Tags

, ,

Bagi pemilik kaki gatal berdana cekak mirip saya, jalan-jalan harus memberi manfaat sebanyak mungkin di tengah keterbatasan sangu. Bukan berarti saya mencari yang serba gratis, tapi menggunakan modal lain -selain uang- sebagai alat pertukaran. Maka couchsurfing (CS) dan hitchhiking (HH) menjadi alternatif yang menjanjikan

melihat dapur umum sebelum pesta berlangsung di Pariaman

Sebelum istiah CS dan HH itu sepopuler sekarang, saya sudah melakukannya belasan tahun lalu, namun dalam skala lokal. Saya teringat sepulang mendaki Gunung Semeru dengan teman-teman tahun 1998, kami menumpang truk dari Ranu Pane hingga sampai pertigaan jalan menuju lautan Gunung Bromo.

Bersama dua kawan Mapala Unhalu pada 2001, berkali-kali saya numpang kendaraan yang lewat dari Rawa Aopa menuju kawasan padang rumput Lanowulu gara-gara ketinggalan Bus Damri. Kami berjalan kaki dan mencari tumpangan sejak pukul 6.00 pagi dan sampai Taman Nasional Watumohai jelang tengah malam. Modalnya, mengacungkan jempol!

Sendiri ber-HH pun pernah saya lakukan dengan menumpang truk selama 2 hari pada 1999 dari Labuhan Bajo di Flores hingga perbatasan Lombok Tengah-Lombok Barat. Mengerikan? Ah tidak, biasa saja. Justru banyak pengalaman yang saya dapatkan. Dibanding Jack Kerouac yang harus ber-HH selama keliling Amerika sebagaimana yang saya baca dalam bukunya On The Road, apa yang saya alami tidak ada apa-apanya. Baru seupil.

anak ‘host’ saya di banda

Dalam setiap perjalanan, saya usahakan belajar sesuatu dari orang-orang yang saya jumpai, dan mencoba memberikan sesuatu yang saya miliki sebagai timbal balik, baik ketrampilan maupun pengetahuan.  Prinsip ini rupanya masuk dalam kriteria CSg. Saya sendiri baru bergabung dengan CS Juli tahun ini, padahal rumah ibu saya di Surabaya sudah kerap menampung pejalan dari penjuru nusantara bahkan negeri tetangga. Mungkin karena kami keluarga pendaki gunung dan petualang alam bebas.

CS ala lokal sebetulnya sudah biasa kita lakukan. Misalnya jika berkunjung ke kota atau daerah A, kita akan menginap di rumah teman atau kenalan di sana. Kadang malah di rumahnya kenalannya kenalan yang belum kita kenal sebelumnya. Seraya menginap, kita berinteraksi dengan keluarga mereka. Itu yang saya lakukan ketika keliling Sumatra tahun 2010, atau keliling Maluku Utara beberapa bulan kemudian.

Pernah juga saya mendapat tumpangan menginap dari orang yang saya kenal di jalan. Ketika keliling Flores yang pertama kali tahun 1993, seorang bapak mengajak saya tidur di rumahnya di Ruteng. Bus yang saya tumpangi kebetulan tiba di terminal kepagian, sekitar pukul 3.00 dini hari. Pernah juga seorang ibu penjual makanan di sebuah terminal kota kecil Sulawesi Selatan mengajak saya tidur di warungnya, gara-gara bus menuju Palu tak kunjung datang hari itu. Kalau keliling Kepulauan Madura, saya selalu menginap di rumah orang yang saya ajak ngobrol ketika di feri atau kapal perintis.

Namun CS paling nyata saat pergi ke Banda Kepulauan jelang penghujung tahun lalu. Sama sekali saya tak punya kenalan atau kenalannya kenalan di sana. Saya hanya bermodal ‘rai tembok’, dengan penuh percaya diri segera menemui kepala kampung atau pemuka adat, begitu memasuki sebuah desa atau pulau untuk memperkenalkan diri dan tujuan. Lalu mereka langsung menyuruh saya tinggal di rumahnya. Keramahan khas Indonesia timur begitu saya rasakan di pelosok kepulauan timur. Keramahan yang menerbitkan ikatan persaudaraan yang kuat. Hingga sekarang pun hubungan saya dengan masyarakat di Banda terjalin baik. Saya kerap mengirimkan barang buat mereka, mereka pun kerap menitipkan kenari atau kayu manis buat saya lewat orang Banda yang menuju Jawa.

CS membuat kita menjadi kaya mendadak. Bukan kaya uang atau harta, tapi kaya pertemanan, kaya pengalaman, dan semakin bijak dalam menyikapi hidup.

Awal saya bergabung dengan grup CS berskala dunia ini karena terbentur satu hal, ingin keliling Asia tapi dana minim sekali. Saya berpikir apa mungkin menerapkan jalan-jalan ala Banda kemarin? Maka mendaftarlah saya di CS, beberapa hari mempelajari seluk beluk CS, sebelum mengajukan rencana perjalanan saya.

Baru beberapa jam posting rencana perjalanan ke Penang, sudah dua anggota CS bersedia menjadi host alias tuan rumah. Begitu juga saat posting rencana ke Melaka, Kotabharu, Pattani, Chiang Mai, Pnom Penh, dan kota-kota yang menjadi tujuan perjalanan saya selama dua bulan.

Tapi tak selalu CS berkaitan dengan akomodasi gratis. Ada juga yang dilatarbelakangi volunteering, dan kita diminta membayar makanan sendiri. Seperti yang ditawarkan host saya di Samoeng, Chiang Mai. Ongkos makannya terjangkau, 4 dolar untuk 3 kali makan dalam sehari. Disamping belajar membuat rumah lumpur dan membangun kompleks bangunan bambu, saya juga akan diajak meditasi dan yoga gratis dari mantan pendeta buddha pemiliknya. Asyik bukan?

Sementara di Pnom Penh, saya ditawari mengajar di sebuah sekolah yang murid-muridnya para yatim piatu korban perang. Di sini, akomodasi seperti makan dan tempat tinggal gratis. Di Sihanoukville saya diminta membantu pembuatan kertas daur ulang. Lagi-lagi gratis makan dan tempat tinggal, hanya host saya meminta saya tinggal minimal dua minggu. Sihanoukville? Siapa yang tak suka. Sebuah kota pelabuhan yang dikelilingi hutan dan taman nasional di selatan Kamboja.

Sekali lagi, jalan-jalan ala saya tak menyasar obyek pariwisata yang mendunia. Tapi lebih kepada belajar adat dan budaya setempat. Tujuan saya ikut CS, HH, atau volunteering pun bukan sekedar mencari tumpangan menginap dan jalan-jalan murah, namun pertukaran budaya, mendapatkan pengalaman yang berbeda sambil berjalan-jalan.

“Apa tidak takut? Mereka kan bukan orang yang kamu kenal!” Begitu tanggapan kawan saya. Hehe.

Menurut saya manusia itu sama saja di belahan manapun bumi ini. Ada yang baik ada yang buruk. Orang yang sudah kita kenal pun belum tentu baik. Orang yang belum kita kenal juga belum tentu buruk. Lagipula, ada cara untuk memeriksa apakah yang menjadi ‘host‘ (tuan rumah) kita bisa dipercaya atau tidak. Lewat referensi orang-orang yang mengenal dan bertemu dengannya, lewat foto-foto yang ditampilkannya, dan beragam cara.

Easy going, open mind, and always learning something new adalah moto para pejalan alternatif. Pejalan yang butuh host pun harus siap menjadi host jika dibutuhkan. You will get what you give, begitu kata senior saya di CS. Kamu akan mendapatkan sesuatu begitu kamu mau memberikan sesuatu. Walau, ketika menjadi host, membantu seorang pejalan, kita mungkin tak mengharapkan imbal jasa apapun. Namun, seperti yang saya rasakan, kebaikan seseorang akan saya bayar dengan cara lain lagi. Begitulah seharusnya hidup berlangsung. Tak semata dinilai dengan uang, tapi juga pertemanan, budaya, kehidupan sosial dan kemanusiaan. Perjalanan ternyata menawarkan semua itu.

Advertisements