Tags

, ,

_MG_1809_1_1

pondokku tinggal

Sungguh beruntung aku menemukan surga kecil ini. Aku sedang memulihkan kekuatan tubuhku paska perjalanan panjang ke timur beberapa waktu lalu. Aku perlu mengembalikan energi yang hilang, sambil  menyusun rencana hidup berikutnya. Surga ini benar-benar tempat persembunyian yang sempurna bagiku. Aku bisa menghilang sesukaku, namun tak benar-benar terputus dari dunia luar.

Semua ini berkat kebaikan Bli Kaweng, teman lamaku. Bli Kaweng orang terkaya di Desa Munduk, Bali Utara. Tanah miliknya puluhan hektar, memenuhi punggung pegunungan yang subur. Sebagian tanah disulap menjadi kebun cengkeh, kopi, dan coklat, dengan persawahan ala terasiring menyembul di sela-selanya. Sebagian lagi berupa hotel berwujud hamparan villa-villa kecil di antaranya.

Keberadaan hotelnya, Taman Puri, tak memangkas habis tanah di sekitarnya. Justru hotel ini didirikan di antara hamparan kebun dan sawah. Bisa kau pastikan, hotel elit ini menjadi semacam Timbuktu bagi para turis asing yang berdiam di dalamnya. Jauh dari keramaian, menghampar keindahan dalam kesunyian. Dekat dengan alam, namun tak benar-benar terpencil dari dunia luar. Ini karena ada wifi yang siap menghubungkan mereka 24 jam dengan bagian lain dunia kalau mereka mau.

Ketika mengunjungi Bli Kaweng yang pertama kali, aku sudah jatuh cinta pada tempat miliknya. Namun menyewa kamar hotelnya sungguh di luar kemampuanku. Tarif seratus dolar semalam rasanya mirip menjangkau bintang di langit. Apalagi jika aku butuh bermalam-malam. Duh…! Untunglah Bli Kaweng mengajakku menyisir hamparan kebun di bawah hotelnya. Kami pun menuruni bukit demi melihat kebun coklatnya yang lain. Setelah melalui sungai kecil, kulihat pondok itu. Separo dindingnya terbuat dari batu, sisanya dari bambu. Atapnya berupa sirap coklat kehitaman yang nyaris lapuk dimakan umur. Kupandang tiga pintu berjajar di bangunannya, yang menandakan ada tiga ruangan berbeda.

“Pondok apa ini Bli?” tanyaku.

“Pondok buat yang menjaga hotel,” jawabnya sambil jongkok, memeriksa deretan pot berisi bunga-bunga aster segar yang tertata rapi.

Melihat aneka bunga di situ, lalu bunga lain di halaman pondok, berpadu dengan aneka sayur dan serai wangi, bisa kupastikan si penjaga hotel seorang penandur alami.

“Dia masih keponakanku dan sangat suka berkebun. Nyoman namanya,” kata Bli Kaweng seolah bisa membaca pikiranku.

Satu ruangan itu adalah bilik tidur Nyoman, ruangan yang lain menjadi semacam gudang. Satu kamar kosong di tengah itu kelak kutempati. Bli Kaweng memberiku ijin berdiam sementara di situ.

Kelak Nyoman jadi tetanggaku, dan kami berteman akrab. Anak muda itu sungguh liat. Tangan dinginnya seolah bernyawa, mampu menghidupkan semua jenis tanaman yang ditandurnya. Jenis tangan ‘adem puyuh’ menurut ibuku. Perangainya halus, tanduknya nyaris tak kentara. Nyoman juga rajin memasak. Begitu tahu aku bakal menjadi tetangga kamarnya, setiap pagi dia sudah menghidupkan batang-batang kayu pada tungku batu untuk memasak nasi dan menjerang air panas calon kopi. Kami berdua penyuka kopi.

Idola kami tentu saja kopi munduk, kopi yang dipanen dari kebun Bli Kaweng sendiri. Prinsip ‘Local product for local people’ benar-benar kami terapkan di sini. Tak jauh dari gubuk penjaga, hanya 50 meter berjalan ke arah timur, ada gudang penggorengan kopi. Gudang ini milik adik Bli Kaweng, Bli Made namanya. Pada hari tertentu, khususnya setelah panen, Bli Made akan menggoreng berkilo-kilo biji kopi yang telah dijemur. Kopi siap gorengnya akan dimasukkan ke mesin penggorengan berwarna biru kehijauan berkapasitas sepuluh kilogram.

Tiga jam kemudian muncul bau harum meruah ke ruap-ruap ruangan. Itulah saat kopi siap diangkat dari wajan besinya. Namun seorang pembantu Bli Made tidak segera mengeluarkan kopi. Dia akan memasukkan semacam sendok dari kayu yang kusebut sotil, meraup secuil kopi dari mesin, untuk memastikan apakah kopi benar-benar sudah merata matangnya.

Di sela-sela kesibukanku menulis dan menggambar ilustrasi, aku suka mengunjungi gudang kopi. Wangi aroma kopi yang menyentil hidungku, kerap menggiringku keluar membelah jalan setapak menuju bangunan tinggi berdinding bambu itu. Tiap kali aku melongokkan kepala, Bli Made akan tersenyum sambil berkata, “Ayo Ni.. cicipi kopiku ini. Lezat bukan?”

Aku paling suka butir-butir kopi panas yang ditumpahkan ke semacam tikar itu. Buliran biji kopi meruah, berwarna coklat kehitaman, segera meleburkan gula-gula pasir yang ditabur-taburkan di atasnya. “Waktunya incip-incip,” begitu kata hatiku. Saatnya mencicipi biji kopi terbaik, sedang panas, meleleh manis dalam buliran gula pasir, dan rasanya.. wow!

Sambil menunggu biji kopi mendingin, tanganku tak pernah lepas menjawil satu dua butir kopi, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Mirip mengudap gula-gula. Kalau sudah begitu, Bli Made pasti akan menanyakan pendapatku akan aroma kopinya kali ini. “Yang ini tak sesedap kopi kemarin, Bli. Tak difermentasikah?” atau lain waktu “Wah.. kalau nggorengnya dicampur biji coklat atau kayu manis, tentu rasanya beda”.

Tak hanya Bli Made, Bli Kaweng pun suka menanyaiku perihal aroma dan rasa kopi. Dan aku akan mengemukakan apa yang kurasa, yang kutahu, berdasarkan pengalamanku, apa adanya. Tak peduli mereka suka atau tidak. Namun berkat kegemaranku mencicip kopi goreng, aku jadi peka terhadap bau kopi. Kepekaan yang kemudian menjerumuskanku.

Waktu itu tiga malam jelang purnama. Aku masih sibuk bergelut dengan catatan yang belum usai ketika bulan mulai naik. Udara membekukan tubuh. Di malam biasa saja Munduk teramat dingin apalagi saat purnama. Kutoleh kamar Nyoman yang terkunci rapat. Dia belum pulang. Mungkin masih menonton teve di ruang tamu hotel, pikirku. Ini kan malam Minggu. Acara sepakbola pasti meriah.

Pondok ini selalu sunyi. Dulu pondok tak berlistrik, hanya ublik sederhana yang ditancapkan di sela pintu. Namun sejak aku berdiam di sini, Bli Kaweng menyambungkan kabel listrik dari hotel ke kamarku. Pondok pun berlampu, aku jadi bisa menyalakan laptopku. Bahkan Bli Kaweng memberikan pasword wifinya agar aku leluasa berselayar di alam maya. Baik hati sekali dia.

Tak sadar aku mencium bau kopi. Harumnya memenuhi udara malam yang sedingin es. ‘Pasti saat ini bunga-bunga kopi di depan pondok sedang bermekaran,’ pikirku asal. Hatiku riang. Di depan pondok kami ada beberapa batang pohon kopi, berselisih jarak dengan satu dua pohon coklat. Ketika berbunga, harumnya memenuhi udara. Tak tahu aku bila tertidur malam itu. Yang jelas aku pulas mabuk aroma bunga kopi.

Malam berikutnya lagi-lagi kucium harum kopi. Tepat jelang tengah malam. Iseng-iseng kutanya Nyoman yang baru pulang dari villa di atas. “Nyoman, kau cium harum kembang kopi kah? Wangi benar,” kataku.

Nyoman melongok ke kamarku, roman mukanya penuh heran.”Bau apa Ni? Saya tak cium bau apa-apa,” katanya sambil takjub memandangku.

“Coba kau lihat batang-batang kopi di depan. Pasti sedang berbunga. Wangi bunganya sampai di sini,” kataku tak sabar.

Nyoman tak mengatakan apapun. Tapi wajahnya masih menyisakan keheranan yang sama ketika masuk ke kamarnya.

Keesokan pagi kuperiksa batang-batang kopi di kebun depan pondok. Sama sekali tak berbunga. Aku jadi malu sendiri mengingat peristiwa semalam. Pantas Nyoman nampak bingung kuajak bicara. Mungkinkah ada yang menggoreng kopi malam-malam? Ah.. rasanya tak mungkin. Bli Made bukan orang super rajin, lagipula tak terlalu banyak kopi hasil panen kali ini sehingga tak perlu lembur menggoreng hingga tengah malam. Tapi aku masih penasaran. Siapa yang menggoreng kopi dua malam ini.

Malam ini tepat purnama. Udara menggigil, tubuhku nyaris beku. Kututup jendela rapat-rapat, juga pintu. Dalam udara beku berkabut begini, paling enak merebahkan diri di ranjang berselimut kantung tidur. Baru saja aku memejamkan mata, harum kopi menyergap hidungku. Membuatku bangkit dan berpikir. Tak sadar kubuka pintu, dan berjingkat menuju gudang penggorengan. Kuseret kakiku yang telanjang, dan tubuhku berkemul selimut lorek-lorek tipis.

Heran! Gubuk itu nampak benderang. Seolah ada kegiatan di dalamnya. Kabut tipis mirip asap mengepul keluar, seolah berasal dari dalam. Aku bergegas, menjangkau pintu gudang yang tak terkunci. Kumasuki ruangan berdinding anyaman bambu yang luas dan lengang.

Dari luar, gudang itu mirip rumah kebanyakan. Di dalamnya, nyaris tak ada perabot kecuali sebuah tungku batu dan peralatan untuk menggoreng, serta mesin goreng di ujung yang lain. Kuindap, sambil berteriak lantang mengatasi ketakutan, “Bli Made.. Bli Made, kenapa menggoreng kopi malam-malam begini?”

Namun tak kudengar jawaban. Hanya suara kopi tumpah ke atas tikar yang sudah dialasi plastik lebar. Aku berjalan ke ujung jauh. Suara bulir kopi bergemeresek menggesek campuran gula lewat aluran sotil.

“Sssiiiapa kau?” Aku terperanjat. Di hadapanku berjongkok seorang gadis bertubuh kurus. Rambutnya yang hitam sepunggung tergerai lepas menutup bagian belakang tubuhnya. Sedang sarung batiknya menjulur hingga mata kaki. Tangannya sibuk menaburkan gula pasir di atas hamparan biji kopi panas. Gadis itu tak langsung menjawab pertanyaanku atau memandang ke arahku. Dia sedang asyik dengan pekerjaannya. Memain-mainkan sotil kayu panjang. Puas membaurkan gula, diambilnya sebutir biji kopi lalu dikunyahnya.

Aku tak bisa jelas memandang wajahnya dalam temaram lampu. Namun tingkahnya mirip yang kulakukan selama ini. Entah kenapa, mendadak aku merasa memiliki ikatan dengannya. Begitukah kelakuanku jika berada di dekat penggorengan kopi? Begitukah? Sejenak aku merenung.

“Hey.. siapa namamu? Kenapa kau menggoreng kopi tengah malam begini? Anak Bli Made-kah?” tanyaku beruntun, menuntut jawaban.

Lagi-lagi gadis itu tak menjawab pertanyaanku. Dia malah mengambil sebutir biji kopi lagi, lalu memasukkan ke mulutnya. Wajahnya masih tunduk menghadap tikar.

Aku menjadi tak sabar. Kucolek bahunya. “Hey…..”

Gadis itu menoleh, menatap lurus mataku. Aku tercekat, menelan sisa kata-kataku kembali. Lidahku keluh. Wajahku menegang. Seolah aku dimampatkan waktu. Gadis itu… gadis itu, begitu  mirip denganku.

Advertisements