Tags


Saya sempat kecewa di Kamboja, kala nama ‘orphanage’ alias panti asuhan dicatut oleh sebuah LSM lokal (yang diakui pemerintah pula) untuk menggalang dana dari publik, khususnya turis. Sementara direktur LSM hidup mulia, berlimpah, namun selalu mengeluh kekurangan dana buat menyelenggarakan LSM-nya.

our friends orphanage, bergerak di bidang pengajaran bahasa inggris bagi anak-anak di kempeng village, takeo, kamboja

Bagaimana lembaga dana mau membantunya jika tahu kata ‘orphanage’ itu fiktif. Lembaga itu hanya menyelenggarakan semacam sekolah bahasa Inggris selama 3 jam, sepanjang tengah hari. Tak ada anak yatim yang dipelihara dan tinggal di sekolahnya. Padahal dalam proposalnya, si LSM mengaku menyekolahkan ribuan anak Kamboja, membutuhkan seragam sekolah, juga membiayai makan anak perharinya sekian dolar dan lain-lain.

Kemiskinan kerap dijadikan sebuah lembaga nir laba di negara berkembang untuk merebut simpati donor. Apakah karena tak memiliki selusin pakaian, tak bisa makan berlauk daging 3x sehari, tak memiliki rumah tembok, mobil, atau penghasilan ribuan dolar sehingga seseorang menggolongkan dirinya miskin?

anak-anak di panti asuhan don bosco, sedang menikmati makanan yang dibawa pengunjung

Beragam alasan boleh lembaga asal Kamboja itu kemukakan. Namun nama yang disalahgunakan membuat lembaga donor menganggapnya mirip penipuan. Menurut saya lebih baik jika nama lembaga itu diubah menjadi ‘Sekolah Alternatif’ atau ‘Pendidikan Luar Sekolah’. Memang tak seksi, tapi jujur.

Beberapa hari lalu seorang kawan mengajak saya mengunjungi dua panti asuhan di Surabaya. Pertama, panti asuhan Don Bosco, kedua panti asuhan Karya Kasih. Saya tak hendak membandingkan, tapi sekedar berpikir ulang.

Minggu pagi, Don Bosco mendapat kunjungan murid-murid sekolah minggu sebuah vihara buddha. Menurut kawan, kegiatan dilakukan untuk memupuk rasa welas asih antar sesama manusia tanpa memandang ras, agama, dan segala perbedaan lainnya. Ada lebih seratus anak yang dipelihara Don Bosco. Beragam usianya. Pada hari itu, yang tampil dan dihibur mulai anak umur 2 tahun hingga usia SD. Ada permainan, makanan, lagu, dan sebagainya.

seorang anak asuh di karya kasih yang mengalami keterlambatan bicara dan masih membutuhkan popok

Yayasan Panti Asuhan Don Bosco didirikan tahun 1927, jadi sudah lebih 80 tahun umurnya. Kondisinya lumayan bagus dan teratur. Saat ini, penyelenggaraan panti asuhan ini mendapat bantuan dana dari Foster Parents Indonesia (FPI) di Victoria, Australia. FPI juga membantu 4 panti asuhan lainnya di Indonesia. Kata suster yang saya temui, panti asuhan bisa berlangsung karena kecintaan yang tinggi terhadap anak-anak. Saya saksikan sendiri bagaimana seorang suster menciumi dan menenangkan seorang balita yang tampak mengantuk.

Dari Don Bosco, kawan tadi mengajak mengunjungi Panti Asuhan Karya Kasih. KK tergolong kecil, anak asuhnya sekitar 18 orang, sebagian besar berumur 7 tahun ke bawah. Tak seperti panti asuhan sebelumnya, KK masih berkutat dengan bagaimana mendapatkan dan mencukupi anggaran bagi kelangsungan hidup anak asuhnya. Masalah air minum, gizi makanan, hingga popok menjadi rutinitas  sehari-hari. Jika dibiarkan berlarut-larut, bukan tak mungkin anak-anak akan menjadi korban.

Seorang pengasuh bercerita, ada anak didiknya yang berumur 4,5 tahun masih suka ‘ngebrok’, berak sembarangan, karena mengalami kelainan mental. Popok menjadi hal penting baginya. Kalau si anak mulai ‘ngebrok’, maka dia hanya bisa bilang ‘Haleluyah!’ untuk mengusir bau kotoran dan rasa jijik. Dan jika kotoran si anak begitu bejibun (bayangkan sendiri bagaimana harus membuang dan mengepel lantai yang dikotori tadi), maka dia hanya bisa menyanyi, ‘Bersama malaikat di surga.. ‘ Itulah cara pengasuh panti melepas stress yang mengungkung mereka. Kecintaan dihadapkan pada tantangan mental dan fisik.

Saya sendiri tak bisa membayangkan andai diri saya yang harus mengurusi anak-anak tersebut. Butuh cinta kasih yang tulus serta dana yang cukup agar sebuah panti asuhan bisa bertahan. Ketulusan cinta pula yang membuat para donatur terketuk hatinya, bukan sekedar membersihkan dosa. Jadi aneh rasanya jika ada orang atau lembaga menggunakan nama panti asuhan atau ‘orphanage’ sekedar menerbitkan rasa iba dan mendapatkan uang. Otak saya belum bisa menolerir hal seperti ini.