Tags

sampah ‘nuklir’ itu

Tulisan ini saya buat lebih setahun lalu, tepatnya 22 July 2011.

Hari ini saya membuang kenangan silam yang sangat saya cintai sekaligus tak bisa membuat saya memberi lebih. Textbook nuklir jaman kuliah, diktat-diktat kuliah, semua saya tumpuk dalam sebuah kardus besar. Juga klipingan berita yang pernah saya tulis selama hampir 5 tahun memburuh berita. Hampir 40 kg jumlahnya.

Sudah berapa lama textbook nuklir itu menghiasi almari buku? 10 tahun? 15 tahun? Entahlah. Fotokopian di dalamnya pun mengabur. Teori-teori tentang nuklit, pltn, matematika komputer tingkat tinggi, tak hanya mengabur dalam lembar-lembarannya, tapi juga di dalam otak saya. Baru saya sadari bahwa belajar di teknik nuklir dulu itu berat, melelahkan, menguras pikiran, dan akhirnya ilmu itu tak mungkin saya amalkan.

Kadang saya menyesali hari-hari lalu itu. Merasa sia-sia membuang waktu,  masa-masa panjang yang melelahkan untuk belajar ilmu yang segelintir umat mau melumatnya. Andai saya lakukan hal yang lain, yang jelas memberi manfaat bagi umat manusia. Andai. Untung saya segera tersadar, tak ada yang sia-sia dengan menuntut ilmu. Ilmu apapun itu. Setidaknya, pikiran saya lebih terbuka kini, lebih encer menyerap pengetahuan yang tampak rumit dan njelentreh menurut pandangan awam.

Ya, tak ada ilmu yang sia-sia untuk dipelajari. Salah satu cara memahami Tuhan adalah dengan mengungkap ilmu pengetahuan. Lagipula saya jadi tahu reaksi nuklir terjadi di mana-mana, reaksi antar partikel atom itu juga terjadi dalam tubuh kita, dalam proses kita berinteraksi dengan manusia lain, dalam semua ilmu yang saling mengait, kedokteran, pertanian, perikanan, geologi, dan lainnya.

Belajar nuklir membuat saya tahu, faham, bahwa ilmu apapun di tangan manusia akan menjelma menjadi dua kemungkinan: mennyejahterakan atau menghancurkan. Ilmu apapun, tergantung kita menggunakannya. Orang mungkin hanya memandang sisi buruknya saja. Orang yang tak tahu akan berteriak lantang, menghujat dengan hujatan paling keras, paling nyinyir, paling anti, paling kotor dan memuakkan. Orang yang tahu akan mengambil hikmah dan menjadi bijaksana atas semua kejadian.

Saya ingat, dulu antropologi dan etnografi dimanfaatkan bangsa-bangsa penakluk untuk mencengkeramkan kuku kolonialismenya di berbagai belahan dunia. Ingat Snouk Horgronye ingat Aceh. Atau bagaimana Asia Tengah ditaklukkan lewat bantuan etnografer asal Prancis dan Rusia. Namun antropologi dan etnografi kini banyak digunakan untuk meneliti fenomena sosial dalam masyarakat. Ilmu, apapun jenisnya, mirip pedang bermata dua. Ilmuwan, pencari ilmu Allah, menyadari betul hal itu.

Janganlah kita dibuat anti ilmu semata karena sisi gelapnya. Jangan lupa, sebelum bocornya reactor nuklir di Fukushima, warga sekitar hidup berkelimpahan energi murah. Tak ada protes, tak ada gejolak. Karena semua nyaman. Yang penting, kita sadar dua mata pedang ini. Sekarang nyaman, besok bisa berarti bencana.

Saya ingat lapindo lima tahun lalu. Semua rebut. Porak-poranda. Konon kabarnya Jawa Timur akan tenggelam ke dalam lautan lumpur. Banyak mulut mengecam. Lebih banyak suara ketimbang tindakan untuk menolong korban yang rumahnya terendam. Namun kini gaungnya nyaris tak terdengar. Baru saja The Jakarta Post memberitakan bahwa Lumpur lapindo bakal menghancurkan hutan mangrove di utara Sidoarjo dan Surabaya. Separah itukah?

Baru saja laporan masuk, ujicoba menanam beberapa jenis mangrove di lumpur Lapindo membuahkan hasil. Kini bahkan, mangrove itu mulai nggrumbul. Tujuannya jelas, menetralisir racun di dalam lumpur. Ah, kenapa yang ini tak diberitakan?

Ilmu ibarat pedang bermata dua. Bisa saling berlawanan, namun juga bisa saling menundukkan dan melengkapi. Setiap hal buruk dari sebuah ilmu akan ada penangkalnya dari ilmu lain. Begitu dunia diciptakan. Untuk itu manusia harus optimis dan tak jemu menggali ilmu-ilmu Sang Khalik. Mengumpat, menyalahkan, takkan memperbaiki masalah. Namun bangkit, berpikir, justru akan membuat perbaikan.

Sekali lagi saya pandang tumpukan buku, diktat, klipingan Koran dan lainnya di dalam kardus. Besok mereka akan berpindah ke rumah baru, didaur ulang, guna membiayai kegiatan sosial suatu yayasan sosial. Yah, daripada menumpuk di rumah, mending digunakan untuk hal yang lebih baik. Sekaligus mengurangi kayu tuk ditebang jadi kertas. Nuklir saya pun jadi kertas daur ulang. Hehe..

Advertisements