Tags

,

new book by ary amhir
new book, a photo by ary amhir on Flickr.

Buku ini tak saya maksudkan sebagai panduan wisata, juga bukan semata kisah perjalanan. Semata saya ingin keluar dari genre-genre yang lazim saat menulis buku kali ini.

Buku ini mencoba merunut peristiwa yang terjadi di Banda, baik lewat sejarah masa lalu, maupun mata kekinian. Semua dirangkum dengan tulisan sesuka hati. Kadang berupa laporan perjalanan, kerap menjadi fiksi. Tak ada hal baku dalam menulis, itu prinsip saya. Sepanjang semua berkaitan dengan ide dan fakta. Yang penting bagi saya, tulisan bisa dinikmati pembacanya.

Ada 29 kisah terangkai dalam lima bagian: tentang Banda, tempat yang berbicara, kesah manusia, mengurai masalah, dan disamarkan fiksi.

Pada bagian ‘tentang Banda’, saya gambarkan kepulauan pala ini lewat pengalaman menginjakkan kaki kali pertama di Banda. Sensasinya, perkenalan dengan kehidupan sehari-hari di kepulauan ini, serta apa yang menurut saya menarik atau mengganggu. Tentu saja pandangan saya berifat sangat pribadi. Orang lain mungkin memiliki pandangan yang berbeda.

Pada tempat yang berbicara, saya mengisahkan tempat, benda-benda yang ada di Kepulauan Banda. Misalnya tentang nasib bangunan tua yang terhampar seantero Pulau Neira dan Lonthoir, tentang garangnya Gunung Api, atau keindahan Pulau Neilaka. Dalam imajinasi saya, ketika manusia mau diam sejenak, membisu, mematung, maka dia bisa mendengar benda-benda mati berbicara, entah itu patung atau bangunan tua. Juga bisa mendengat sebuah tempat mirip pulau, bersuara, merintih, atau berlagu.

Pada bagian ‘Kesah Manusia’ saya mengisahkan manusia-manusia yang saya temui sepanjang jalan, kerap hanya perjumpaan sesaat. Mereka adalah gambaran Banda masa kini, bukan sejarah masa lalu. Kekinian ini saya angkat dengan harapan agar bisa membuat kita bercermin dan bertindak lebih bijak sebagai manusia, bukannya memelihara kebiadaban sebagai kegemaran. Ada kisah tentang korban kerusuhan ‘atas nama agama’ seperti yang dialami Pongki. Atau masalah umum pendidikan anak-anak Banda yang dicontohkan oleh Akbar. Serta kegalauan Simani menghadapi persaingan politik yang tidak sehat pada pemilihan Bapak Raja di kampung halamannya, Pulau Ay.

Saya berlari pada bagian yang saya anggap masalah utama Banda masa kini pada hal ‘Mengurai Masalah’. Masalah itu adalah tren dijualnya bangunan-bangunan tua, tanah, bahkan pulau di kepulauan pala ini kepada pihak asing. Banyak sudah asset mendiang Des Alwi yang berpindah tangan karena keterbatasan anggaran untuk memelihara bangunan tua.

Permasalahan berikutnya adalah nasib petani penggarap kebun pala. Ternyata banyak di antara mereka hanya buruh, yang diupah berdasarkan sistem bagi hasil kala panen yang ‘ternyata’ tidak adil. Mereka menuntut keadilan, namun banyak yang enggan menyatakannya terus-terang. Rasa takut membebani, mirip warisan kolonial.

Laut Banda kaya akan ikan, namun harga ikan sangatlah murah. Semua ini karena sulit dan langkanya transportasi dari Banda ke bagian lain Indonesia dan sebaliknya. Kelangkaan transportasi membuat distribusi hasil kekayaan laut Banda terhambat. Jadilah nelayan Banda terus hidup pas-pasan. Jika ingin memajukan orang Banda, maka tingkatkan jenis dan frekuensi transportasi dari dan ke Banda.

Hal lain yang saya anggap mengganggu dan jadi masalah penting (tak hanya di Banda, tapi di pelosok nuantara) adalah pengadaan pangan. Sudah jelas bahwa Banda bukan tempat yang ideal buat bertanam padi, mengapa makanan utama penduduknya harus nasi.

Di akhir bagian, saya ingin bernyanyi dengan fiksi. Ada beberapa kisah yang lebih mengalir jika disamarkan dalam bentuk fiksi. Mitos-mitos misalnya, atau hal yang berkaitan dengan dunia kasat mata. Tak hanya menghibur, fiksi juga melemaskan otak. Mirip peregangan sebelum dan sesudah melakukan olahraga berat.

Buku setebal 200 halaman ini bukan mengangkat tema-tema mainstream, itu sebabnya saya pilih menerbitkannya sendiri dengan sistem POD. Saya tak hendak memuaskan keinginan semua orang. Saya hanya ingin peduli pada kepulauan nusantara, dan sebagai pejalan saya akan kritis merekam apa yang saya lihat dan alami. Saya tak hendak mengulang-ulang kisah yang diangkat media massa atau membebek apa yang dilakukan para wisatawan sebelumnya.

Salam,

Advertisements