Tags

,

Buku ‘The Invention of Hugo Cabret’ ini  sungguh ‘wah’ buat saya, sebuah kemewahan yang tak setiap hari bisa saya rasakan dari sebuah buku. Bukan karena harganya yang Rp 69.000, bukan juga karena halamannya yang lebih 538 itu, tapi lebih separo isinya berupa ilustrasi, sketsa ala pensil (konte atau pen?) yang dibuat oleh Brian Selznick, pengarangnya.

Buku ini berkisah tentang Hugo Cabret, anak lelaki berusia 12 tahun yang bekerja membersihkan semua jam-jam dinding di stasiun kereta api Kota Paris awal abad ke-20. Sebetulnya itu pekerjaan pamannya, namun sejak pamannya yang pemabuk itu menghilang, Hugo menggantikan tugasnya diam-diam.

Dulu, Hugo tinggal dengan ayahnya yang tukang jam sekaligus jadi tukang rawat museum. Suatu malam ayahnya tak pulang, museum terbakar, dan Hugo pun tak punya siapa-siapa.

Satu-satunya peninggalan ayahnya hanyalah buku gambar berisi petunjuk membetulkan manusia besi atau Automaton yang rusak di museum. Hugo akhirnya menemukan Automaton di antara puing kebakaran, membawanya pulang ke bilik pamannya, dan berusaha membetulkannya lewat petunjuk buku tinggalan ayahnya.

Untuk mempertahankan hidup, Hugo mencuri susu dan roti yang dijual Madame Emile. Hugo juga mencuri mainan di toko milik Pak Georges, untuk mendapatkan suku cadang memperbaiki Automoton-nya. Hingga suatu hari dia ketahuan, dan bukunya disita Georges. Untung Isabelle, putri baptis Pak Georges, mau membantu Hugo mendapatkan kembali bukunya.

Petualangan Hugo yang terampil berkutat dengan peralatan mekanik di lorong-lorong Kota Paris, persahabatannya dengan Etienne dan Isabelle, serta hubungannya yang misterius dengan Automoton dan Pak Georges, dikisahkan sangat menarik oleh Brian Selznick, lewat kata dan sketsanya yang luar biasa itu. Jadi membaca dan menikmati buku ini, bagiku, sungguh kemewahan.

Ada perumpamaan menarik yang diutarakan Hugo kepada sahabatnya, Isabelle. Sebuah pandangan luas tentang dunia. Hugo menyadari bahwa setiap mesin dibuat untuk alasan tertentu. Mesin yang rusak membuatnya sedih karena mesin itu tak dapat melakukan yang seharusnya. Mirip manusia yang kehilangan tujuan hidup. Maka Hugo bilang, “Jika kau kehilangan tujuanmu… rasanya seperti mesin rusak.”

Hal lain lagi adalah, “Tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.”

Ah Hugo!

Advertisements