Tags


Ini tulisan lama. Saya posting kembali buat nambah pengetahuan. Siapa tahu berguna. Hehehe..

sumber :mypotik.blogspot.com

Empat bulan lalu saya sakit gigi. Taring di kiri bawah memang sudah problem sejak sepuluh tahun lalu. Sudah berkali-kali ditambal. Mungkin kali ini tambalannya lepas sehingga sakit lagi. Mungkin juga sudah terkena syarafnya, kok sakitnya nggak biasa, cenut-cenut dan kemeng. Padahal saya yakin tidak sedang bengkak atau infeksi.

Sudah tiga gigi saya dicabut. Saya berharap tidak ingin menambah perbendaharaan ompong di mulut. Memakai gigi palsu sungguh tak nyaman. Mau implan gigi nggak cukup duitnya. Andai ada cara menyelamatkan gigi yang ada, pikir saya.

Saya hubungi kawan semasa kuliah yang kebetulan menjadi staf poli gigi di RS Adi Husada Surabaya. Dr Lingga Vidiana Cokroamintarso namanya. Dia spesialis endodonsia alias konservasi gigi. Saya tanya apa bisa me-rescue gigi saya. Bisa, katanya. Silakan datang ke klinik besok pagi.

Pagi keesokan harinya saya datang. Rupanya kondisi gigi tidak terlalu parah. Lubang sudah menembus email dan sampai dentin. Setelah dibersihkan, lalu bagian yang lubang diberi obat dan ditambal sementara. Seminggu kemudian saya harus datang untuk tambal permanen.

Dasar memandang remeh kesehatan gigi, saya malah berlayar ke Madura minggu berikutnya. Lalu ke Sumatra. Lupa dengan kondisi taring yang belum oke. Minggu lalu si taring protes, waktu saya pakai makan rasanya luar biasa nyeri. Bahkan disapu lidah pun menyakitkan. Jangan-jangan terbuka tambalan sementaranya, saraf-sarafnya sudah terbuka nih, pikir saya. Baru saya ingat Lingga lagi.

Senin saya datang ke rumah sakit lagi. Betul, gigi saya sudah parah. Lubang sudah menembus ke pulpa, tempat bersarangnya pembuluh darah dan saraf. Pantas nyeri kalau tersentuh ludah atau makanan. Lingga pun melakukan perawatan saluran akar atau root canal treatment. Dia melihat gigi saya masih hidup. Maka dia bersihkan gigi saya, lalu membubuhkan obat yang berfungsi mematikan syaraf gigi.

“Tiga hari lagi kamu datang, Ry,” katanya. Saya cuma meringis kesakitan sambil mengangguk. Dia melarang saya makan selama dua jam awal, agar obat meresap. Memang benar, dua jam pertama gigi rasanya cekot-cekot, kemeng. Tapi setelah itu baik-baik saja, tidak sakit untuk mengunyah makanan.

Kamis pagi kembali saya ke rumah sakit. Gigi saya dibersihkan kembali. Pusat saraf gigi disuntik anastesi, tujuannya agar tak sakit waktu proses membersihkan saluran akar. Lingga lalu membor gigi saya dengan menusukkan jarum yang bentuknya seperti ulir. Tujuannya untuk mengambil jaringan mati yang masih tertinggal di saluran akar.

Lama juga proses ini, hampir satu jam. Bermacam jarum dia masukkan karena akar gigi saya rupanya dalam. Setelah itu, dia melakukan sterilisasi dengan menyemprot semacam cairan. Pedih rasanya. Lalu dia memasukkan obat ke dalam saluran akar yang rasanya minta ampun. Sengak, bau, dan nggak enak. Baru kemudian dia menambal lubang di gigi saya.

Biasanya dokter memberi obat dan antibiotik paska perawatan akar gigi. Gigi yang baru diambil akarnya akan terasa sakit. Namun karena satu hal, saya tak mengambil obat tersebut. Untung rasa sakit tak saya rasakan. Sudah mati rasa, sih !

Ada yang menarik dari hasil ngobrol dengan Lingga. Menurutnya sebaiknya orang merawat giginya ketimbang mencabut gigi yang sakit. Kenapa?

“Kalau gigi dirawat seperi ditambal atau dibungkus dengan porselen, maka gigi dapat berfungsi kembali seperti semula, sebagai alat untuk mengunyah,” jelasnya.

Namun kalau gigi sudah begitu rusaknya sehingga hanya tersisa hanya sedikit akar gigi, sebaiknya dicabut dan cepat ganti dengan gigi palsu. Gigi yang hilang dan tidak segera diganti dengan gigi palsu akan membuat gigi di sebelahnya bergeser dan gigi antagonisnya akan turun ke arah ruang yang kosong. Gigi tersebut akhirnya akan goyang dan harus dicabut.

“Bukannya menghilangkan masalah, tapi malah menimbulkan masalah baru. Maunya kehilangan satu gigi, akhirnya harus kehilangan banyak gigi,” tambahnya sambil tertawa.

Selama ini orang cenderung mencabut giginya ketimbang merawat saluran akar pada gigi yang berlubang. Alasannya, selain malas harus berkali-kali datang ke dokter gigi, juga ongkosnya mahal. Kalau ingin menghemat, sebetulnya bisa datang ke poliklinik rumah sakit. Dan jangan kapok berkali-kali datang, demi masa depan kesehatan gigi Anda. Buktinya saya cuma datang dua kali, dan oke.

Sebelum saya keluar ruang poli gigi pagi itu, saya dengar Lingga mengeluh. “Pantas gigimu gampang berlubang, ludahmu sedikit sih.”

“Lho memangnya kenapa?” tanya saya heran. Rupanya air ludah berfungsi membersihkan gigi. Makin banyak produksi air ludah di mulut, makin sehat gigi kita. Kalau air ludah sedikit, bisa dirangsang dengan makan permen karet, misalnya. ‘Rupanya ada juga fungsi permen karet, ya, selain buat balon-balonan,’ pikir saya. Namun permen karet tidak dianjurkan buat pengidap maag. Jadi ingat nenek saya yang doyan nginang, nyusur, makan sirih di masa lalu. Bukankah nginang fungsinya juga seperti permen karet, merangsang produksi kelenjar ludah? Pantas gigi nenek awet!

Baca juga :

Sakit karena Gigi Berlubang

Bila infeksi gigi pindah ke pipi

Si pemasang gigi palsu

catatan.

kalau tertarik berobat ke dokter lingga, bisa menghubungi tempat prakteknya di delta sari indah blok BL no 1, waru sidoarjo, ph. 0318530060. biasanya dia praktek setiap hari kecuali kamis dan hari libur, mulai pukul 5 petang.l