Tags

,

Seorang kawan membantu memperbaiki disain sampulnya, jadi lebih hidup. Maturtengkyu buat Aklam Panyun Hifatlobrain. Semoga tidak salah jalan seperti saya.

Tak ada tes membaca, atau semacam puja-puji atau ulasan dari kawan. Hanya sedikit tulisan di bagian belakang:

“Nenek mau coblos apa?” tanyaku bergurau.

“Tentu saja pala!” Jawabannya membuat jantungku mencelat. Ah, ternyata aku salah duga. Pala di sini rupanya lambang gambar seorang kontestan. Kali ini, kata si nenek, hanya ada dua calon, pala dan pisang. Nenek lalu mengemukakan alasannya panjang lebar kenapa memilih pala. Aku tertawa. Tak kusangka nenek berpikiran maju. Dia memilih calon yang paling berpihak kepada masyarakat desanya, bukan karena tebal kantongnya. (nukilan ‘Tiupan Simani’)

“Mama ini miskin, mama makan swami saja. Tarada beras,” kata seorang perempuan yang tak sengaja kutemui di rumah Ibu Sri, menantu Simani asal Jawa di Pulau Run.

Kata miskin juga terucap dari mulut seorang perempuan di Gunung Api. Tak sengaja kujumpa dia menjemur swami setinggi hampir setengah meter di halaman rumahnya seturunku dari puncak gunung.

“Orang miskin makan swami. Beras mahal harganya,” begitu alasannya. Benarkah beras hanya untuk orang kaya? Atau sekedar makanan prestis agar mereka tak disebut masyarakat tertinggal atau terasing? (nukilan ‘Antara Ubi dan Raskin’)

Ditinggalkannya aku sendiri. Pak guru Ali tampak sibuk mempersiapkan segalanya. Miniatur kole-kole dari berbagai kampung ditatanya dengan rapi di ruangan yang menghubungkan pintu masuk benteng. Begitu juga kepengan uang kuno.

“Kora-kora ini,” katanya kelak, “milik tetua kampung di Banda. Mereka minta beta menjualnya karena butuh uang. Sedih beta kalo ingat begitu.” Wajahnya memelas. Aku tak tahu dia benar bersedih atau hanya berpura-pura. Sayang, tak satupun turis tertarik membelinya hari itu. Harusnya dia senang, warisan kampung tak jatuh ke tangan orang lain. Harusnya. (nukilan ‘Pak Guru Ali’)

Sebagian kecil tulisan pernah dimuat di baltyra (tapi sudah mengalami edit ulang). Terimakasih atas kesempatannya, JC.

Seorang kawan, Iwan Nurdin dari KPA, memberi saran pemecahan masalah tanah buat penduduk Banda. Matursuksma atas sumbangan pemikirannya.

Terakhir, saya harap buku setebal 202 halaman ini memberi sedikit gambaran tentang Banda yang sebenarnya, tak sekedar tempat wisata laut biru yang mendayu-dayu. Siapa tahu, kelak yang datang ke sana, tak hanya sambang, tapi mau menyumbangkan sesuatu.

Salam,

Advertisements