Tags

,

Menyebut R Kosasih, mengingatkan saya akan rangkaian epos Mahabharata dan Ramayana yang saya baca ketika masih menjadi murid SD. Buku komik tebal dengan kisah menakjubkan. Membuat saya kena marah setiap hari karena terjaga hingga larut malam, demi menghabiskan kisah dalam ratusan lembar komik yang saya pinjam dari sebuah perpustakaan di bawah jembatan penyebrangan Wonokromo, kota buaya.

Perkenalan saya dengan buku komik bermula sangat awal, lewat kisah Superman, Batman, Spiderman, Gundala Putra Petir, hingga Godam. Lalu menghilir ke kisah-kisah flamboyan Alexander Dumas. Itulah masa saya bersentuhan dengan literatur, khususnya buku cerita bergambar.

Kelak, ketika membesar, saya pun berkenalan dengan Asterix dan Obelisk, petualangan Tintin, hingga komik-komik terbitan Prancis via Institut France Indonesia di Jogjakarkarta. Ketika mulai menua, baru saya membaca novel grafisnya Joe Sacco maupun Marjane Satrapi yang lebih bersifat politis dan penuh humor ‘noir’.

Yang saya suka dari komik, cerita bergambar atau nama kerennya sekarang novel grafis adalah keindahan gambar, ilustrasi, yang kerap berbicara lebih banyak ketimbang teks dalam buku itu. Saya jadi bisa membayangkan dengan sejelas-jelasnya apa yang sedang terjadi. Imajinasi ini kerap terbawa sampai mimpi. Saya menyuka gambar, apalagi jika gambar yang ditampilkan indah, penuh warna, dan amat dekat dengan kehidupan nyata. Mungkin karena saya penganut aliran realis.

Novel grafis terakhir yang saya baca adalah ‘Ekspedisi Kapal Borobudur Jalur Kayu Manis’ dan ‘Eendaagsche Exprestreinen’ terbitan Banana. Keduanya menggairahkan mata untuk membaca, karena ilustrasinya yang indah, penuh warna, dan memukau. Tak kalah dengan gambar-gambar di kisah Tinti-nya Herge atau Rampokan Jawa-nya Peter Van Dogen. Dalam hal ini, sang ilustrator, Bondan Wnarno, Dhian Prasetya, maupun Gede Juliantara patut diacungi jempol.

Ekspedisi Kapal Borobudur sendiri berkisah tentang perjalanan kapal kayu Borobudur milik Indonesia, dalam rangka napak tilas dari Bali, Surabaya, Jakarta, mengarungi Samudra Hindia hingga ke Madagaskar, Afrika. Membaca kisah di buku ini, menerbitkan rasa bangga. Betapa tidak, nenek moyang kita sungguh pelaut ulung. Dulu, nusantara adalah negeri maritim yang tangguh. Semoga nanti, Indonesia pun jadi negara kelautan yang tangguh.

Novel grafis kedua, Eendaagsche Exprestreinen, lebih mirip petualangan tiga bocah aneka etnis (China, Jawa, Belanda) yang bersatu padu mencari pencuri permata di dalam kereta.

Kisahnya lucu, penuh humor (jadi ingat kalau penulis teksnya, Yusi Avianto Pareanom, adalah manusia yang suka menertawakan segala sesuatu). Pembaca pun lebih banyak dibuat tertawa ketimbang terbawa ketegangan dalam cerita. Walau mirip meniru petualangan Tintin, tapi kisah terlalu pendek. Andai lebih panjang, dan seru. Haha..

Apapun itu silakan menikmati cungkilan gambarnya yang saya ambil lewat kamera sederhana. Bagus kan gambarnya?

ini dia sampul novel grafis terbitan banana, judulnya ‘Ekspedisi Kapal Borobudur, Jalur Kayu Manis’

 

Bagaimana kapal Borobudur dibuat? Kisah dimulai dari Kepulauan Pagerungan, di timur Madura. Dari sana ahli-ahli pembuat kapal kayu ditemukan

humor ringan mengisi kisah ekspedisi kapal borobudur. Menjawab salah satu pertanyaan pembaca, apa mungkin buang hajat di kapal mirip ini? hehe..

Ini dia sampul novel grafis EE, petualangan ala Tintin

kegiatan di sekitar stasiun kereta api ‘Jakarta Kota’ masa itu. Pengamatan yang detil, gambar norak yang menarik.

Arsitektur Stasiun Jakarta Kota di masa lalu. Mendetil, megah, perkasa.

Advertisements