Tags

,

Awalnya, kehadirannya kuanggap sebagai bagian yang biasa dari panti asuhan itu. Selain belasan balita yang meminta perhatian lebih, remaja di panti dianggap sebagai makhluk yang mampu mengatur dirinya sendiri. Mereka sudah seharusnya dapat menghibur dirinya, dengan aneka cara.

Yeskiel dan Fani, sepasang remaja itu duduk di ujung pintu keluar. Sementara Fani melantunkan tembang-tembang hits dalam dentingan gitar yang menari lewat jemarinya, Yeskiel menimpalinya dengan suaranya yang tinggi basah. Paduan yang sempurna, di antara pekik jerit bocah-bocah yang kelimpahan makanan di Ahad damai itu, disemarakkan laron yang beterbangan sebagai pertanda akan turunnya hujan.

yeskielLalu, lampu dimatikan. Mengusir laron-laron yang mulai membuat anak-anak ketakutan. Mathius berteriak-teriak tak ingin diganggu. Sariawan dan abses pada geligi rusaknya membuat balita 3 tahun itu menangis kesakitan tiap kali mengunyah makanan. Gitar beralih ke tangan Yeskiel. Tembang ‘Harus Berpisah’ mengalun dari mulutnya, menggantikan suara indah Cakra Khan. Energi membumbung memenuhi suaranya, menaik meluruh menggundahkan hati. Membuatku tersentak dan bertanya-tanya, ‘Apakah ini juga yang dirasakannya kini? Harus berpisah dari orang-orang yang dicintainya? Sebuah keterpaksaan yang kemudian membuahkan kepasrahan?’

Saat itu baru kusadar, rupanya dia buta. Hanya orang buta yang dapat mendendangkan musik dan lagu tanpa terpengaruh ada tidaknya cahaya. Kegelapan, boleh jadi, sama terangnya dengan taman kota buat mereka. Kemampuan meniadakan cahaya yang dilakukan si buta sungguh membuatku kagum. Setelah mereka ‘ditolak’ melihat secara indrawi oleh dunia, mereka masih mampu ‘melihat’ lewat mata batin.

Kelak kutahu dari salah satu ibu pengasuh panti, Yeskiel sudah mendiami panti sejak umur 16. Delapan tahun lalu. Aku terperangah dengan umurnya, dengan keterbatasan yang mengungkung kemampuannya, bakatnya. Aku memikirkannya. Bukan karena lagu ‘Harus Berpisah’ yang sedang jadi hit dan diputar berulangkali di stasiun-stasiun radio dan teve. Bukan. Tapi karena tahu di negeri ini, jika kau lahir cacat dan miskin, hanya tersedia sedikit pekerjaan untukmu, menjadi pengamen atau pengemis salah satunya. Dan aku tak suka melihat Yeskiel mengamen, apalagi mengemis.

Kubayangkan Yeskiel hidup di Siem Reap, kota pariwisatanya Kamboja. Mungkin dia akan sibuk bernyanyi dari satu kafe ke kafe lain. Suatu hari aku berjalan di tepi sungai yang membelah kota Angkor itu, lalu kubaca pengumuman di sebuah kafe. ‘Jika Anda bisa bermain musik, piano atau gitar, mainlah di kedai kami, menghibur para tamu’. Sebuah iklan pekerjaan yang dikemas mirip undangan. Andai Yeskiel ada di Siem Reap waktu itu, dia tentu sudah bermain di kafe itu, dan lembaran dolar demi dolar akan mengalir ke kantongnya.

Aku juga teringat seorang pengamen ‘terhormat’ di puncak bukit St Paul. Lelaki setengah baya bertubuh jangkung itu piawai mendendangkan lagu-lagu manca. Sesekali mulutnya meniupkan harmonika di antara dentingan gitarnya. Lalu para turis mengerubutinya, melemparkan ringgit demi ringgit sebagai penghormatan atas permainannya yang apik. Andai Yeskiel ada di Melaka, dia mungkin akan mencontoh pengamen mengagumkan itu. Namun Yeskiel hidup di Indonesia, di dalam kota berdebu bernama Surabaya, yang penduduknya masih menganggap orang cacat, termasuk buta, menjadi beban dan bukan manusia yang berdaya. Maka aku terus memikirkan anak lelaki itu.

Advertisements