Tags

, ,


judul : Gadis Pakarena, Penerbit : Dolphin, Halaman : 186

Ini sebuah senarai kisah, terdiri dari 14 kisah cinta. Ada kisah cinta bapak kepada anaknya, cinta antar kekasih, cinta anak kepada ibunya, atau juga cinta sesama saudara. Cinta yang dituturkan dalam bahasa perempuan, yang mengalun dan menghanyutkan, dan umumnya dituangkan ala tokoh aku. Mirip sastra lisan yang dituliskan.

Lebih dari itu, semua kisah dibalut oleh lokalitas. Tradisi bugis, utamanya di wilayah Jeneponto. Kalau Gus Tf Sakai piawai membalut cerita sarat tradisi Minang, atau Gerson Poyk bermain-main dengan bumi Timor, maka Khrisna Pabichara lugas menikung istiadat Bugis. Ini satu pemikat dalam buku ini. Membaca buku ini, tak sekedar mendapat penghiburan, tapi mirip pengetahuan tentang bagaimana orang Bugis dalam keseharian. Tak sekedar teori budaya ala Christian Peras.

Saya tak hendak mengurai satu demi satu kisah cinta di buku ini. Cukuplah saya mencuplik dan menikung dengan kejadian nyata yang pernah saya jumpai dalam hidup yang sempit ini.

Saya terkesan dengan ‘Laduka’, kisah pertama dalam buku ini. Kisah yang juga pernah terbit di Baltyra beberapa bulan silam. Dituturkan, Laduka masih ingin hidup di rantau,  tapi dipaksa pulang oleh anak lelakinya yang hendak dikhitan. Dalam kondisi compang, dia menempuh perjalanan laut yang sarat penumpang dan bahaya, hingga ajal menjemput tatkala bahtera karam.

Membaca kisah ini, saya teringat kehidupan kawan-kawan lama di Malaysia. Bekerja sebagai buruh bangunan di kongsi, umumnya ilegal. Mereka merupakan kumpulan orang Bugis, Makassar, Buton, Mandar, Muna, dan Talaga. Namun orang di Malaysia (baik Indonesia maupun Melayu) lebih suka memanggil mereka orang Buton.

Bisa dibilang, hanya segelintir di antara perantau ini yang sukses. Mungkin itu sebabnya mereka bertahan dalam 3, 5, belasan bahkan puluhan tahun. Anak istri di rumah ditinggalkan, lalu ‘menikah’ lagi di Malaysia. Hidup sangat keras dan tak bisa disebut layak. Bahkan mesti kucing-kucingan dengan pasukan rela dan polisi. Tak jarang, jika tertangkap, mereka rela membayar ratusan hingga ribuan ringgit, asal tidak dipulangkan. Saya rasa mereka mulai mirip penderita sado-masochis, menikmati keterpurukan dan penderitaan. Padahal, banyak di antara mereka yang memiliki kebun, atau istri yang PNS. Jadi apa yang mereka cari?

Harga diri, gengsi, yang membuat mereka bertahan. Itu salah satu alasan. Ada juga alasan lain, semisal kebebasan hidup. Di negeri yang berlandaskan sendi-sendi Islam itu, pergaulan antara lelaki-perempuan sungguh bebas. Apapun bisa terjadi.

Ada juga yang pernah pulang kampung, lalu kembali lagi ke Malaysia. Tatkala pulkam, mereka membawa oleh-oleh banyak sekali. Baju-baju baru, uang ribuan ringgit, perhiasan emas untuk istri, dan sebagainya. Pernah saya tanya pada beberapa di antara mereka, apa mereka tak rindu lama tak jumpa keluarga. ‘Rindu juga. Tapi apa daya, belum sukses.’

Ada juga yang kisahnya mirip Laduka. Pulang kampung menjelang anaknya dikhitan. Namun dia selamat dalam perjalanan. Naik kapal 5 hari 5 malam dari Batam menuju Sulawesi. Sampai di kampung, sempat menikmati pesta si anak. Tapi juga sempat digampar si istri, karena perempuan simpanan lelaki itu terus-menerus menelepon. Aha!

Kisah lain yang menyudut pandangan saya adalah ‘Rumah Panggung di Kaki Bukit’. Perbedaan ‘kasta’ memang kerap menjadi hambatan dalam urusan percintaan, terlebih jika hendak menuju mahligai perkawinan. Hambatan kasta ini masih hidup, tak hanya di Bali atau Pulau Jawa (di beberapa bagian mengistilahkannya dengan bobot, bibit, bebet, jadi tak sekedar priyayi atau bangsawan dan sudra), tapi juga Bugis.

Beberapa kawan perantau Bugis yang saya jumpai mengaku merantau demi mendapat harta, haji, dan gelar kesarjanaan. Jika ketiga hal ini berhasil mereka raup, maka tak ada lagi batas yang menghambat gerak mereka. Mereka akan menjadi manusia yang paling disegani, dan tak mungkin ditampik, dalam urusan cinta dan perjodohan.

Anehnya, aturan adat ini tak hanya mengikat perjodohan antar orang Bugis, tapi juga antara orang Bugis dan suku lain, terlebih jika suku lain itu pihak perempuan. Seorang kawan berkisah bahwa perjodohannya tumbang gara-gara uang penaik alias mahar. Sang kawan, perempuan, S-2, anak orang berada yang kebetulan berasal dari trah bangsawan. Kekasihnya lelaki bugis biasa. Percintaan yang berlangsung cukup lama, harus tumbang gara-gara si pria dan keluarganya membebankan uang penaik bagi diri mereka sendiri. Apa yang dikenakan si gadis dihitung, apa yang menjadi milik gadis ditaksir, hingga keluarga dan pendidikan. Matilah lelaki Bugis tadi, karena perhitungan mencapai ratusan juta rupiah.

Padahal dalam keluarga Jawa modern, tak lagi ada aturan bangsawan harus menikah dengan bangsawan, atau permintaan mahar secara khusus. Mahar seperangkat alat ibadah, jadilah. Bahkan mahar mas picis rojo brono dihutang pun, sah menurut hakim alias pak khadi. Nah!

00000

Dalam senarai kisahnya, Khrisna menyoroti balutan adat dan tradisi yang kerap membelenggu, yang tak lagi sesuai jaman. Tradisi yang masih menyisah, dan berakar kuat dalam kehidupan masyarakatnya. Meski, banyak pula yang sudah mengabaikannya dan memilih hidup lebih rasional.

Mayoritas kisah penulis, tak membawa kita kemana pun. Sekedar berkisah. Senyampang kegamangan. Laduka yang dikatakan mati tak membawa kita pada akhir apakah anak istrinya menangis, ataukah apakah keluarganya akhirnya tahu, atau sepadankah nilai merantau dengan kebahagiaan yang diraih? Manusia seolah Sisifus yang terus membawa naik batu ke atas bukit, sebelum akhirnya menggelinding ke bawah, lalu mengulangi perbuatan bodohnya berkali-kali.

Pada Gadis Pakarena kita dihilir menuju kisah percintaan di masa lalu, remaja yang –dalam bayangan saya- tiba-tiba berjanji, ‘Yuk.. kita reuni, ketemuan di Wuhan 20 tahun lagi. Aku menunggumu di sana’. Logika saya meronta, seberapa banyak orang yang mau memenuhi janji asal ucap untuk puluhan tahun ke depan? Atau, masih adakah orang-orang sentimentil yang mau memenuhi janji cinta monyet masa lalu? Namun, bantah otak yang menguik di kepala saya, bukankan fiksi tak selalu menggunakan logika? Seperti juga cinta yang kerap tanpa logika? Saya angkat bahu!

Arajang dan Haji Baso memukau saya pada mitos. Tentang kekuatan lebih calon bissu (pada Arajang) dan kekuatan batu bertuah kulau bassi. Lagi dalam Arajang, logika saya ditetak tentang ‘begitu besarkah dendam seorang anak kepada ayahnya, meski si ayah sekarat? Atau begitu tingginyakah nilai harga diri akan pengusiran? Kenapa sikap pemaaf ini memupus? Kenapa manusia jumawa dan menegakkan keangkuhannya? Mungkin karena saya pembaca perempuan, yang menggunakan rasa dalam bertanduk dan bersikap.

Pertanyaan yang sama mendedah saat membaca Silariang, tentang dendam dan kehebatan martabat yang menghalalkan nyawa tumpah. Adakah manusia yang kalap menghabisi nyawa saudara dan iparnya yang kawin lari, tanpa memikirkan nasib keponakannya. Ah.. tapi ini kan hanya fiksi. Bisa jadi saya larut terbawa kisah. Sayangnya lagi-lagi, kejahatan, bunuh-membunuh, setiap hari terhidang di depan mata. Anak membunuh bapak, anak menghabisi ipar dan mertua. Namun latarnya bukan adat, melainkan ekonomi.

Justru kisah imajinatif yang bisa masuk logika saya adalah Mengawini Ibu. Kisah tentang anakgadis yang meniduri kekasih ayahnya, demi memuaskan kesumatnya kepada sang ayah. Dengan meniduri kekasih ayahnya, dia merasa bisa mengangkangi ayahnya. Idenya luar biasa! Pantas jika pada terbitan lebih awal, senarai kisah ini dititeli ‘Mengawini Ibu’.

Khrisna memang tak membawa kita kemana-mana dengan rangkaian kisahnya. Tak ke hulu, atau hilir. Kita mirip diajak berrenang-renang di antaranya. Menyelam, lalu muncul lagi. Andai kita berani melawan arus tradisi tadi, nasib naas menunggu. Mirip kisah Silariang.

Mungkin, dalam pikiran saya, Khrisna mengisahkan fenomena. Apa yang masih hidup dalam masyarakatnya, dan tak pernah tuntas diselesaikan. Sesuatu yang berarus deras dalam air yang tampak tenang. Atau kita diajak menikmati melankolisme kehidupan orang Bugis. Bisa jadi. Entahlah.