Tags

, ,

Ketika Pau meminjamiku dua serial awal trilogi Hunger Games, aku melonjak girang. Lebih dua bulan otakku hanya menyerap debu jalanan dan kisah-kisah yang dilontarkan orang. Kembali mencecep buku, rasanya ‘waw’!

Awal kubaca, karya Suzanne Collins ini mirip skenario film-film ala hollywood. Ada suspense, ketegangan memuncak, dibumbui kisah cinta dan keriangan ala remaja. Namun semakin masuk ke dalam, apalagi paska membaca buku keduanya yang bertitel ‘Catching Fire’, aku tahu kisah ini lebih dari sekedar film hollywood. Mirip Marjane Sartrapi yang melontarkan gambar-gambar komik kelamnya untuk mengritisi pemerintahan di Iran yang mengebiri hak dan kebebasan perempuan bersama seksualitasnya.

Hunger Game dibuka dengan gambaran sebuah pemerintahan pusat (disebut Capitol) yang memiliki 12 koloni (disebut distrik 1,2, sampai 12) dan dinamakan  Panem. (Penggambarannya mirip pemerintahan ala Moskow masa lalu yang mencakup wilayah pecahan Uni Sovyet, dengan gaya pemerintahan keras, otoriter, menghisap, gaya kerja paksa, plus polisi rahasianya. Ada kerja paksa, ada keharusan penduduk mengerjakan ladang tapi harus menyerahkan hasil panen ke pusat (Capitol), ada kelaparan di distrik-distrik. Model begitulah.)

Setiap tahun, untuk menunjukkan kekuasaannya, Capitol dipimpin Presiden Snow akan menyelenggarakan Hunger Games, permainan maut yang diikuti sepasang remaja dari setiap distrik. Kelak, dari 24  peserta, hanya satu yang menang setelah berhasil membunuh musuh-musuhnya. Si pemenang akan terjamin seumur hidupnya berkat hadiah yang diperolehnya, sedang distriknya akan cukup makan selama setahun.Hunger Games ini disiarkan secara langsung ke semua distrik. Sebagai cara menebar teror dan ketakutan agar penduduk setiap distrik patuh tunduk kepada Capitol. (Entah mengapa aku jadi membayangkan acara olimpiade yang disiarkan secara massal ke penjuru dunia).

Gaya teror ala Capitol lagi-lagi membuat pikiranku melayang ke politik devide et impera, bagaimana suatu keadaan diciptakan penjajah untuk melanggengkan kekuasaannya, dengan memecah belah pihak musuh, menghalanginya bersekutu, dengan iming-iming kekayaan dan kemakmuran.

Ketika Katniss Everdeen maju menggantikan adiknya, Prim, yang terpilih mewakili distrik 12 ke Hunger Games, dia melakukan ‘semacam pemberontakan’ terhadap penyelenggaraan Hunger Games. Perlawanan yang didukung Peeta Pallark, rekan satu distrik yang mati-matian mencintainya. Perlawanan yang dilakukannya berupa mempecudangi para juri, mengikat persekutuan dengan rekan yang seharusnya menjadi musuhnya. Dia melawan karena merasa sepenanggungan, sebagai korban penguasa, bukannya mau jadi boneka dan alat penguasa.

Kelak, perlawanan Katniss mampu menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Panem. Dia menjadi lambang pengobar semangat pemberontakan dan dijuluki mockingjay, burung hasil persilangan mutan jabbajay dan mockingbird. Perlawanan Katniss mengingatkanku akan gaya Guevera yang mengobarkan semangat orang Amerika Selatan melawan kapitalisme dan eksploitasi Amerika Serikat di bumi Amerika.

Ah, soal isi buku sebaiknya kau baca sendiri. Aku hanya ingin membahas bahwa bentuk perlawanan, pemberontakan, selemah apapun itu, bisa berkobar dan menjelma menjadi senjata ampuh untuk menggulingkan penguasa dzalim, asal dilakukan dengan persatuan di antara mereka yang memberontak. Tertarik untuk melakukan pemberontakan? Bersatulah!

Usai membaca kedua buku ini, aku jadi menilik kembali ucapan kawanku, Sophean Ho, di Kamboja dulu. “Dulu, waktu Polpot berkuasa, petani di sini harus bekerja keras menanam padi. Tapi ketika musim panen tiba, tak sebutir pun padi boleh kami makan. Semua padi dikirim ke Cina, karena Khmer Merah dan Polpot digerakkan oleh pemerintah Cina (RRC, red).”

Rakyat Kamboja pun memakan apapun yang tersisa. Serangga, kecoak, jangkrik, kepik, laron, ulat, tikus, apapun agar bisa terus hidup. Bencana kelaparan yang melanda rakyat Kamboja, kematian demi kematian, mirip benar dengan yang dikisahkan dalam buku trilogi Hunger Games ini.

Sang penulis, Suzanne Collins, mengakui sebagian isi buku terinspirasi dengan pengalaman ayahnya yang menjadi prajurit Amerika selama perang Vietnam. Arogansi Amerika Serikat, menghasilkan kekalahan yang telak, sekaligus penderitaan yang dirasakan kedua pihak yang langsung terlibat dalam arena pertempuran. Yah, apapun yang dikatakan Collins, sebaiknya langsung kau nikmati dalam bukunya ini. Semoga buku ini tak mengusik mimpi-mimpimu, seperti dia telah mengusik mimpiku. Selamat membaca!

Advertisements