Tags

Kalau engkau punya waktu luang, cobalah berjalan ke sudut-sudut kota, ke pasar-pasar tradisional yang agak kumuh, dan pasang mata lebar-lebar. Lihat sekeliling. Di sana mungkin akan kau temui lapak kecil agak rusuh, bertuliskan ‘Memperbaiki Sepatu’, atau ‘Tukang Reparasi Barang Elektronik’, bahkan juga ‘Reparasi Jam’ atau ‘Reparasi Kacamata’.

pah12_1_1

Mereka, pekerja itu, umumnya hanya berpendidikan setara sekolah menengah. Bekerja seperti itu karena tahu, sulit mendapatkan lapangan pekerjaan di perusahaan-perusahaan. Atau, tak ingin mengemis dan mengharap pekerjaan dari Tuan Besar dengan rasa terhina. Mereka sesungguhnya orang yang merdeka, bebas menentukan kapan waktu bekerja, tak bergantung pada gaji bulanan dan memiliki jiwa wirausaha yang liat. Kadang terlintas betapa para sarjana  pengangguran, harusnya malu kepada mereka. Karena tak terpikir dalam otak mereka untuk mengemis pekerjaan, atau mengirimkan puluhan atau ratusan surat lamaran pekerjaan.

Suatu hari kipas angin di kamarku rusak. Surabaya yang terik dan gerah membuat fan harus berputar nyaris 24 jam sehari selama empat tahun. Kurasa dinamonya kepanasan dan terbakar. Iseng fan kubawa bersama tetangga ke tukang reparasi elektronik di pasar kecil yang jaraknya satu km dari rumah. Si tukang reparasi masih muda, pembantunya lelaki setengah baya.

Lapaknya yang kecil di sudut pasar dipenuhi aneka rongsokan. Ada tape rusak, radio rusak, komputer rusak, kipas angin rusak, pemutar CD rusak. Barang-barang yang dikumpulkannya dari para pemulung. Belum lagi barang-barang rusak dari pelanggan seperti kipas anginku tadi. Kompor gas rusak, teve rusak, kulkas rusak, pompa air rusak. Sejenak melihat si fan, tahulah dia kerusakannya.

“Mesti mengganti semua mesinnya, Bu. Ongkos reparasinya tupuh puluh lima ribu. Mau tidak?”

Ya tentu mau. Kalau beli kipas angin baru model begitu, bisa lebih dua ratus ribu. Tak berapa lama dia pergi, sekitar sepuluh menit untuk membeli dinamo baru dan rumahnya, lalu segera memperbaiki fan. Setengah jam kemudian fan siap dibawa pulang.

Tak berapa lama datang seorang ibu membawa kompor gas yang macet tak mau menyala. Rupanya urusan kompor gas lebih pelik dari kipas angin. Setidaknya si tukang butuh satu jam untuk membersihkan dan mengujicoba kompor tadi. Lalu si ibu kena tagih tiga puluh lima ribu rupiah.

Kubayangkan jika dalam sehari ada sepuluh pelanggan datang, penghasilan si tukang bisa mencapai tiga ratus ribu. Sebulan? Sembilan juta, jika terus menerus dia membuka lapaknya. Belum lagi penghasilan dari usaha tukar tambah barang elektronik. Andai dia membayar pembantunya dua juta sebulan pun, dia masih mengantongi tujuh juta. Kurasa penghasilannya jauh lebih tinggi ketimbang orang kantoran atau pegawai negeri baru di kotaku. Pantas dia tak mau mengemis pekerjaan.

Memberdayakan orang yang mau berusaha seperti tukang reparasi elektronik, reparasi sepatu, tukang patri panci bocor, adalah cara efektif menekan pengangguran dan meningkatkan kemandirian. Cara ini juga efektif mengurangi sampah elektronik. Entah kalau engkau lebih suka membeli barang baru ala Orang Amerika sana, atau orang Timur Leste? Setahuku orang Thailand dan Kamboja amat kreatif memanfaatkan barang bekas seperti rongsokan logam dan elektronik ini. Ah, kapan-kapan akan kuceritakan sepak terjang para pemulung dua negara tetangga ini.

Salam mencegah sampah,

Advertisements