Tags

postman_1_1

Mr. Postman, look and see
If there’s a letter in your bag for me
I’ve been waiting a long long time
Since I heard from that gal of mine

Beatles mungkin membutuhkan tukang pos demi surat cinta. Seperti juga Vina Panduwinata dalam lagunya ‘Surat cintaku yang pertama’. Masih terngiang ‘Pak Pos membawa berita yang kudamba.. surat cintaku yang pertama..’

Sayangnya kini, surat cinta tak perlu lagi lewat hantaran Pak Pos. Gelora kasmaran dapat langsung dinikmati via email atau SMS. Tak menunggu lama. Pak Pos pun mulai kehilangan satu perannya, penerus gejolak hati. Kalah dengan internet, bahkan juga mulai tersaingi kurir hantaran (paket) yang menjamur dan tumbuh subur. Dan saya tak akan membiarkan Pak Pos mati.

Saya mulai rajin menggunakan jasa pos sejak tahun lalu, saat harus memasarkan buku karya sendiri, ’30 Hari Keliling Sumatra’. Memang ada jasa hantaran mirip jasa titipan kilat. Jika tujuan hantaran adalah kota-kota besar di Jawa, menggunakan jasa titipan kilat memang lebih menguntungkan. Apalagi jika berat kiriman lebih setengah kilogram. Tapi buat tujuan pelosok atau luar Jawa, jasa pos jauh lebih murah. Apalagi saya dapat melacak sampai di mana paket yang saya kirimkan tadi.

Pos Indonesia pernah mengalami masa keemasan dulu, hingga anak-anak pun mengidolakannya dalam lagu, ‘Aku tukang pos’. Tapi kini?

Saya tahu, dan percaya, Pos Indonesia mulai berbenah. Pelayanannya lebih bagus dan modern kini. Ketika mengedarkan buku ‘Negeri Pala’, saya menikmati keuntungan ganda Pos Indonesia ini.

Saat kawan pemesan dari Kalimantan –Balikpapan dan Samarinda- bertanya berapa ongkos kirim buku, asal saja saya jawab Rp20.000. Karena saya tahu, jasa kurir sekitar Rp30-35 ribu. Ternyata, saya hanya perlu membayar Rp11.000 ke Balikpapan dan Rp13.000 ke Samarinda. Pagi Rabu saya kirim paket buku, Jumat sudah sampai di tangan pemesan. Cepat dan menyenangkan. Saya jadi kagum. Sudah murah, cepat pula.

Kemudian saya coba kirim ke Mataram, ongkosnya pun murah, Rp12.000. Ke Medan, hanya Rp13.000. Yang di Mataram buku sampai 2 hari, yang di Medan agak lama, 4-5 hari. Pos kilat khusus biasa yang saya gunakan memang memasang waktu kirim 4 hari. Yang paling lama mungkin saat mengirimkan paket ke Banda Kepulauan, dapat harga Rp25.000 per kilogram dan sampai dalam waktu 2 minggu, menunggu kapal Surabaya-Banda yang hanya berlayar 2 minggu sekali.

Bagaimana dengan ongkos kirim di Jawa? Ke Jakarta ongkosnya Rp11.000, sama saja dengan tarif ke Balikpapan. Sampainya dapat sehari, mungkin juga dua hari. Saya penasaran, lalu membuka blog PT Pos Indonesia. Dari sana saya baru ‘ngeh’, ongkir buat surat atau paket kilat khusus dengan berat kurang dari 250 gram memang murah. Apalagi untuk tujuan luar Jawa, hampir mirip ke Jawa tarifnya. Beruntung buku saya hanya seberat 170 gram. Hehe..

Keuntungan lain, saya bisa melacak posisi paket yang saya kirimkan via blog Pak Pos. Misalnya tanggal sekian surat baru diterima kantor pos tujuan, tanggal sekian sedang diantar ke alamat tujuan dengan petugas antaran si anu, tanggal sekian pukul sekian surat sudah diterima yang bersangkutan, lengkap dengan nama penerima, dll dll.

Jadi ketika ada buku kiriman yang terlambat sampai, saya segera tahu. Rupanya orang yang dituju sedang tak di rumah. Rumah kosong. Untungnya Pak Pos masih mau mengulang hantaran itu hingga tiga kali. Sungguh sabar dan baik hati.

Sempat juga sebuah buku balik ke rumah, dengan tulisan ‘Nama tujuan tidak dikenali’. Saya lacak, kenapa bisa begitu? Rupanya ketika kiriman sampai di alamat yang bersangkutan (sebuah kos-kosan), si penerima (mungkin salah satu anak kos) bilang ke Pak Pos, nama yang tertera dalam paket itu tak dikenali. Pak Pos pun segera mengembalikan paket itu ke saya. Mungkin itu risiko tinggal di kota besar, antar anak kos tak saling kenal.

“Kenapa tidak kirim via kurir saja?” tanya teman saya. “Kan ada nomer teleponnya, dan si tujuan bisa ditelepon.” Yah, itu memang kekurangan jasa Pos, pegawainya tak dilengkapi telepon untuk pekerjaannya. Namun pernah juga saya alami, paket via kurir sampai di tujuan yang entah siapa penerimanya. Yang penting sudah diterima. Dan ketika saya mengajukan keluhan,  hanya diganti bea kerugian maksimal 10x bea paket. Padahal harga barang jauh lebih mahal dari itu. Dengan Pos Indonesia? Untuk kiriman berupa buku, diasuransikan hingga Rp300.000.

Lalu ada juga kejadian yang bikin dongkol, pesan buku tapi tak memberitahu kalau rumah tujuan sedang direnovasi dan pemiliknya mengungsi ke tetangga. Akibatnya, Pak Pos mesti tiga kali pulang balik ke alamat tujuan. Sungguh kasihan. Buku pun melongok di loket kantor pos, menunggu untuk diambil. Jika dalam waktu seminggu tak diambil, akan kembali ke pengirim (saya). Kalau sudah begini, saya hanya dapat mengelus dada. Buang waktu dan bea sia-sia. Tapi.. yah, anggap saja risiko.

Itulah mengapa saya mewanti-wanti si pemesan buku agar memberikan alamat yang benar, dan harus memastikan bahwa alamat tujuan mereka memiliki  penerima. Kalau rumahnya selalu kosong, ya gunakan alamat kantor yang dijaga satpam 24 jam.

Apa ini berarti saya melupakan jasa kurir? Tentu tidak. Saya akan menggunakan kurir pada pengiriman barang berbobot besar, karena lebih menguntungkan. Bukankah sebagai konsumen saya bebas menentukan mau pakai jasa pengiriman apa, berdasarkan pelayanan dan keuntungan yang saya anggap paling layak? Lagipula, saya tak ingin melihat Pos Indonesia merana. Mau saya, kantor pos dipenuhi antrian orang seperti dulu. Makanya saya jadi iri kalau berada di kantor pos Negeri Penang atau di Chiang Mai. Selalu penuh orang, tertib mengantri pula. Tak salah lagu ini dicipta,

Aku tukang pos, rajin sekali. Surat kubawa naik sepeda. Siapa saja aku. datangi. Tidak kupilih miskin dan kaya. Kriiing kriiing pos

Advertisements