Tags

,


judul : Heroes of The Valley
pengarang : Jonathan Stroud
penerbit : Gramedia 2011
halaman : 488

Alkisah, ada sekumpulan suku-suku yang mendiami sebuah lembah yang luas. Lembah yang dikungkung rawa luas, pebukitan tinggi, dan dibatasi makam batu, tempat ke-12 pahlawan suku-suku dikuburkan.

Sejak kecil Halli Sveinsson, anak kedua kepala suku Sveinsson yang mendiami lembah atas, diwanti-wanti untuk tak menyebrangi makam batu.

‘Di sana,’ kata Katla pengasuhnya sejak kecil, ‘para pahlawan lembah dikuburkan. Mereka dikubur dengan menggenggam pedang.’ Mereka, para pahlawan yang juga para  kepala suku berabad lalu itu, menemui ajalnya di puncak batu, saat mempertahankan lembah dari serangan para Trow.

Maka dimulailah legenda tentang Trow yang ditakuti penduduk. Trow, makhluk buas penghuni bawah tanah, akan menyerang manusia di malam hari, begitu matahari menghilang dari pandangan. Berkat kepahlawanan Svein dan kawan-kawannya, Trow berhasil dihalau, dan hanya menghuni rawa nan jauh. Trow tak lagi berani menyebrang ke lembah. Penduduk pun dilarang melewati batas makam batu jika ingin tetap hidup.

Halli sejak kecil mengidolakan kisah-kisah kepahlawanan. Anak yang dilahirkan pada pertengahan musim dingin ini memiliki perangai dan tubuh menyimpang. Tubuhnya kerdil, kakinya pendek dan bengkok, rambutnya hitam, dan wajahnya mirip trow. Begitu orang menyebutnya. Sama sekali tak ada kemiripan dengan ayah, ibu, atau kakaknya Leif. Bahkan tak mirip umumnya orang lembah atas. Perangainya pun bengal, suka bikin onar, sehingga nyaris tak ada orang yang suka kepadanya.

Hingga suatu hari, Halli menyaksikan pamannya, Brodir, dibunuh musuh lamanya, klen Hakonsson. Halli pun nekad menuntut balas. Lari dia dari rumah suku Svein yang nyaman. Menyebrangi wilayah perbatasan antar suku, melalui bukit menonjol, menyusuri jeram, dan akhirnya sampai di kediaman suku Hakonsson.

Berbagai pengalaman didapatnya selama perjalanan. Sebuah kebenaran. Kebenaran tentang sukunya, Svein, ternyata bukan yang terbesar. Masih banyak suku-suku lain yang wilayahnya lebih besar ketimbang Svein, dan lebih makmur penduduknya.

Halli memang bisa membalaskan kematian pamannya. Walau si pembunuh, Olaf, bukannya mati di tangannya. Tapi terbakar dalam sebuah kecelakaan. Halli menemukan dirinya bukan jenis pembunuh berdarah dingin. Bukan orang yang gampang menghujamkan pisau. Tapi jenis yang suka memenangkan sesuatu lewat pertarungan. Jenis yang hanya membunuh untuk mempertahankan diri.

Kematian Olaf membuat Halli dikejar-kejar lelaki suku Hakon dipimpin Hord. Halli lalu diselamatkan Aud, gadis kepala suku Arne yang dikenalnya dalam sebuah pertemuan. Arne yang digambarkan tinggi, langsing, cantik, berambut emas, ternyata berwatak mirip Halli. Dia hendak melarikan diri, karena tak mau dipaksa ayahnya menikah.

Gagal menangkap Halli, Hord lalu mengancam akan menyerang suku Svein. Dibantu Aud, Halli menggiring pasukan Hord melintasi Makam Batu, menuju rawa yang dipenuhi Trow. Berhasilkan Halli dengann usahanya? Apa yang ditemukan Halli tentang kebenaran legenda sukunya di masa lalu? Silakan membaca buku ini. Yang pasti, Jonathan Stroud mengisahkannya dengan menarik, penuh ketegangan, dan penuh aksi.

00000

Jonathan Stroud selama ini lebih dikenal lewat buku kisah trilogi Bartimaeus-nya. Lahir di Bedford, Inggris, tahun 11970, Stroud sudah menulis cerita sejak kecil. Ciri tulisan Stroud adalah mengambil latar epik lama, dengan gaya bertutur yang sinis, egomaniak, dengan bumbu hiperbola.

Dalam Heroes of The Valley misalnya, Stroud melukiskan Halli jauh dari gambaran idola sebagaimana umumnya. Holli pendek, kakinya bengkok, wajah mirip Trow. Biasanya idola kepahlawanan digambarkan gagah, tinggi besar, tampan, dan sebagainya. Halli pun dilukiskan tukang bikin onar, dibenci hampir semua orang. Padahal biasanya tokoh protagonis bersifat menarik simpati orang dengan sifat-sifat baiknya.

Ini baru sebagian kecil contoh gambaran Stroud. Gambaran lain adalah kisah heroisme Svein di masa lalu. Svein digambarkan mampu mengangkat batu sebesar rumah, membunuh Trow-Trom hanya selontaran martir, bahkan mampu mencabut pohon hingga akarnya demi menyelamatkan rambutnya yang dipanah musuh. Ketika bayi pun, digambarkan dengan mudah Svein mencekik leher ular yang hendak mematuk ibunya. Sebuah gambaran megalomania.

Ketidaklaziman gambaran Stroud-lah yang membuat buku ini berbicara banyak. Gambaran ketika Halli harus berduel dengan Leif yang diceburkannya ke tumpukan kotoran. Atau saat Halli meracun ale, sejenis bir, dengan mencampur semacam obat penyamak kulit dan kotoran ayam. Hal yang menjijikkan, tak lazim, semua diadik Stroud hingga menjadi hidangan siap saji yang menarik, sarkastik, sekaligus membuat tergelak.

Tak salah saya labeli buku ini kisah ‘barbar’ karena mengeksplorasi kebabaran manusia. Mengingatkan saya akan dongeng-dongeng orang Viking dan Islandia saja. Namun lebih dari itum novel –yang saya perkirakan buat remaja, karena pelaku utamanya berumur 15-16 tahun- ini mengajarkan tentang kebaikan budi, kesabaran, keberanian, dan petualangan, lepas dari legenda dan dogma yang membelenggu hidup kita. Ah, jadi tak sabar membaca buku Stroud berikutnya.

Cacatan :

Matur suksma sebesar-besarnya buat kawan saya Lieke Soe, yang mau meminjamkan buku ini, berpayah-payah membawanya dari kota gudeg menuju luang buaya.