Tags

,


Perlakuan rasis kerap aku terima saat berjalan-jalan ke luar negeri. Anehnya hal ini tak kurasakan semasa berjalan keliling Indonesia. Berikut contoh perlakuan rasis yang kuterima (dan dimuat juga di baltyra) hehe

Rasis 1

Petugas tiket penerbangan Air Asia di Bandara Juanda membolak-balik pasporku. Tiket penerbanganku di tangannya. Wajahnya penuh curiga. “Ada tiket pulang?” tanyanya.

Kuserahkan tiket pulang.

“Tapi kamu kan pergi lebih sebulan. Kamu butuh visa jalan!” teriaknya nyalang.

“Ah.. saya kan mau jalan-jalan, tak menetap di Malaysia. Saya mau ke Thailand, Kamboja, Burma.”

“Kalau begitu, mana tiketmu ke Thailand?” tanyanya ketus.

“Sejak kapan pergi ke Thailand via kereta api harus pesan tiket jauh-jauh hari?” tanyaku tak kalah ketus.

Dia diam saja, sebelum mengangsurkan tiket penerbanganku kembali. Rasis! Aku kan bukan berniat jadi TKI, apalagi ‘orang kosong’ alias TKI Ilegal!

Nb. Kata kawanku karena wajah dan gayaku mirip TKI, bukan golongan kaya dan berkelas, jadi sah-sah saja orang menginterogasiku ala TKI.

Rasis 2

Sebentar lagi kereta api jurusan Bangkok-Aranyaprathet akan sampai ke tujuan. Petang merambang. Aku tak yakin bisa melintasi perbatasan hari ini, lalu menuju Siem Reap. Tiba-tiba dua petugas kereta api yang bertampang serdadu itu mendekatiku. Menanyakan sesuatu dalam bahasa Thailand. Kuangsurkan tiketku.

“Aranyaprathet,”. Lalu dia menanyaiku lagi. Aku tak paham bahasanya. Kujawab, “I can’t speak Thai.”

Mendadak dua petugas itu menjadi garang, lalu meminta pasporku. Dibolak-baliknya lembaran pasporku. Anehnya dia tak membuka lembaran pertama, asal negaraku.

“Hei.. what’s wrong? I am Indonesia.” Teriakku heran bercampur marah. Bagaimana tak marah, sekumpulan orang kulit putih di bagian lain gerbong itu tak diperiksa paspornya.

Salah seorang petugas akhirnya membuka lembaran pertama pasporku. “Ah.. Endonesi.” Lalu dia mengangsurkan lagi pasporku. Aku hanya bisa bilang, “Rasis!”

Nb. Kejadian berulang beberapa minggu kemudian, kala aku menaiki kereta yang sama dari Aranyapratheh menuju Bangkok. Kata kenalanku itu karena aku dikira warga Kamboja. Wajah dan perawakanku kan mirip orang Kamboja. Banyak orang Kamboja yang bekerja di Thailand.

Yah, setelah dikira calon TKI ilegal di negeri sendiri, kini dipikir calon tenaga kerja Kamboja ilegal di Thailand. Sungguh beruntungnya aku!

Rasis 3

Hari mulai gelap. Kereta api baru saja meninggalkan Stasiun Gua Musang. Kalau bukan demi merasakan sensasi ‘jungle train’, ogah aku berkeretaapi siang hingga malam. Mending naik bus. Toh ongkosnya sama saja.

Seorang lelaki tua melayu, berperawakan kekar dengan rambut nyaris putih semua, asyik mencari mangsa bicara. Entah siapa dia, kurasa dia superior karena bisa memerintah awak kereta seenak udelnya. Mungkin masih kerabat datuk, mantan orang berpangkat, entahlah.

Tadi kulihat dia begitu ‘power’, mampu mengatur masa depan gadis yang masih sekolah di depanku. Banyak pertanyaan dia lontarkan, pertanyaan yang terlalu ‘pribadi’ menurutku. Kini dia bertanya kepada awak kereta, berapa lagi orang yang duduk segerbong dengannya. Lalu dia menuju tempat dudukku.

“Awak mo turun mana?”

Kujawab tujuanku.

Dia bertanya dari mana asalku. Begitu tahu aku orang ‘Endhonesa’ dia langsung memberondongku dengan kata-kata tak enak.

“Tipulah mau melancong. Awak pasti kerja di sini.”

Kurapatkan syak sutra kasar yang kubeli di Kamboja ke leherku. Kupandang wajahnya lekat-lekat. Menantang. “Saya pelancong. Saya baru pulang melancong dari Thailand, Kamboja, Burma, dan sekarang masuk Malaysia. Lantaklah kamu tak percaya!”

Kubuang muka. Dia berjalan menjauhiku. Dasar, sudah tua pun tak bisa ‘membuka mata dan kepala’!

Rasis 4

Aku masih terbata-bata mengeja nama jalan. Mencari rumah kawanku. Tolol benar aku, tak juga hafal dengan baik kompleks perumahan mewah ini. Hari makin larut. Aku mengawasi rumah orang-orang, sambil mengingat-ingat rumah kawanku.

Tiba-tiba sebuah mobil 4WD berhenti di sampingku. Seorang lelaki melayu keluar. “Mau cari apa?” tanyanya.

Kusebutkan alamat tempat kawanku tinggal.

“Itu rumah siapa?”

Kusebutkan nama kawanku.

“Aku kenal nama itu. Kamu apanya?”

Kubilang aku kawannya yang sedang menginap di rumahnya.

Dia memandangku seolah tak percaya. Melihatku dari pucuk rambut sampai mata kaki, berulang-ulang. Seolah menilai. “Kamu kerja kepadanya ya?”

Kugelengkan kepala cepat. “Bukan, aku tamunya.” Kutekankan kata TAMU dengan tajam.

“Siapa nama bini kawanmu?”

Kujawab sekenanya.

Dia masih tak percaya. Kutinggalkan saja lelaki iseng asal tuduh tadi. Untung tak berapa lama kutemukan rumah kawanku.

Ketika sedang makan malam itu, kudengar ketukan di pintu. Kuminta anak kawanku membukanya. Kawanku sedang tak ada di rumah, sementara istrinya lagi sembahyang isya. Pintu ruang tamu dibuka, lagi-lagi lelaki itu nongol. Memandangku seolah tak percaya.

“Kamu tinggal di sini?” tanyanya tak percaya.

“Ya,” jawabku. Tak kugubris dia, kuteruskan makan. Lelaki itu masih menunggu di luar. Entah apa yang dikatakannya kepada anak-anak kawanku.

Hingga aku usai makan, kata anak kawanku, dia masih ada di sana. Istri kawanku tak juga turun.

Lebih satu jam kemudian, kawanku pulang. Dia protes. “Apa yang kamu lakukan hari ini sampai banyak orang telepon saya? Kamu tanya alamat rumah kepada siapa?”

Hah! Aku tak tanya alamat rumahnya kepada sesiapapun. Justru orang itu yang tanya. Kuurut papan nama jalan dan alamat rumah sendirian malam-malam. Arah selalu membingungkanku. Itu sebabnya kemana pun pergi, peta dan kompas tak pernah lepas dari tanganku. Aku diam saja. Kurasa kawanku menahan rasa malu karena ditelepon kawan-kawannya. Malu menampung kawan Indon yang biasanya jadi babu di negeri ini?

Entahlah!