Tags

,

Dari Kisah yang Tercecer di Banda Kepulauan (1)

Kelelahan fisik kerap menimbulkan ketololan. Ketololan lalu mengundang tawa diri.  Dan tawa akan mencairkan kelelahan yang muncul. Begitulah, bagai lingkaran setan. Saling melelehkan Mirip yang kualami saat berjalan kaki dari ujung utara Desa Lonthoir menuju ujung Selatan Desa Salamun, bolak-balik sejak pukul enam tigapuluh pagi hingga enam petang.

sal1

di dermaga ini kunikmati bakwan mirip ‘indomie rasa baso sapi’

Sebetulnya, jarak kedua desa itu tak terlalu jauh. Dengan perahu motor paling hanya butuh waktu setengah jam menjangkaunya. Namun lewat sepasang kaki coklatku yang bersisik mirip pohon magnolia, aku butuh seharian. Mulanya aku melintasi dinding beton pembatas yang mencuat sepanjang Lonthoir hingga jelang Walang. Dinding mirip kanal yang langsung menghadang air laut agar tak menumpahi rumah-rumah penduduk.  Kemudian aku menerobos perkebunan pala, naik meninggi menuju hutan, menghindari terik matahari yang kelewatan. Lalu aku kembali turun ke perkampungan, jalan-jalan kecil di depan pantai, deret perkampungan, hutan lagi, deret perkampungan. Terus begitu, berulang-ulang.

Berkali kuberhenti, bercakap dengan orang-orang yang kujumpai. Dua perempuan yang mengupas buah pala untuk dibuat manisan, seorang di antaranya bekas pemandu selam. Lalu perempuan pengumpul kenari, guru SMP yang memecah kenari sambil momong anaknya di depan rumah, sepasang suami istri yang mengurus pembibitan pala, dan masih banyak lagi, banyak lagi.

sal2

undak-undakan di atas Desa Salamun

Aku juga mampir di sebuah bangunan tak jauh dari rumah Pongki, memandangnya bekerja dalam hening di kejauhan. Berkali aku singgah di warung-warung depan rumah, sekedar membeli es limun seribu segelas. Aku terus berjalan, menantang matahari yang panasnya bikin kepala nyut-nyutan. Di pulau kecil seperti Banda Besar ini, suhu udara di atas 33-34 derajad Celcius itu sudah biasa. Sudah risiko kalau kulitku menghitam dalam sekejap, mataku berkedap-kedip saking silaunya, atau langkahku gontai dialiri dehidrasi. Kurasa produk pemutih seperti Ponds, Nivea, dan anak turunnya tak laku di sini. Justru bedak dingin ala Sariphoatji boleh laris manis.

Sebetulnya sudah biasa bagiku berjalan belasan hingga puluhan kilometer sehari. Di kota atau desa, menghirup polusi atau bau amis ikan. Jadi pantang bagiku berhenti sebelum tercapai tujuanku hari itu, mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari orang-orang di sepanjang jalan. Kalau lapar menyerang, aku dapat memanggil anak-anak perempuan yang menyunggi tampah, yang mulutnya nyaring meneriakkan ‘Ubi.. pisang goreng.. kue.. kue.’ Rupanya di mana-mana sama saja, tak di Jawa, Madura, atau Banda, anak-anak ramai berjualan penganan untuk membantu orangtuanya. Memanjakan lidah para kembara macam diriku dengan penganan murah meriah. Sebuah kue dihargai seribu saja.

Sore itu kutinggalkan Salamun dengan undak-undakannya yang menjulang di bukit pulau. Kukantongi manisan pala basah pemberian Pak Akhmad yang diakuinya buatan Mama Jawa. Kumasuki hutan Renan dengan bergegas. Ada tiga gorengan bakwan dalam kresek tersimpan di tasku. Siap kusantap kapan saja. Air di botol plastikku tinggal separo. Kulirik arloji di tangan, sudah pukul tiga petang lebih. Namun mengapa sengatan surya makin panas menjadi? Aku terus berjalan, bergegas, dalam dendang ‘kukuruyuuuk’ perut yang keroncongan. Makanan terakhir kusantap pukul enam pagi tadi, berupa sepiring nasi goreng dengan lauk cuilan ikan seharga dua ribu. Tak ada lagi. Kulirik bakwanku, gatal ingin segera menyantap. Tapi tempat sungguh tak memungkinkan. Tiba-tiba dari arah hutan perkebunan pala kulihat sebuah tulisan di atas baliho kain yang jauh di ujung, ‘Indomie Rasa Baso Sapi.”

indomie baso sapi_1_1

Aku melonjak girang. Ada warung di depan, ada warung. Hanya beberapa ratus meter lagi. Kupacu langkahku kencang-kencang, sambil membayangkan semangkuk indomie pedas dalam kepala. Mendadak air liurku melimpah di mulut. Alat pencernakanku sudah bereaksi cepat. Maka 10m, 8m, 5m, hingga 3 meter aku berjalan menuju warung. Namun mengapa warung itu dekat pos polisi? Mungkinkah berada di samping pos polisi? Aku terus maju sambil mendongakkan kepala, membaca spanduk tadi. Olala.. tulisannya berubah menjadi “Polisi Sahabat Kita.” Bagaimana mungkin? Kukucek-kucek mataku beberapa kali, tulisan tak berubah. Antara putus asa dan tertawa aku melangkah gontai. Menuju sebuah dermaga kecil di depan pos polisi. Kubuka kresek berisi bakwan goreng. Kukunyah perlahan-lahan. Kubayangkan bakwan ini adalah indomie rasa baso yang pedas. Tanpa kuah, tentunya. Lagi-lagi aku menipu pikiranku.

Advertisements