Tags

, , , , , , ,

Kalau ingin melihat sisi lain pulau dewata, datanglah ke Munduk. Begitu nasihat seorang kawan. Munduk, apa itu? Daerah Bali bagian mana? Apa kehebatannya? Pertanyaan beruntun itu muncul di kepala saya. Bali dalam benak saya adalah Kuta, Sanur, Ubud, Bedugul, Candi Dasa, dan nama-nama tempat yang biasa muncul dalam brosur wisata. Tapi Munduk?

Rasa penasaran menuntun saya sambang Munduk. Kebetulan ada kawan semasa kuliah di UGM tinggal di sana. Saya harus mengambil bus jurusan Singaraja dari Gilimanuk, lalu turun di pertigaan Seririt. Sampai di Seririt, Putu kawan saya sudah menunggu dengan mobilnya dan membawa saya berkendara menempuh 20 km menuju kawasan Munduk.

munduk5Saya mulai terpesona pada pemandangan sepanjang jalan mulus beraspal yang mendaki, melingkar-lingkar, menuju puncak bukit. Hawa dingin menampar-nampar muka saya,  menembus jendela mobil yang sebagian terbuka kacanya. Mobil melalui daerah pedesaan khas pegunungan.  Rumah penduduk berjajar di kanan kiri jalan, berselingan dengan pura-pura dan kebun.  Tak terlihat satu pun penginapan. Setiap kali memasuki banjar atau dusun dan desa baru, deretan penjor mencuat di tepi jalan. Kebetulan saat itu masih  perayaan Kuningan.

Sesekali kami berpapasan dengan pejalan kaki yang mengenakan pakaian adat Bali.  Pada bagian jalan yang kosong tampak lereng pegunungan yang  menghijau. Mirip kebun penduduk. Empat puluh menit kemudian, barulah mobil  memasuki Desa Munduk . Wajah satu dua penginapan sederhana, atau toko cenderamata mulai menghiasi pinggir jalan.

Dari Kopi hingga Air Terjun

Di awal 1980-an Munduk sama sekali tak dikenal. Baru awal 1990-an, wisata wilayah yang masuk Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng ini mulai dikembangkan. Perintisnya Nyoman Bagiarta, bekas kepala Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata di Denpasar.

“Pada waktu itu banyak petani di sini yang pergi ke selatan untuk bekerja di sektor wisata. Sedang petani di Bali selatan banyak kehilangan lahan pertaniannya guna diubah menjadi tempat wisata,” kata lelaki yang menjabat sebagai manajer Puri Lumbung ini.

munduk3Nyoman lalu mengembangkan wisata yang lain khas utara Bali. Menjual pemandangan alam pegunungan dan tradisi masyarakat setempat, sehingga tak perlu menggur petani. Petani justru bisa menjual pemandangan sawah dan kebunnya, membuka penginapan di lahannya, dan menjual produk pertaniannya kepada wisatawan. Petani pun tak perlu mengubah gaya hidupnya kala daerahnya menjadi tempat wisata. Dia justru dapat menunjukkan tradisi leluhurnya kepada tamu yang datang, entah itu gamelan, upacara, atau kerajinan yang mereka buat. Sejak itu, setapak demi setapak Munduk mulai dikenal sebagai daerah wisata alam berwawasan ekologis, karena tidak berniat merusak lingkungan..

Hari pertama di Munduk, saya menikmati kebun-kebun kopi yang menghampar di sekitar rumah penduduk dan dua hotel berbintang, Puri Lumbung dan Taman Puri. Biji kopi jenis arabica berwarna merah itu sungguh menggoda. Ada juga kebun kopi luwak. Di kebun ini sengaja dipelihara belasan ekor luwak untuk memakan buah kopi di pohon. Setiap pagi satu dua pekerja akan mengumpulkan kotoran luak yang berupa biji-biji kopi untuk dibersihkan, dijemur, lalu digoreng.

Ketika musim panen kopi, dengan mudah kita melihat orang memetik biji kopi, merendamnya dalam sebuah koli plastik untuk difermentasi, menjemur, dan menggorengnya. Sekali saya menyaksikan proses penggorengan kopi di sebuah rumah bambu sederhana di bawah Taman Puri. Usai digoreng dalam mesin berkapasitas 10 kg itu, kopi ditaburkan di atas semacam tikar, dan ditaburi gula. Setelah mendingin, sebagian biji kopi ditumbuk, sebagian dibiarkan dalam bentuk biji dan dimasukkan ke dalam kemasan khusus.

Bosan mengelilingi kebun kopi, saya berjalan di sekitar kebun cengkeh penduduk. Di hamparan hutan dan kebun-kebun cengkeh ini, tersembunyi tujuh air terjun. Air terjun terbesar, yang dekat dengan jalan raya, dan paling sering dikunjungi wisatawan adalah Air Terjun Melanting. Tinggi air terjun ini sekitar 100 meter, sangat deras. Jauh di bawah air terjun ini masih bisa ditemukan air terjun kembar. Namun, letaknya yang menjorok ke dalam dan medannya yang terjal, membuat sedikit wisatawan yang mau bersusah-payah mengunjunginya.

Kalau suka treking, kita bisa berjalan kaki menuju Danau Tamblingan. Jaraknya sekitar 6 km dari Dusun Beji. Danau ini sangat magis, sunyi, tak ada motor yang mengusik. Hanya satu dua pemancing dan rakit dari bambu sekali sekala hilir mudik dari satu dusun ke dusun lain.

Tamblingan berasal dari kata tamba alias obat, dan elingan atau ingat. Dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul dikisahkan, di masa lalu masyarakat sekitar danau pernah terserang wabah penyakit. Lalu seorang sakti turun ke danau kecil di bawah desa untuk mengambil airnya, memantrainya, dan menggunakannya sebagai obat. Air suci tersebut akhirnya menyembuhkan masyarakat desa yang terkena wabah. Sejak saat itu, Danau Tamblingan dianggap sakral.

Ada belasan pura di sekitar Danau Tamblingan. Yang sempat saya kunjungi, Pura Ulun Danu Tamblingan yang terletak beberapa meter dari permukaan danau. Pura ini sungguh terawat walau berada 700 meter di bawah jalan beraspal. Karena percaya danau ini tempat yang sakral dan dikelilingi banyak pura, maka Danau Tamblingan kemudian tidak dikembangkan sebagai obyek wisata yang komersil seperti Danau Bratan atau Danau Batur. Masyarakat keempat desa adat sekitar danau ini selalu menolak tiap kali pemerintah daerah mengajukan rancangan pembangunan wisata di daerah ini.

Urusan perut, saya tak perlu gusar. Ada restoran Don Biyu yang menyediakan aneka makanan khas bali. Ayam betutu dan yoghurt rasa strowberinya enak. Apalagi pis kopyornya, bikin klenger.

Selama di Munduk, nyaris tak saya jumpai wisatawan lokal. Umumnya tamu yang datang orang asing, entah dari Prancis, Italia, atau Jerman. “Mayoritas wisatawan di sini memang orang Eropa,” kata Putu.

Pantas saja, Munduk kan berada pada ketinggian 800-900 meter, sehingga berhawa nyaman mirip di benua Eropa. Pemusik terkenal seperti David Bowie dan istrinya, Iman, pernah datang ke Munduk, Munduk juga menarik banyak seniman untuk menyepi dan berkreasi. Diantaranya pelukis Eddie Hara, perupa Mella Jarsma, Teguh Ostentrik, dan masih banyak lagi.

Pesona Tire dan Gamelan Kebyar

Di Munduk saya sempat bersua pembuat  tire dan kdape, Nengah Rusni namanya. Tire adalah kain yang digunakan sebagai hiasan upacara pernikahan. Panjangnya mencapai empat meter, berisi gambar –bisa wayang, bunga, pepohonan- yang merupakan jalinan kisah mirip mitos Bali. Sebagian gambar disulam, sebagian dibentuk dari semacam manik, hiasan, yang ditempelkan dengan jahitan benang. Kdape mirip tire, hanya kain yang digunakan dari jenis beludru dan gambar yang ditempel tidak disulam, tapi dilem dan dijahit biasa. Dalam ruang pengantin, tire diletakkan di bagian atas dinding, sedang kdape di bawahnya.

Kerajinan membuat tire dan kdape umumnya diwariskan secara turun temurun. Rusni mewarisi ketrampilan ibunya. Dia mulai menyulam tire sejak duduk di sekolah dasar. “Sekarang anak bungsu saya yang  tertarik membuat tire dan menjahit kebaya,” ujar ibu tiga anak ini.

munduk1Tak banyak penjahit tire dan kdape di Bali. Selain pesanan tak banyak, perajin kain jenis ini membutuhkan ketekunan dan kesabaran ekstra. Dalam satu desa adat, paling hanya bisa ditemukan satu dua orang orang perajin tire. Butuh waktu sekitar sebulan bagi Rusni  untuk mengerjakan tire. Dia akan menyulam seharian, diselingi pekerjaan sehari-hari seperti memasak dan membersihkan rumah. Dia menyulam tire berdasarkan pesanan. Yang memesan, tentu saja orang yang hendak punya hajat kawin atau turis asing yang berhasrat mengoleksi kain-kain tradisional Bali.

Harga selembar tire paling murah empat juta rupiah. Sedang harga selembar tirepun –tire bermotif bunga- bisa mencapai enam juta rupiah, jika disulam menggunakan benang emas. Umumnya pembuat tire meminta jasa orang lain untuk menggambar motif dengan upah berkisar Rp500.000 untuk selembar kain sepanjang empat meter. Selain membuat tire, Rusni juga penjahit kebaya yang handal.

Munduk juga memiliki seniman gamelan kebyar yang mendunia. Made Terip namanya. Lewat ketrampilannya bermain gamelan yang dipelajarinya secara otodidak, dia mampu melawat ke penjuru dunia bersama misi kebudayaan Bali. Negara seperti Italia, Prancis, Amerika, Australia, dan beberapa negara Asia pernah ditengoknya. Walau pendidikan formalnya setara SMP, dia pernah diminta mengajar gamelan di Universitas Strasbourg sepanjang 1999-2002. Dia juga diminta melatih Gamelan Sekar Jaya di California tahun 2004.

Peraih penghargaan nasional seperti Seni Wija Kusuma pada 1985 dari Bupati Buleleng dan penghargaan Seni Dharna Kusuma dari Gubernur Bali tahun 1987 ini juga piawai mengaransemen musik kontemporer. Pentas bersama dengan musisi nasional seperti Dwiki Dharmawan, atau sastrawan Gunawan Muhammad di Amerika pun bukan hal baru buatnya.

Saya sempat mengunjungi sanggarnya, Tripittaka,  suatu siang. Lewat sanggar yang dipenuhi aneka jenis gamelan, baik berbahan logam maupun bambu, Made Terip mendidik kaum muda desanya untuk melestarikan gamelan. “Di sini, pekerjaan seni itu 75 prosen kegiatan sosial, sehingga saya memerlukan sanggar untuk regenerasi,” kata lelaki kelahiran 31 Desember 1953 ini..

Kalau Anda ke Munduk, dan tertarik belajar gamelan kebyar, bisa berguru kepada Made Terip. Banyak juga muridnya, baik remaja desanya maupun orang asing yang sengaja datang untuk belajar gamelan kepadanya.

Pada malam tertentu, pemain gamelan dari Sanggar Tripittaka akan mengisi acara di hotel berbintang. Kalau gamelan kebyar mengalun, keheningan Munduk pun pecah dalam alunan sakral dan menenangkan. Hiburan malam macam diskotik dan pub dilarang dibangun di desa ini. Bahkan pertunjukan dangdut pun tak ada. Hal ini memang disengaja pemuka adat desa. Tak ingin Munduk tercemar. “Ada rencana mendatangkan Iwan Fals, lalu nanti akan kolaborasi dengan gamelan setempat,” tutur Putu. Asyik juga, pikir saya. (dimuat di majalah Sekar edisi November, tahun 2012)

Advertisements