Tags


may2_1_1Jelang tengah hari di perempatan Jalan Dharmawangsa, Surabaya. Lalulintas padat. Mobil-mobil merayap. Para pengendara motor berhamburan mencari celah. Ingin melaju mendulu. Tak acuh pada sekitar.

Dari jauh sebuah Avanza berwarna hitam melambat ke arahku. Merapat menepi, hingga berhenti di depan sebuah gedung bertameng besi tinggi. Pengendaranya, sekilas kulihat dari kacanya yang gelap, seorang lelaki Tionghoa. Namun tak tampak gelagat dia hendak turun. Mobilnya hanya berhenti dan menunggu.

Hingga seorang tukang sampah yang menyeret gerobak kayunya lewat. Terengah-engah dia berjalan, bermodal topi kusut tak berwarna. Gerobaknya menyempil dihimpit pengendara motor yang melaju kencang. Perlahan dia berjalan, hingga berada sejajar dengan si pengemudi Avanza duduk.

Tiba-tiba pengemudi Avanza membuka sedikit jendela mobilnya, mengulurkan sesuatu ke arah tukang sampah itu. Dari jarakku yang 5 meter jauhnya menghadap mereka, kulihat jelas apa itu. Selembar uang lima puluh ribu. Lembar biru yang sama dengan yang berada di sakuku, bekal membayar cetak buku. Entah mengapa aku menjadi malu.