Tags

,


makam bapakku

Tulisan ini dulu bagian dari buku 30 hari keliling sumatra. Karena bersifat terlalu pribadi, tak lagi masuk dalam edisi revisi yang keluar jelang penghujung tahun ini. Bagiku buku bukan jadi arena pamer diri atau mencintai diri sendiri yang terlalu, tapi ajang berbagi. Apapun itu, selamat membaca.

Medan adalah reuni bagiku. Berjumpa dengan keluarga bapak, merunut kisah leluhur. Di Medan nenek dan kakekku dimakamkan. Di Medan bapakku pernah menggigit bibirnya, menahan air mata jatuh, saat menengok makam bapaknya. Ketika itu umurku masih 3,5 tahun. Di Medan pula nenekku akhirnya dikuburkan, enam bulan setelah kematian bapak.

Medan yang kutinggalkan puluhan tahun lalu adalah angin yang menggigit. Ada derai suara dan musik kisah pedih, ada tangan-tangan kasar bibiku yang menghabiskan harinya di gudang tembakau deli. Rumah nenekku hanya 300 meter dari kantor PTPN II Tanjung Morawa, Klambir Lima. Dulu banyak pohon kelapa di sana, kini hanya angkot jurusan Klambir Lima – Pinang Baris yang hilir mudik.

Bapakku bungsu dari empat bersaudara, satu-satunya yang merantau menjadi tentara ke Jawa setamat Sekolah Teknik. Tamtama awal karirnya, benteng pertama menghadapi musuh. Semangat belajarnya yang berkobar membuatnya nekad menyelesaikan STM, di sela-sela kerja padat. Lulus juga akhirnya, karena dia paling suka geometri, ilmu ukur, dan bahasa Inggris.

Karena kecerdasan otaknya, pernah dia ditawari belajar ke Australia. Namun tak ada bekal menuju Jakarta. Gajinya dipotong selama 3 tahun untuk menutup uang koperasi yang dilarikan anak buahnya. Begitu pula saat dia harus sekolah menjadi perwira, empot-empotan kami di rumah. Makan nasi lauk ikan asin selama tiga bulan, karena gajinya hanya cukup buat bayar uang sekolah dan beli sayur.

Masih kuingat saat itu. Awal November aku ujian pendadaran, dinyatakan lulus sangat memuaskan. Belum sempat kukabarkan berita gembira itu karena sibuk urus wisuda. Tiga hari kemudian ada telpon dari rumah yang disampaikan teman di kos. “Ry, Bapakmu tak ada. Kau disuruh pulang,” kata Iwan, sahabatku.

“Tak ada gimana, aku emang mo pulang petang ini,” jawabku ketus. Aku memang mau ke Surabaya, naik kereta ekonomi jurusan  Bandung-Surabaya. Tak kugubris kata-kata Iwan, karena menurutku dia tak masuk akal.

Baru ketika di dalam kereta aku berpikir keras. Tak ada. Bapakku tak ada. Kenapa? Ada apa? Jangan-jangan dia memang sudah tak ada, meninggal. Terakhir aku melihatnya awal Agustus, sepulangku dari pendakian panjang Rinjani – Agung. Otakku berputar. Terus berputar. Seandainya itu benar, apa yang harus kulakukan. Aku harus bekerja. Masih 3 lagi adikku. Dan ibuku tak pernah bekerja seumur hidupnya. Aku tak tenang, tapi juga tak ingin menangis. Aku hanya berpikir tentang kerja, kerja, dan kerja yang harus segera kurebut. Hanya itu.

Baru memasuki pagar rumah, seorang tetangga menyambutku. “Akhirnya kau datang, Nduk. Sudah ditunggu  ibumu dari tadi,” kata Bu Dimun.

“Ada apa, Bu?”

“Bapakmu meninggal, tertembak pagi tadi.”

Aku diam. Mengawang. Antara percaya dan tidak. Di depan pintu rumah kulihat dua prajurit bersenjata berjaga. Ada peti jenazah yang dibalut merah putih. Lalu ibu berlari menyambutku sebelum pingsan. Adik-adikku pucat pias. Aku makin berpikir, adakah kerja untukku setelah ini.

Tak ada airmata yang kukeluarkan selama pemakaman. Tak juga kutukan kutujukan kepada anak buah bapak yang stres lalu menembaki markas tentara. Atau makian kepada mereka yang lupa mencegah bapak tenangkan anak buahnya itu.

“Baru saja bapakmu keluar dari Land Rover lalu diberondong M16. Tak sempat teriak dia, apalagi melawan. Hanya tangannya mencoba mencegah lalu tersungkur mencium tanah. Masih bernafas dia selama dilarikan ke rumah sakit sambil mengeluh kepanasan. Istighfar panjang mengantarnya meninggalkan dunia fana,” kisah sopir ambulans itu.

Tak ada dendam di hatiku, tak ada tangis memercik mataku. Dunia berputar dan kumulai perjalanan pertama bukan tamasya. Keliling Bali, Lombok, Sumbawa, dan berakhir di Flores. Kucari makna sebuah tangis.

Kini, dalam perjalanan entah yang ke sekian kali, dalam perhentian keduaku di Medan, tak jua kutemukan makna tangis. Masih kuat tercium bau darah bapakku pada seragam hijau pe-de-el-nya. Walau sudah 2 minggu direndam, bau anyir membekas tegas. Kenanganku kembali mencuat.

Sebuah foto tua milik bapak yang disimpan bibi menyelamatkanku. Bapak yang muda sedang menggendong adikku. Dialah lelaki yang tak segan memasak buat ibuku di masa libur, mencuci pakaian kami saat ibu baru melahirkan, atau membuat sendiri meja kursi bahkan almari di rumah dengan tangannya. Bapak yang dingin tangan mengurus kebun ubi, ayam-ayam, burung perkutut, bahkan juga jip tuanya. Bapak yang membuatku terus mencari makna tangis bagi setiap orang yang kujumpai di setiap perjalanan.