Tags

, ,


buku Sabda Palon karya Dhamar Sasangka dan diterbitkan Dolphin

Kesan saya saat pertama kali melihat buku ini, tertawa! Bagaimana tak tertawa, sampul depannya bertulis ‘best seller’. Bukan merendahkan, tapi saya memang malas membaca buku yang bersampul best seller. Mungkin itu promo efektif buat penerbit, buat saya mirip membaca buku yang dibaca semua orang. Andai saya menuliskan resensinya, akan mirip mengulang-ulang apa yang sudah dituliskan orang lain. Entah pujian, harapan, atau mengulang sinopsis.

Kalimat kedua yang saya baca adalah ‘Kisah Nusantara yang Disembunyikan’. Kisah apa? Pertanyaan itu mengantarkan saya membaca sampul belakang. Oo.. tentang saaat-saat terakhir masa pemerintahan Majapahit, tentang Islam yang mulai tumbuh di tanah Jawa, Lalu ada tokoh Sabda Palon dan Naya Genggong. Dalam buku sejarah populer, sulit menemukan nama dua tokoh ala punakawan ini. Baru ketika spesifik membaca buku Jawa lama mirip serat Darmagandul, baru ada nama mereka.

Saya baru benar-benar membaca novel ini tatkala terdesak mencari hubungan antara Adityawarman, Arya Damar, dan Raden Patah. Bermula saat hendak menyelesaikan artikel bertitel ‘Jejak Muslim Pecinan di Palembang’. Dalam  semalam tuntas saya baca Sabda Palon seri I. Kesan saya, buku bagus dengan referensi sejarah yang kuat, tanpa saya perlu mengamini kisah yang diusung penulisnya.

Sementara buku kedua Sabda Palon justru saya baca lebih dulu. Menurut saya, buku pertama jauh lebih bagus jika ditinjau dari kaitan dan rerensi sejarah. Buku kedua lebih mirip kisah suspense, ada jalinan ketegangan di sana-sini pada petualangan trio putra berdarah Champa sejak menginjakkan tanah Jawa hingga menyebarkan syariah Islam. Ketegangan yang dikaitkan dengan hilangnya perlindungan Majapahit terhadap orang-orang negeri atas angin (Cina) yang tinggal di pesisir utara Jawa.

00000

Dalam serat Darmagandul disebutkan bahwa Sabdo Palon adalah penasehat Brawijaya V, raja terakhir Majapahit yang menganut Buddha. Ketika Brawijaya digulingkan oleh pasukan Demak, Sabdo Palon tidak terima dan bersumpah akan kembali 500 tahun kemudian untuk mengembalikan kejayaan tanah Jawa.

Dari sejarah inilah novel Sabda Palon digulirkan oleh penulisnya, Dhamar Shasangka. Beberapa sinopsis buku Sabda Palon bisa Anda baca di sini untuk seri ke-1, dan di sini  untuk seri ke-2. Saya tak akan berpanjang-panjang lagi menuliskannya.

Pada intinya, di buku pertama ini Dhamar memperkenalkan tokoh-tokoh cerita yang bakal menghiasi kisah novel yang rencananya ada tujuh seri ini. Dia menggambarkan awal terbentuknya Majapahit, lalu pemerintahan para rajanya, gejolak sosial politik yang mewarnai, termasuk aneka pemberontakan. Kisah berlanjut jelang akhir masa kejayaan Majapahit dan datangnya utusan dari Champa untuk mengajarkan Islam.

Pada seri pertama ini kita disuguhi siapa Sabdo Palon dan Naya Genggong, siapa Sayyid Ali Murtadlo, Bong Swie Hoo, Swan Liong dan tokoh lainnya. Juga hubungan antar tokoh di tanah Jawa ini. Membaca setiap bab di buku ini, kita dituntun memasuki abad-abad emas kerajaan di Jawa, dengan narasi dan deskripsi yang begitu jelas. Bravo buat Dhamar dengan riset pakaian, suasana, dan alam Jawa masa itu. Tak semata riset tahun, nama tokoh, dan peristiwa.

Sepengetahuan saya, menulis novel sejarah tak hanya dituntut membuat jalinan cerita yang runtut dengan deskripsi dan fantasi yang kuat, tapi juga harus melakukan studi literatur sejarah yang berat. Dhamar tentulah bersusah-payah menelusur, menelisik, lalu membaca dan mempelajari literatur sejarah nusantara, bahkan juga sejarah negara tetangga terkait Majapahit, sebelum merangkainya lewat epik yang menarik. Dia mungkin merasakan bahwa studi literatur yang dilakukannya terasa lebih berat dan panjang dibanding saat menuliskan kisah di buku ini. Itu sebabnya, hanya sedikit orang yang menceburkan diri ke dalam penulisan fiksi sejarah. Satu di antara segelintir yang piawai itu adalah Pramudya Ananta Toer.

00000

Ada hal menarik yang saya amati paska novel ini diterbitkan. Antusiame pembaca, khususnya mereka yang merapat ke barisan penganut spiritualisme di Jawa dan Bali (mungkin juga di pulau lain). Entah itu kaum kejawen, penganut Hindu, Syiwa-Buddha, Buddha, bahkan juga agama lainnya. Apakah ini pertanda muaknya sebagian orang Indonesia dengan polah pemimpin negeri dan ontran-ontran ala segelintir penganut agama mayoritas di tanah air ini. Bisa jadi mereka adalah pembaca yang merindukan kembalinya ajaran leluhur, mereka yang menunggu kebenaran ramalan Sabda Palon ini.

Iseng saya amati blog-blog dan grup-grup spiritualisme di Indonesia. Betapa cepatnya mereka mengumpulkan anggota. Tak berlebihan kalau saya bilang bahwa spiritualisme di Indonesia berkembang pesat akhir-akhir ini. Penganutnya, ya penganut lima agama yang diwajibkan pemerintah plus penganut aliran kepercayaan. Mereka seolah dahaga menemukan ajaran baru yang lebih menekankan pada nilai-nilai kedamaian, ketenangan, dan menghindari konflik. Suatu ajaran tentang laku, cara bersikap terhadap orang lain dan menghadapi perbedaan, juga bagaimana menghayati Tuhan lewat laku tersebut. Jadi tak semata tentang syariah atau hubungan fisik makhluk dan Tuhan.

Saya pikir ini ada hubungan dengan maraknya konflik yang diusung golongan yang mengatasnamakan agama tertentu. Agama yang di negeri ini dikontrol oleh pemerintah lewat sila pertama, ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’, kini dibopong oleh segelintir kelompok untuk melakukan tindakan anarkhis, merusak tempat ibadah agama lain misalnya, atau memerangi kelompok lain yang tidak seide dengannya. Ironisnya, kelompok ‘sangri’ alias sangar dan nggegirisi ini secara tak langsung mendapat dukungan pihak yang berkuasa, demi mengamankan kekuasaannya.

Kondisi ini tentu saja memicu reaksi dalam masyarakat. Sebagian kecil bereaksi secara terang-terangan melawan kelompok tersebut. Namun lebih banyak yang mencari alternatif damai, dengan mencari ‘agama baru’. Bukan berpindah agama yang sudah terlanjur tercantum dalam KTP. Agama lama masih diakuinya. Namun mereka menjadi penganut aliran yang lebih kompromis dan mengakui toleransi dalam keberagaman. Spiritualisme menjadi salah satu alternatifnya.

Saya tak hendak mempermasalahkan isi buku Sabda Palon ini. Dalam buku, Dhamar mencoba mengurai bagaimana Hindu dan Buddha tersingkir di Jawa, digantikan oleh Islam. Saya hanya ingin menegaskan serasa kembali menguak sejarah yang ditulis ulang Dhamar, bahwa agama apapun yang masuk ke tanah Jawa bermula lewat jalan damai. Alih-alih mengajarkan kekerasan ala bangsa mamluk, Islam disebarkan oleh Wali Songo lewat akulturasi dengan budaya Jawa, misal lewat wayang beber. Begitupun Kristian yang masuk lewat misi kemanusiaan para misionaris.

Hah.. mungkin saya sudah terlalu jauh ‘mendayung sauh’. Yang jelas, paska membaca buku ini, saya merasakan ajakan halus si penulis untuk meninjau ulang sisi perilaku dan keagamaan kita yang mulai menghancurkan nusantara. Akankah kita biarkan kerusakan ini terus berlanjut, ataukah kita bisa kembali menerapkan ajaran luhur nenek moyang tentang toleransi, menghargai umat manusia sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan tak peduli agamanya? Bukankah urusan manusia dengan Tuhannya adalah hal yang sangat pribadi, jadi tak seharusnya ada manusia atau kelompok yang menuhankan dirinya untuk mengatur urusan manusia dengan Tuhannya.

*catatan :

Ini sekedar tulisan ringan ala ‘saya’ dalam memaknai buku Sabda Palon ini. Sekedar pendapat pribadi. Bukan demi kemashalatan umum dan tak hendak memenuhi kaidah penulisan resensi ala ‘mereka’.