibuatnya, Langkedipe mengenali dirinya. Apakah akhirnya mereka bersatu kembali? Kurang tahu aku! Bukankah alam nyata dan arwah memang terpisah? Kurasa Putri Renik Kuning harus mati dulu agar arwahnya berkumpul dengan suaminya. Apapun itu, tradisi menghantar arwah tampaknya kuat melekat dalam kehidupan orang Indonesia.